Beberapa bulan berlalu sejak Anggia dan Raka memutuskan untuk memulai lembaran baru bersama. Hubungan mereka berangsur membaik, dipenuhi kejujuran dan saling pengertian. Meski ada saat-saat sulit di mana kenangan masa lalu muncul, mereka berhasil melewatinya dengan saling mendukung. Namun, seperti layaknya ujian dalam sebuah hubungan, ketenangan mereka kali ini kembali terguncang oleh sesuatu yang tak terduga.
Suatu sore, ketika Anggia sedang menunggu Raka di sebuah kafe kecil, teleponnya berdering. Nama yang muncul di layar membuatnya terkejut—Anton. Meski mereka tak lagi saling bertukar kabar setelah pembicaraan panjang yang menguak masa lalu Citra, tiba-tiba Anton menghubunginya.
“Anggia, ada sesuatu yang perlu kamu ketahui,” kata Anton dengan nada serius setelah Anggia mengangkat panggilan. “Ini tentang Raka… aku tidak tahu apakah kamu sudah mendengarnya, tapi akhir-akhir ini ada isu yang beredar tentang dirinya.”
Anggia terdiam, rasa cemas muncul tiba-tiba. “Isu? Apa maksudmu, Anton?”
“Aku tidak ingin membahasnya lewat telepon. Bisa kita bertemu di tempat biasa? Ini penting.”
Anggia merasa perasaannya kacau. Meski ia ragu untuk bertemu Anton lagi, instingnya mengatakan bahwa ini adalah sesuatu yang serius dan mungkin memengaruhi hubungannya dengan Raka. Dengan sedikit keraguan, Anggia setuju untuk bertemu Anton.Ketika mereka bertemu di kafe, Anton langsung memulai pembicaraan tanpa basa-basi. Ekspresinya menunjukkan kekhawatiran yang tak biasa.
“Anggia, kamu pasti tahu kalau Raka dan Citra dulu sangat dekat, bahkan mendirikan yayasan bersama,” kata Anton membuka percakapan.
Anggia mengangguk pelan, mencoba memahami arah pembicaraan ini.
“Beberapa waktu lalu, yayasan itu mengalami masalah keuangan yang cukup serius. Aku baru mengetahuinya karena seorang teman lama menghubungiku. Mereka bilang ada dugaan penggelapan dana di yayasan itu. Awalnya, aku tidak percaya bahwa Raka bisa melakukan hal semacam itu, tapi sekarang ada beberapa orang yang mengatakan hal-hal buruk tentang dirinya.”
Hati Anggia terasa bergetar mendengar kata-kata Anton. “Penggelapan dana? Maksudmu, Raka terlibat dalam hal ini?”
Anton menatapnya dalam-dalam, tampak ragu namun tegas. “Aku tidak tahu pasti, tapi laporan-laporan keuangan yang ditemukan memang menunjukkan adanya penyimpangan. Aku berharap semua ini hanya kesalahpahaman, tapi aku merasa kamu perlu tahu.”
Anggia terdiam lama. Kenyataan ini sungguh tak pernah ia bayangkan. Setelah semua upaya mereka untuk saling menerima dan melupakan masa lalu, apakah kini hubungan mereka kembali diuji oleh masa lalu Raka yang lain?
“Aku tidak bisa percaya begitu saja, Anton,” kata Anggia akhirnya, mencoba meredam emosinya. “Raka tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Aku tahu dia, dan dia bukan orang seperti itu.”
Anton menghela napas, tampak sedikit kecewa namun memahami. “Aku tahu kamu mencintainya, Anggia. Aku hanya berharap kamu tetap waspada. Jika semua ini tidak benar, maka aku pun akan mendukungnya. Tapi jika benar, maka kamu harus siap menghadapi kenyataan yang mungkin tidak sesuai harapan.”
Setelah pertemuan itu, Anggia merasa pikirannya semakin kalut. Meski ia ingin mengabaikan kekhawatiran itu, hatinya dipenuhi rasa takut bahwa mungkin ada sesuatu yang disembunyikan Raka lagi darinya. Dalam kebingungan, ia memutuskan untuk menemui Raka dan mengajaknya bicara secara langsung, berharap bisa mendapatkan kejelasan.
Malam itu, ketika mereka bertemu di taman, Anggia memutuskan untuk langsung mengungkapkan kecemasannya.
“Mas, ada sesuatu yang aku dengar tentang yayasan yang pernah kamu kelola bersama Citra,” kata Anggia dengan nada hati-hati.
Raka terdiam sejenak, tampak terkejut dengan pertanyaan itu. “Apa yang kamu dengar, Gi?”
“Aku mendengar ada dugaan penggelapan dana di yayasan itu, dan aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi,” jawab Anggia, mencoba mengontrol nada suaranya meski ia merasa gugup.
Raka menarik napas panjang, menatap Anggia dengan tatapan yang serius namun penuh kelembutan. “Gi, aku tahu ada isu yang beredar tentang itu. Yayasan itu memang pernah mengalami masalah keuangan, tapi aku tidak pernah terlibat dalam hal-hal yang melanggar hukum.”
Anggia menatap Raka, mencoba menemukan kejujuran dalam tatapannya. “Tapi bagaimana semua ini bisa terjadi, Mas? Anton bilang ada bukti-bukti yang menunjukkan adanya penyimpangan.”
Raka mengangguk pelan. “Benar, ada beberapa laporan yang mencurigakan. Setelah Citra meninggal, yayasan itu sempat dikelola oleh beberapa orang yang mungkin memiliki niat yang tidak baik. Aku sudah mencoba untuk menyelidiki dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi itu bukan hal yang mudah. Banyak yang menyalahkanku karena aku adalah pendiri yayasan itu bersama Citra.”
Anggia merasa sedikit lega mendengar penjelasan Raka, namun masih ada perasaan cemas di hatinya. “Jadi, kamu benar-benar tidak terlibat dalam hal ini?”
Raka menatapnya dengan tatapan penuh keyakinan. “Aku tidak akan pernah melakukan hal itu, Gi. Citra dan aku mendirikan yayasan itu untuk membantu orang-orang, dan aku tidak akan pernah mencemarkan nama baiknya. Aku berjanji padamu, aku akan menyelesaikan semua ini dan membersihkan namaku.”
Anggia mengangguk, mencoba mempercayai kata-kata Raka. Namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa masalah ini mungkin tidak akan selesai dengan mudah. Ia harus bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi.
Beberapa minggu berikutnya, situasi semakin rumit. Raka menghadapi banyak tuduhan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan, dan tekanan yang ia rasakan semakin berat. Anggia tetap berada di sisinya, mencoba menjadi pendukung terbaik yang bisa ia berikan, namun ia bisa merasakan bahwa Raka semakin tertutup.
Salah satu malam yang penuh ketegangan, Raka tiba-tiba menghubungi Anggia dan memintanya untuk bertemu di rumahnya. Anggia merasa cemas namun setuju. Ketika ia tiba di rumah Raka, ia melihat wajahnya yang terlihat lelah dan penuh tekanan.
“Anggia, aku rasa… mungkin kita perlu mengambil waktu sejenak,” kata Raka dengan suara pelan, nyaris berbisik.
Anggia merasa dadanya sesak mendengar kata-kata itu. “Apa maksudmu, Mas? Mengapa kita perlu mengambil waktu sejenak?”
Raka menundukkan kepala, tampak bingung dan terluka. “Aku tidak ingin menyeretmu dalam masalah ini. Aku tidak ingin kamu terus merasa cemas dan terbebani. Mungkin lebih baik jika aku menyelesaikan semua ini sendiri, tanpa melibatkanmu.”
Anggia menggelengkan kepala, merasa emosi membanjiri dirinya. “Mas, kita sudah melalui begitu banyak hal bersama. Aku ingin mendukungmu, aku ingin ada di sini untukmu. Mengapa kamu ingin aku pergi?”
Raka menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan. “Gi, ini bukan tentang kita. Ini tentang tanggung jawab yang harus aku selesaikan. Aku tidak ingin melihatmu terluka lebih dalam lagi. Biarkan aku menyelesaikan semua ini sendiri.”
Anggia merasa air mata mulai menggenang di matanya. Ia mencintai Raka, dan perasaannya ingin tetap ada di sisinya. Namun, ia juga tahu bahwa Raka mungkin membutuhkan ruang untuk menghadapi masalah ini dengan caranya sendiri.
“Aku mengerti, Mas,” kata Anggia dengan suara lirih. “Jika ini yang kamu butuhkan, aku akan menghargainya. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku selalu ada untukmu, kapan pun kamu siap untuk berbagi beban ini.”
Raka mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Gi. Kamu adalah hal terbaik yang pernah ada dalam hidupku. Aku berjanji akan kembali setelah semua ini selesai.”