Angin malam berhembus kencang di istana megah yang berdiri di tengah kerajaan yang terkenal dan disegani. Tab, sang pangeran muda, berdiri di jendela kamar pribadinya, menatap hamparan tanah kerajaan yang luas di bawah. Lampu-lampu yang bersinar dari berbagai penjuru istana menciptakan bayangan panjang di dinding batu yang tebal, sementara suara sibuknya para penjaga yang berkeliling semakin jauh terdengar.
Bagi rakyat dan para penguasa kerajaan tetangga, nama kerajaan ini adalah simbol kekuatan dan kehormatan. Sang raja, ayah Tab, dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, namun juga sangat tegas—sosok yang dipuja dan ditakuti. Semua orang mengharapkan Tab untuk mengikuti jejak ayahnya dan menjadi penerus tahta. Namun, bagi Tab, takdir itu terasa seperti belenggu.
Ia bukanlah tipe orang yang ingin terperangkap dalam kehidupan yang penuh aturan dan politik istana. Sejak kecil, Tab sudah merasa seperti boneka dalam permainan besar. Semua harapan dan impian orang lain digantungkan padanya, dan meskipun ia tahu bahwa kerajaan ini membutuhkan pemimpin yang kuat, hatinya tak pernah merasa terpanggil untuk menjadi seorang raja.
"Apa artinya menjadi raja, jika aku tidak bisa menjadi diriku sendiri?" gumamnya dengan suara serak, seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
Malam itu, Tab memutuskan bahwa ia tidak akan lagi terjebak dalam takdir yang dipaksakan. Ia ingin menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar penerus tahta yang sudah ditentukan. Ia ingin menjadi seorang petualang legenda, dikenal di seluruh dunia sebagai orang yang tidak terikat oleh ketentuan apapun—seseorang yang berani mengambil langkah berani, mencari arti hidup dalam setiap petualangan yang ditempuhnya.
Dengan tekad yang bulat, Tab menyelinap keluar dari kamarnya, menghindari para pengawal yang berjaga di sepanjang lorong istana. Dengan hanya membawa sedikit barang dan pakaian sederhana, ia menyusun rencana untuk melarikan diri ke dunia luar. Tab tahu, langkah ini tidak akan mudah. Ayahnya pasti akan mengirimkan pasukan untuk mencarikannya. Namun, ia tidak peduli lagi.
Ia tahu, jika ia tetap tinggal di istana, ia akan selamanya terperangkap dalam bayang-bayang kerajaan yang dihormati oleh banyak pihak. Ia ingin menemukan sesuatu yang lebih—sesuatu yang lebih besar dari tahta dan lebih abadi dari warisan kekuasaannya.
Saat pagi menjelang, Tab sudah jauh dari istana. Ia menyusuri jalan-jalan sepi, menuju tempat yang tak terjangkau oleh mata-mata istana. Keinginannya bukanlah untuk melarikan diri dari kerajaan, melainkan untuk menemukan dirinya sendiri. Untuk menjadi legenda yang dikenal oleh dunia, dan mengenal kehidupan yang penuh petualangan yang sesungguhnya.