Serangan itu datang di jam paling mati malam, saat bahkan penjaga paling waspada berkedip terlalu lama.
Senja terbangun bukan karena suara, tapi karena ketiadaannya. Jangkrik di luar reruntuhan ranch telah diam. Ia sudah berdiri dengan revolver di tangan sebelum tembakan pertama merobek dinding papan tepat di mana kepalanya berada sedetik sebelumnya.
"Bangun!" raungnya. "Mereka di sini! Brennan—pojok timur!"
Kekacauan meledak. Penunggang Morrow menyerbu dari kegelapan, obor di tangan, menembak ke dalam jendela-jendela yang gelap. Mereka tahu persis di mana penjaga ditempatkan. Mereka tahu persis lubang mana di pagar yang tak terjaga. Mereka datang langsung ke gudang amunisi seakan ada yang menggambar peta untuk mereka.
Karena memang ada.
Brennan menembak dari balik tong air, senapan tuanya menggelegar, menjatuhkan satu penunggang dari pelana. Hollis melempar botol berisi mesiu yang pecah jadi bola api, menerangi malam dan memaksa penyerang mundur dari sayap kanan. Ros menembak dengan ketenangan mengerikan dari atap reruntuhan, satu peluru satu sasaran. Eli — Senja melihatnya dengan jantung tercekat — berlari membawa kotak peluru ke posisi Brennan, membungkuk di bawah garis tembak persis seperti yang diajarkan.
Mereka bertahan. Dengan susah payah, dengan darah, mereka memukul mundur serangan itu menjelang fajar. Tapi tiga penduduk tewas. Gudang pasok terbakar habis. Dan saat asap mereda dan langit memucat kelabu, satu pertanyaan menggantung lebih berat dari duka: bagaimana Morrow tahu?
Del menemukan jawabannya menjelang siang. Ia berlutut di balik dinding luar, di tanah yang lunak, dan mengangkat sesuatu — secarik kain yang diikat ke ranting, jenis tanda yang dipakai pelacak untuk menandai posisi. Dan jejak kaki menuju ke sana berasal dari dalam.
Mereka mengumpulkannya di puing aula. Wajah-wajah lelah, hangus, berduka, saling menatap dengan curiga yang tak pernah ada sebelumnya. Itulah racun sejati Morrow, pikir Senja. Bukan peluru. Curiga yang menggerogoti dari dalam.
"Aku tahu siapa," kata Ros pelan, mengunyah rumput. Matanya berhenti pada seorang lelaki di sudut — seorang petani bertubuh kurus bernama Tobias, yang tangannya gemetar.
Tobias tidak lari. Ia hanya menunduk, dan air mata jatuh ke debu di antara lututnya. "Mereka menahan adikku," bisiknya. "Di tambang. Sejak musim semi. Orang Morrow datang menemuiku dua minggu lalu di jalan ke Dryfork. Bilang kalau aku menunjukkan posisi kalian satu kali, hanya satu kali, mereka akan melepaskan dia. Aku—aku tidak tahu mereka akan datang malam. Aku kira hanya untuk menangkapmu, Senja. Bukan untuk membakar. Bukan untuk membunuh Mary dan kedua yang lain. Ya Tuhan—"
Tangan-tangan meraih pistol. Brennan, yang lengannya masih dibebat dari bendungan, berdiri dengan rahang mengeras. "Tiga orang mati, Tobias. Tiga."
"Aku tahu." Tobias mengangkat wajahnya, basah dan rusak. "Bunuh aku. Aku pantas. Tapi adikku—dia baru empat belas—"
Ruangan menunggu Senja. Itu beban yang selalu jatuh padanya kini; bukan cuma pistol, tapi keputusan.
Senja menatap lelaki yang berlutut itu untuk waktu yang lama. Ia memikirkan dirinya sendiri dua belas tahun lalu — tentang pilihan yang dibuat orang ketika orang yang mereka cintai dipegang sebagai sandera oleh kegelapan. Ia memikirkan bagaimana Morrow tidak menempa pengkhianat dari kejahatan, tapi dari cinta yang diperas sampai patah.
"Berdiri," katanya akhirnya.
Tobias berdiri, gemetar, menunggu peluru.
"Morrow tidak membuatmu pengkhianat," kata Senja. "Dia membuatmu jadi ayah yang putus asa, lalu menggunakannya untuk membunuh. Itu yang dia lakukan pada semua orang. Dia mengubah hal terbaik dalam diri kita jadi pisau." Ia menatap keliling ruangan, ke wajah-wajah yang marah. "Kalau kita membunuhnya hari ini, kita membiarkan Morrow menang dua kali. Sekali saat dia memaksa Tobias berkhianat, dan sekali lagi saat kita membunuh salah satu dari kita sendiri karenanya."
"Lalu apa?" tuntut Brennan. "Kita biarkan dia tinggal? Menusuk kita lagi?"
"Tidak." Senja menatap Tobias. "Kau akan menebusnya. Kau tahu cara mereka menghubungimu. Lain kali mereka mendekat, kau datang padaku lebih dulu. Kita akan memberi Morrow informasi yang ingin dia dengar — informasi yang kita pilih. Dan kita akan mengeluarkan adikmu dari tambang itu dengan tangan kita sendiri, bukan dengan izin Morrow." Ia mengulurkan tangan. "Berkhianatlah pada mereka untuk kami sekarang. Itu harga hidupmu."
Tobias meraih tangan itu seakan meraih tali di tepi jurang, dan menangis tanpa suara.
Mereka mengubur tiga yang mati di bukit kecil sore itu. Pastor Amos membaca dari kitab dengan suara serak, dan lonceng tak ada untuk dibunyikan di sini, jadi ia hanya menundukkan kepala. Kemunduran pertama kampanye terasa berat di pundak setiap orang. Tapi saat Senja menatap Tobias menggali kubur dengan tangannya sendiri sebagai penebusan, ia tahu mereka telah memenangkan sesuatu yang tak terlihat — sesuatu yang Morrow tak akan pernah mengerti cara membelinya.