Sariah Vance memburu kebenaran seperti elang memburu mangsa: dari ketinggian, sabar, dan tanpa ampun. Dan kebenaran yang paling menariknya bukanlah kerajaan perak Morrow. Itu adalah lelaki bermata kelabu yang tak punya nama.
"Kau tahu apa yang ganjil tentangmu?" katanya pada Senja suatu malam, di pinggir api unggun di reruntuhan misi, saat sebagian besar sudah tidur. Ros duduk di seberang, membersihkan senapannya, pura-pura tidak mendengarkan tetapi mendengarkan setiap kata. "Setiap orang di tanah ini punya cerita. Brennan punya Dan. Martha punya suaminya. Bahkan Morrow—aku sudah menggali masa lalunya sampai ke kota kelahirannya di timur. Tapi kau? Kau muncul dari debu seperti tak punya kemarin. Dan orang yang tak punya kemarin biasanya menguburnya dalam-dalam justru karena kemarin itu terlalu berat untuk dibawa."
"Sebagian masa lalu sebaiknya tetap terkubur," kata Senja, menatap api.
"Caleb memanggilmu Saudara," kata Sariah, dan Senja menegang. "Aku ada di gereja saat itu terucap. Setiap orang mendengarnya. Dan dia menyebut sebuah tempat—Sungai Coyote. Dua belas tahun lalu." Ia mencondongkan badan, suaranya melembut, tidak lagi jurnalis tetapi seseorang yang peduli. "Aku tidak bertanya untuk koranku, Senja. Aku bertanya karena adikmu menjadi senjata Morrow, dan aku mulai berpikir bahwa apa pun yang terjadi di sungai itu adalah satu-satunya hal yang bisa mematahkannya."
Ros berhenti membersihkan senapannya. "Aku pernah dengar tentang Sungai Coyote," katanya pelan, dan kedua orang itu menoleh. Pemburu bayaran tua itu menatap api, matanya yang dingin tiba-tiba jauh. "Dulu, di kalangan kami—orang-orang yang menjual pistol—ada cerita. Tentang geng Hargrove. Penembak bayaran terbaik di teritori, dipakai untuk membersihkan kota-kota yang menghalangi rel kereta dan tambang. Lalu suatu malam, geng itu dikepung di sebuah penyeberangan sungai. Penyergapan. Habis, semuanya. Kecuali, kata cerita, dua bersaudara yang lolos." Ia menatap Senja lurus-lurus. "Aku tak pernah tahu namamu, sampai sekarang aku masih tak tahu. Tapi aku selalu bertanya-tanya kenapa seorang penembak sebaik kau berhenti menjual diri di puncak kariermu. Sekarang aku mulai mengerti. Kau salah satu dari dua bersaudara itu."
Senja diam lama. Api berkeretak. Di kejauhan, seekor coyote melolong—suara yang ironis, dan Senja merasa dinginnya menjalar di tulang.
"Geng Hargrove," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Ya. Aku dan Caleb. Aku menariknya ke dalam dunia itu. Aku yang mengajarinya menembak, karena kupikir aku melindunginya—kupikir kalau dia secepat aku, tak ada yang bisa membunuhnya. Aku tak pernah berpikir bahwa mengajarinya menembak adalah cara membunuhnya pelan-pelan." Ia menyentuh gagang revolvernya, ibu jari di atas ukiran 'E' yang aus. "Malam di Sungai Coyote, sesuatu terjadi. Sesuatu yang membuatku mengubur revolver lamaku—yang asli, yang penuh dosa—dan mengambil yang ini. Sesuatu yang membuatku meninggalkan nama yang dulu kubawa, dan menjadi tak seorang pun."
"Apa yang terjadi?" tanya Sariah pelan.
Tetapi Senja menggeleng. "Itu yang tak bisa kuceritakan. Bukan karena aku tak mau." Ia menatap api, dan untuk pertama kalinya Sariah melihat ketakutan murni di mata kelabu itu. "Tapi karena setiap kali aku mencoba mengingatnya utuh, ada lubang di tengahnya. Kabut. Air deras. Dan aku tak yakin lubang itu adalah ingatan yang hilang—atau ingatan yang aku sendiri sengaja tutup, karena yang ada di baliknya akan menghancurkanku."
Malam itu, Sariah menulis di buku catatannya satu baris, lalu menutupnya: Kebenaran Sungai Coyote adalah kunci. Tapi bahkan pemilik kunci itu takut membukanya. Dan untuk pertama kalinya dalam karier panjangnya memburu cerita, ia bertanya-tanya apakah ada kebenaran yang sebaiknya tetap tenggelam—lalu menyadari, dengan dingin yang menusuk, bahwa Caleb tak akan pernah berhenti memburu kakaknya sampai kebenaran itu diangkat ke permukaan, apa pun harganya.