Sabtu pagi, Evania menemukan sebuah amplop di meja ruang tengah. Undangan yang dialamatkan kepada keluarganya telah diantar ke rumah Jakarta sehari sebelumnya. Evania baru mengambilnya dari meja ruang tengah pagi ini. Nama Gio dan Junita tercetak rapi di bagian depan. Ia tidak langsung membukanya. Selama beberapa menit, ia hanya berdiri memandangi tulisan itu.
Mila yang sedang berkunjung melihat amplop tersebut. “Sudah datang?”
Evania mengangguk. “Iya. Undangan resmi.”
“Kamu mau buka sekarang atau nanti?”
Evania menarik napas dan duduk. “Sekarang saja. Menunda tidak akan mengubah isinya.”
Ia membuka amplop dengan hati-hati. Pernikahan itu akan berlangsung beberapa pekan lagi. Tanggal dan lokasi tercantum lengkap. Undangan itu ditujukan kepada keluarganya, bukan hanya dirinya.
Mila memperhatikan wajahnya. “Apa yang kamu rasakan?”
“Sedih, sedikit marah, tapi juga tidak terlalu terkejut. Mereka benar-benar akan menikah.”
“Dan kamu mau datang?”
Evania melipat undangan. “Aku belum tahu. Dulu aku ingin membawa pacar supaya mereka lihat aku sudah punya seseorang. Sekarang aku tidak mau melakukan itu. Kalau aku datang, aku ingin datang karena memang siap bertemu mereka, bukan karena ingin melihat reaksi mereka.”
Mila mengangguk. “Kamu boleh memutuskan nanti. Undangan bukan surat panggilan.”
Evania menghubungi ibunya di Bali. Ia mengatakan undangan telah sampai dan ia belum memutuskan. Ibunya tidak memaksanya. “Kalau kamu merasa lebih tenang tidak datang, kami akan mengerti. Kalau kamu ingin datang, kami juga mendukung. Yang penting kamu tidak mengorbankan dirimu demi membuktikan sesuatu.”
***
Senin malam, Evania membaca undangan sekali lagi. Ia sudah berbicara dengan Mila dan orangtuanya, tetapi jawaban akhirnya tetap harus datang dari dirinya. Ia membayangkan tidak hadir dan menyadari bahwa ketidakhadiran itu mungkin akan membuatnya bertanya-tanya. Ia membayangkan hadir dan menyapa seperlunya, lalu pulang. Pilihan kedua terasa lebih dekat dengan keinginannya.
Ia mengirim pesan kepada ibunya bahwa ia memutuskan hadir. Ia tidak meminta keluarga ikut datang dari Bali; mereka sudah memiliki urusan sendiri dan Evania ingin mengatur perjalanannya secara mandiri. Ibunya membalas mendukung dan mengingatkan agar ia menjaga waktu pulang.
Selanjutnya, Evania menghubungi Edward. “Aku memutuskan hadir. Aku ingin datang karena ingin menutup bagian ini dengan tenang, bukan untuk membuat Gio atau Junita bereaksi. Kalau kamu bersedia, aku ingin kamu mendampingi sebagai pasanganku.”
Edward membalas setelah beberapa menit. “Aku bersedia. Terima kasih sudah mengajakku. Kita bisa menyusun rencana supaya kamu nyaman, dan kamu tetap bisa mengubah keputusan kalau nanti perasaanmu berubah.”
Evania menghargai bahwa ia tidak menganggap undangan itu kesempatan untuk tampil. Mereka membicarakan batas: datang bersama, menyapa seperlunya, tidak menanggapi pancingan, dan pulang kapan pun Evania merasa cukup. Edward tidak meminta Evania berjanji akan bertahan sampai acara selesai.
Mila menerima kabar itu lewat telepon. “Kamu yakin ini pilihanmu sendiri?”
“Iya. Aku tidak ingin membawa Edward untuk pamer. Aku ingin datang sebagai diriku sendiri dan melihat bagaimana rasanya.”
“Kalau begitu, aku mendukung. Aku bisa jadi kontak darurat kalau kamu butuh alasan pulang.”
“Aku tidak butuh alasan palsu. Aku bisa bilang ingin pulang.”
“Benar juga. Kamu sudah dewasa.” Mila menghela napas pura-pura sedih. “Temanku tumbuh.”
Evania tertawa. Ia merasa lebih siap, meski masih ada kecemasan. Ia memilih pakaian sederhana yang nyaman, bukan sesuatu yang dirancang untuk menarik perhatian. Mereka sepakat berangkat dengan kendaraan daring masing-masing, bertemu di lokasi, lalu memilih kendaraan pulang bersama bila Evania masih nyaman.
Edward mengatakan ia akan mengenakan pakaian formal sederhana dan tidak membawa hadiah yang mencolok. Mereka sepakat tidak memberi tahu teman lama lebih dulu bahwa mereka datang bersama. Bukan karena menyembunyikan hubungan, tetapi karena tidak ingin kedatangan mereka menjadi pertunjukan.
Malam itu, Evania menyimpan undangan di laci. Keputusan telah dibuat, tetapi ia tahu ia tetap punya hak berubah pikiran. Ia tidur dengan rasa gugup yang wajar, bukan karena sedang mempersiapkan balas dendam, melainkan karena akan memasuki ruang yang membawa banyak kenangan.
***
Beberapa pekan kemudian, hari pernikahan tiba pada Sabtu siang. Evania bertemu Edward di dekat lokasi acara sesuai rencana. Ia mengenakan pakaian rapi berwarna lembut, sementara Edward memakai setelan sederhana. Mereka tidak bergandengan tangan sejak awal, tetapi Edward bertanya apakah Evania nyaman berjalan masuk bersama.
“Iya,” jawab Evania. “Kalau nanti aku ingin sendiri sebentar, aku akan bilang.”
“Baik.”
Di dalam, beberapa teman lama mengenali mereka. Ada yang menyapa Evania dengan senyum canggung. Evania membalas sopan dan tidak menjelaskan hubungannya dengan Edward kecuali ditanya langsung. Saat seorang teman bertanya apakah Edward pacarnya, Evania menjawab, “Iya, kami sedang berkencan.” Edward tidak menambahkan klaim lain.
Gio dan Junita berdiri dekat pelaminan menyambut tamu. Ketika giliran mereka, Evania memberi salam dan mengucapkan selamat. Gio tampak terkejut, tetapi ia membalas dengan sopan. Junita tersenyum tipis dan memandang Edward.
“Kamu datang juga,” katanya kepada Evania.
“Iya. Selamat atas pernikahan kalian.”
Junita sempat seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi Evania tidak membuka ruang untuk percakapan panjang. Ia menyalami mereka seperlunya, lalu bergerak pergi bersama Edward.
Mereka memilih tempat duduk yang tidak terlalu dekat dengan keluarga inti. Edward bertanya apakah Evania ingin mengambil minuman. Ia mengangguk. Sambil menunggu, seorang kenalan lama mendekat dan bertanya apakah Evania datang untuk menunjukkan bahwa ia sudah punya pacar baru.
Evania menatapnya tenang. “Aku datang karena memilih hadir. Edward menemaniku karena kami memang sedang berkencan. Tidak ada pesan untuk siapa pun.”
Kenalan itu tampak kehilangan bahan candaan. “Oh. Ya, selamat kalau begitu.”
Edward tidak menyela atau membalas dengan sindiran. Setelah orang itu pergi, ia bertanya apakah Evania ingin pulang.
“Belum. Aku ingin duduk sebentar. Aku merasa cukup baik.”
Mereka makan dan berbincang ringan. Evania sempat melihat Gio dari jauh, tetapi ia tidak lagi mencari apakah lelaki itu memperhatikannya. Ia mengobrol dengan Mila melalui pesan dan menerima foto lucu yang dikirim temannya. Ketegangan perlahan turun.
Ketika musik mulai dan tamu bergerak ke area tengah, Evania tidak merasa perlu ikut hanya untuk membuktikan ia bersenang-senang. Ia dan Edward duduk, saling berbagi cerita tentang makanan yang terlalu manis dan dekorasi yang memenuhi setiap sudut.
“Acara keluarga memang punya kemampuan membuat bunga terlihat lebih penting daripada jadwal,” kata Edward.
“Jangan bilang itu ke Melly. Beliau mungkin akan mulai mengirim katalog.”
Edward tertawa. “Aku akan menyembunyikan katalog itu.”
Mereka bertahan cukup lama untuk menyampaikan salam dan menikmati hidangan, lalu Evania berkata ia ingin pulang. Edward mengangguk tanpa mencoba membujuknya. Mereka berpamitan kepada tuan rumah dan meninggalkan acara bersama, tanpa menunggu siapa pun melihat mereka keluar.
***
Di taksi daring yang mereka pesan untuk pulang, Evania duduk diam mendengarkan radio yang dinyalakan pengemudi. Ia menarik napas dan merasakan bahunya perlahan mengendur. Edward tidak bertanya apakah ia menang atau puas. Ia hanya menunggu sampai Evania siap bicara.
“Aku kira aku akan merasa lebih puas kalau Junita melihatku datang dengan pacar,” kata Evania akhirnya. “Tapi ternyata yang membuatku lega adalah aku bisa menyapa mereka, lalu pergi saat sudah cukup.”
Edward mengangguk. “Kamu datang sesuai alasanmu sendiri.”
“Aku sempat melihat Gio, tapi aku tidak menunggu dia memperhatikan. Aku juga tidak ingin tahu apa yang dia pikirkan setelah melihat kita.”
“Itu terdengar seperti keputusanmu benar-benar milikmu.”
Evania menatapnya. “Terima kasih sudah mendampingi tanpa menjadikan dirimu bagian dari pertunjukan.”
“Aku datang karena kamu mengajakku sebagai pasangan. Aku tidak datang untuk membuat siapa pun menyesal.”
Mereka pulang dengan suasana tenang. Di perjalanan, Evania menceritakan bahwa salah satu teman bertanya apakah ia sengaja datang untuk pamer. Ia menjawab tidak, dan percakapan berhenti di sana.
“Bagaimana rasanya?” tanya Edward.
“Awalnya ingin membalas dengan kalimat tajam. Tapi aku tidak merasa perlu. Aku tahu kenapa aku datang.”
“Kadang jawaban paling kuat memang yang cukup jelas, lalu selesai.”
Evania tersenyum. “Kamu terdengar seperti Toby.”
“Dia akan menagih kopi kalau tahu aku mengulang nasihatnya.”
Sesampainya di rumah, Evania mengirim pesan kepada Mila bahwa ia sudah pulang dan baik-baik saja. Mila membalas, “Bangga padamu. Sekarang tidur dan jangan analisis foto acara.” Evania tertawa dan berjanji tidak akan mencari unggahan orang lain.
Edward mengirim pesan setelah tiba di rumahnya. Ia berterima kasih karena Evania mengajaknya dan berkata ia senang bisa mendukung pilihan Evania. Ia tidak bertanya kapan mereka akan menikah atau bagaimana acara itu akan memengaruhi hubungan mereka.
Evania membalas bahwa ia juga senang Edward ada di sana. Setelah itu, ia meletakkan ponsel dan mengganti pakaian. Ia merasa lelah, tetapi bukan lelah yang sama seperti dulu. Ia tidak menghabiskan hari dengan membandingkan diri atau mengukur reaksi orang lain.
Sebelum tidur, ia memikirkan ungkapan yang sempat terlintas ketika ia ingin meninggalkan masa lalu: mencintai seolah kesempatan pertama. Bukan berarti melupakan pengalaman lama atau pura-pura tidak pernah disakiti. Artinya ia dan Edward sedang belajar memilih tindakan yang tidak mengulang luka yang sama. Hari itu, ia hadir tanpa menjadikan Edward alat balas dendam, dan Edward mendampinginya tanpa meminta pengakuan dari Susan atau mantannya.
Masa lalu masih ada, tetapi malam itu ia tidak lagi menjadi pusat. Evania mematikan lampu dan membiarkan hari berakhir dengan tenang.