Quentin Ros menemukan mereka dengan cara yang sama seperti ia menemukan semua orang yang pernah ia buru — dengan kesabaran, jejak, dan hidung tua yang tahu di mana orang putus asa bersembunyi.
Mereka menyergapnya di parit kering di luar lembah, tiga senapan teracung dari balik batu. Tapi lelaki tua berkulit cokelat tergurat itu hanya menghentikan kudanya, mengangkat tangan dengan kemalasan seseorang yang sudah terlalu sering menatap moncong senjata untuk terkesan.
"Tenang, tenang," katanya, suaranya kering seperti tanah retak. "Kalau aku mau membunuh kalian, kalian sudah mati sejak setengah mil tadi. Aku mengintai kemah ini sejak fajar." Ia memiringkan kepala. "Pengintai kalian di bukit utara tertidur. Sebaiknya kalian ganti dia."
Mereka membawanya masuk dengan tangan terikat. Senja keluar menemuinya, dan begitu kedua lelaki itu saling pandang, sesuatu yang dingin dan tua bergetar di antara mereka — pengakuan dari satu profesi yang sama.
"Aku kenal wajahmu," kata Ros pelan, menyeringai tipis. "Bukan namamu — kau tak pernah pakai nama. Tapi wajah itu. Bertahun lalu, di sirkuit selatan. Mereka memanggilmu Si Tangan Kelabu waktu itu. Tercepat yang pernah kulihat. Dan lalu kau menghilang. Orang bilang kau mati. Orang lain bilang kau jadi gila dan masuk biara." Ia tertawa serak. "Sekarang kulihat orang lebih benar."
"Kenapa kau di sini," kata Senja, datar.
Ros mengangkat dagunya ke arah saku mantelnya. Eli, dengan hati-hati, mengeluarkan selembar kertas terlipat dari sana dan membukanya. Wajah anak itu mengeras saat membacanya.
Sebuah surat buronan. Tercetak rapi, dengan segel resmi marshal teritori. Hadiah seribu dolar. Dan deskripsi yang tak salah lagi: lelaki bermata kelabu, revolver tua dengan ukiran di gagang. Dicari hidup atau mati atas tuduhan pembunuhan, pembakaran, dan penghasutan pemberontakan.
"Morrow memasangnya lewat marshal seminggu lalu," kata Ros. "Seribu dolar adalah uang yang banyak untuk lelaki tua dengan lutut yang sakit. Aku mengikuti jejakmu sejak Redemption terbakar."
Tangan-tangan mengencang di senapan. Brennan, dari tandunya, menggeram. Tapi Senja tidak bergerak, tidak berkedip. Ia hanya menatap lelaki tua itu, membaca sesuatu yang tak ada di kertas.
"Kau punya kesempatan setengah mil tadi," kata Senja pelan. "Penembak jitu dengan senapan jarak jauh dan seribu dolar tak menunggu. Ia menembak dari jauh, mengambil kepala, lalu pulang. Tapi kau malah masuk ke kemah penuh senjata dan membiarkan dirimu diikat." Ia memiringkan kepala sedikit. "Itu bukan cara seorang pemburu yang ingin hadiahnya. Itu cara seseorang yang ingin bicara."
Untuk pertama kalinya, seringai Ros memudar jadi sesuatu yang lebih jujur. Lelaki tua itu menghela napas panjang, dan ketika ia bicara lagi, suaranya kehilangan tepi pertunjukannya.
"Tiga puluh tahun aku berburu," katanya. "Manusia, sebagian besar. Aku tidak bangga, tapi aku tidak berbohong tentangnya. Aku berburu siapa pun yang kepalanya ada harganya, dan aku tidak terlalu bertanya kenapa." Ia memandang ke reruntuhan, ke anak-anak yang masih batuk oleh asap, ke perempuan yang merawat luka. "Tapi aku melewati Dryfork dalam perjalanan ke sini. Aku melihat seorang ibu memberi anaknya minum air lumpur karena Morrow mengunci sumur. Aku melihat penambak dirantai ke gerobak seperti keledai. Dan aku berpikir — tiga puluh tahun aku berburu, dan tak sekali pun aku merasa kotor sampai aku melihat untuk siapa aku diminta menembak kali ini."
Ia menatap Senja lurus.
"Aku tidak datang untuk hadiahmu, Tangan Kelabu. Aku datang karena aku tahu jalur-jalur tersembunyi tanah ini lebih baik dari siapa pun yang hidup. Aku tahu di mana Morrow menyimpan peraknya, kapan konvoinya lewat, jalur air mana yang dijaga lemah. Dan aku sudah cukup tua untuk ingin satu pekerjaan terakhir yang tak membuatku malu di neraka."
Keheningan panjang. Lalu Senja, perlahan, mengangguk pada Eli.
Anak itu memotong tali di pergelangan Ros.
"Aliansi dibangun atas dasar yang lebih buruk," kata Senja. "Tapi pemburu yang membelot tetap pemburu. Kau akan dijaga sampai kau membuktikan dirimu."
Ros menggosok pergelangan tangannya dan menyeringai lagi, kering seperti gurun. "Wajar. Aku juga takkan mempercayai aku." Ia menatap peta yang tergambar di tanah, dan matanya tua itu menyala oleh sesuatu yang menyerupai tujuan. "Sekarang. Mari kubicarakan tentang konvoi perak yang lewat jalur barat tiap purnama. Karena kalau kalian ingin meruntuhkan kerajaan, kalian mulai dengan memotong dompetnya."