Malam turun di balik bukit kuburan seperti selimut yang terlalu tipis untuk gurun yang dingin. Di reruntuhan ranch tua tempat para penyintas berlindung, api unggun kecil meliuk di dalam tungku batu yang separuh runtuh. Asapnya naik lurus, sebab tak ada angin malam itu, hanya hening yang berat dan suara jangkrik dari semak-semak kering di luar.
Senja duduk di ambang pintu yang tak lagi berdaun, punggungnya bersandar pada kayu yang sudah memutih dimakan matahari bertahun-tahun. Revolver tua itu ada di pangkuannya, dan ia membersihkannya dengan kain yang dibasahi sedikit minyak. Gerakannya pelan, hampir seperti doa. Bahunya yang tersereempet peluru Caleb masih nyeri di balik perban Martha, tapi ia tak menunjukkannya.
Martha datang membawa dua cangkir kopi pahit. Ia duduk di sampingnya tanpa diminta, menyodorkan satu cangkir. Uapnya membubung di antara mereka.
"Eli sudah tidur," kata Martha. "Akhirnya. Dia minta diceritakan tentangmu sampai matanya menyerah."
Senja menerima cangkir itu. "Anak itu terlalu banyak mengarang tentangku."
"Mungkin dia melihat yang tak kaulihat sendiri." Martha menatap revolver di pangkuannya, ke gagang kayu yang aus, ke satu huruf yang terukir dalam di sana, dipoles bertahun-tahun oleh telapak tangan sampai mengkilap. "E," ia berkata pelan. "Aku sudah lama ingin bertanya. Huruf itu. Bukan kebetulan, kan?"
Tangan Senja berhenti. Api memantul di mata kelabunya, membuatnya tampak seperti logam panas sesaat, lalu dingin lagi.
"Bukan," akhirnya ia menjawab.
Martha tidak mendesak. Itu yang membuat orang bercerita padanya, pikir Senja. Ia tidak menarik kebenaran keluar dengan paksa; ia hanya membuka pintu dan menunggu.
"Itu inisial," kata Senja. Suaranya rendah, nyaris hilang dalam letupan api. "Inisial nama yang dulu kupakai. Nama yang diberikan ibuku, di sebuah kota yang sekarang tak ada lagi di peta mana pun."
"Lalu kau menanggalkannya."
"Aku meninggalkannya." Ia memutar revolver, menatap ukiran itu seperti menatap wajah orang asing. "Bersama segala yang sudah kulakukan dengan nama itu. Pria yang memakai nama itu menembak untuk orang-orang seperti Morrow. Membersihkan kota agar para tiran bisa membangun istana di atas kuburan. Aku tak mau membawa namanya lagi. Jadi kukubur. Yang tersisa cuma huruf ini, di kayu ini. Supaya aku tak pernah lupa apa yang sanggup kulakukan."
Martha menggenggam cangkirnya dengan dua tangan. "Eli memanggilmu Senja karena kau datang saat senja. Tapi kau punya nama sebelum itu."
"Pria dengan nama itu sudah mati, Martha." Ia menatap api. "Aku tak yakin dia pantas dihidupkan kembali."
"Caleb tahu nama itu." Bukan pertanyaan.
Senja terdiam lama. Di kejauhan, ia bisa membayangkan rumah besar dua lantai di utara, jendela-jendela menyala, dan adiknya di salah satu kamar dengan dua pistol dan bekas luka di pipi kiri. Adik yang dulu memanggilnya dengan nama itu, sebelum Sungai Coyote, sebelum dusta dua belas tahun.
"Caleb satu-satunya yang masih mengingatnya," kata Senja. "Dan ia mengingatnya sebagai nama orang yang meninggalkannya berdarah-darah."
"Tapi itu tidak benar."
Senja tak menjawab. Ia memandang ke arah utara, ke gelap yang menelan gurun, dan untuk sekejap rahangnya mengeras seolah menahan sesuatu yang terlalu besar untuk diucapkan.
"Suatu hari," katanya akhirnya, "kalau aku masih hidup, akan kuceritakan semuanya. Padamu. Padanya. Tapi belum. Kalau kuucapkan sekarang, aku akan kehilangan tangan yang menahan pistol ini tetap mantap. Dan aku masih membutuhkannya untuk sedikit lebih lama."
Martha mengangguk pelan. Ia tak memaksa lebih jauh. Tapi sebelum berdiri, ia menyentuh punggung tangan Senja, ringan, sebentar, lalu menariknya.
"Nama itu masih ada, siapa pun yang memakainya," katanya. "Dan menurutku dia tidak semati yang kaukira."
Ia masuk ke dalam, meninggalkan Senja sendiri dengan api yang mengecil dan revolver di pangkuannya. Senja menatap huruf E yang terukir di kayu sampai bara terakhir padam. Lalu, sangat pelan, hanya untuk dirinya sendiri, bibirnya bergerak membentuk satu suku kata. Tapi tak ada suara yang keluar. Belum.
Langit di atas bukit kuburan tinggal hitam dan bintang. Di suatu tempat di utara, ia tahu, adiknya juga tak bisa tidur.