Malam itu, di tepi api unggun kecil di tengah gurun dalam perjalanan pulang, Ros bertanya hal yang sudah lama tak berani ditanyakan siapa pun.
"Kau dan adikmu," kata pemburu tua itu, menatap bara. "Aku ingat geng Hargrove. Dua belas, tiga belas tahun lalu. Kalian berdua jadi bahan omongan di setiap saloon dari sini sampai perbatasan. Si tua dan si muda. Tembakan kembar." Ia meludah ke api. "Aku tak pernah ikut geng itu. Tapi aku dengar apa yang mereka lakukan di Cottonwood Creek."
Senja tidak menjawab untuk waktu yang lama. Api berkedip di wajahnya yang berdebu, dan matanya yang kelabu sedingin pagi musim dingin menatap masa lalu yang tak terlihat orang lain.
Lalu ia mulai bicara, pelan, seakan setiap kata punya beratnya sendiri.
Mereka muda saat itu. Senja — meski itu belum namanya — baru dua puluhan akhir, sudah cepat dengan pistol, sudah dingin karena perang yang ia ikuti sebelum cukup umur untuk mengerti perang. Caleb baru tujuh belas, matanya cerah dan tangannya cepat belajar, mengikuti kakaknya seperti bayangan mengikuti tubuh. Orang tua mereka mati saat mereka kecil; yang satu punya hanya yang lain. Senja mengajari Caleb menembak karena dunia tidak mengampuni anak yatim yang tak bisa membela diri. Itu, setidaknya, kebohongan yang ia ceritakan pada dirinya sendiri.
Mereka bergabung dengan geng Hargrove karena geng Hargrove membayar, dan lapar tidak mengenal moral. Awalnya pekerjaan terasa seperti keadilan yang menyamar — mereka membersihkan kota dari geng saingan, dari bandit yang lebih buruk, dan orang-orang membayar dengan rasa syukur. Senja membiarkan dirinya percaya ia salah satu orang baik dengan pistol.
Lalu datang Cottonwood Creek.
"Itu kota petani," kata Senja, suaranya nyaris tak terdengar di atas desis api. "Orang Jerman, beberapa keluarga Meksiko, gereja kecil dari tanah liat. Mereka tidak mau menjual tanah mereka pada pemodal rel yang menyewa Hargrove. Jadi Hargrove mengirim kami." Ia menatap tangannya. "Kami diberi tahu mereka penjahat. Pencuri ternak. Kami diberi alasan, dan kami terlalu lapar dan terlalu muda dan terlalu mahir untuk bertanya apakah alasan itu benar."
Ros tidak berkata apa-apa. Di seberang api, Brennan dan Eli yang belum tidur mendengarkan dalam diam yang dalam.
"Aku ingat ada keraguan dalam diriku pagi itu," lanjut Senja. "Aku melihat seorang perempuan menggendong bayi di ambang pintu, dan aku tahu, di suatu tempat di tulangku, bahwa ini bukan keadilan. Tapi aku menariknya tetap. Aku menembak yang harus kutembak. Dan saat asap mereda—" ia menutup mata, "—aku berbalik dan melihat Caleb."
"Adikku tujuh belas tahun. Dan dia tidak ragu sedetik pun. Dia menembak lebih cepat dariku hari itu, lebih bersih, tanpa beban di matanya. Aku telah mengajarinya begitu baik sampai aku mengajarinya melewati hati nuraninya sendiri. Saat aku mulai retak — saat aku mulai melihat wajah-wajah itu setiap malam — Caleb justru mengeras. Itu yang kami berikan satu sama lain. Aku memberinya keahlian, dan keahlian itu memakan jiwanya. Dia memberiku cermin, dan di cermin itu aku melihat monster yang kuciptakan dari satu-satunya orang yang kusayangi."
Ia membuka mata. Bara memantul di sana seperti bekas luka.
"Aku ingin keluar setelah Cottonwood Creek. Aku mulai menyusun rencana untuk membawa kami berdua pergi, jauh dari Hargrove, jauh dari semua ini. Aku ingin menyelamatkannya sebelum dia jadi seperti aku, atau lebih buruk." Senja menatap ke utara, ke arah rumah besar yang tak terlihat. "Lalu datang malam di Sungai Coyote. Dan setelah malam itu, tak ada lagi yang bisa diselamatkan. Aku kira."
Ia berhenti. Tangannya melayang ke revolver, menyentuh ukiran 'E' di gagang kayunya yang aus, lalu menariknya kembali. Sebagian dirinya yang dijaga rapat sejak dua belas tahun lalu tidak mau dibuka, bahkan di tepi api ini, bahkan untuk teman.
"Apa yang terjadi di sungai itu?" tanya Eli pelan, suara anak yang tak bisa menahan diri.
Senja menatap muridnya yang baru lewat api. Wajah anak itu begitu mirip wajah Caleb muda sampai dadanya sakit.
"Suatu hari," katanya, "kalau aku masih hidup. Bukan malam ini." Ia menarik selimutnya. "Tidurlah, Eli. Besok kita potong jalur Morrow yang pertama. Dosa lama tidak membayar utang. Hanya pekerjaan yang membayar."
Tapi malam itu tak satu pun dari mereka tidur nyenyak, dan api padam jauh sebelum fajar, meninggalkan bara yang berkedip seperti mata yang menolak menutup.