Rabu pagi, closed session komisaris bahas interim CEO — Anisa dengar versi ketiga dari memo bocor investor, bukan rekaman resmi. Ruang rapat tanpa jendela, lantai dua puluh, jam sembilan sampai duabelas. Nama disebut bergantian: Pak Gunawan tolak jadi interim — *conflict as audit chair*; direktur operasi senior **Bu Ayu Santoso** — COO lima tahun, clean audit personal, tidak pernah tanda tangan transaksi related-party — proposed interim with limited mandate audit period only.
'Damar offered voluntary step-aside thirty days — rejected by counsel,' baca Ratih di apartemen Tebet, forward chat investor anonymized. 'Halim counter: voluntary step-aside equals admission guilt. Damar silent on call — only Halim speak.'
Anisa meneguk kopi pahit. Near deactivation bukan headline; near deactivation adalah tawar status yang ditolak karena ego dan takut pidana. Damar masih bisa memilih turun sendiri; Damar memilih binder Halim.
Di gedung induk, Bu Ayu Santoso hadir sebagai observer — tidak campaign, tidak lobby. Reputasi clean jadi aset komite; Anisa tidak kenal dekat Bu Ayu, hanya profil LinkedIn yang Ratih forward semalam: operasional ritel, turnaround satu divisi loss-making, zero scandal.
Pukul sebelas, Damar keluar lift lantai lobby — media ban resmi, tapi paparazzi investor-hired still snap from mobil: wajah kosong, tie longgar, pengawal internal dua orang, Halim tidak di samping — strategi jarak untuk foto. Cuplikan ke Ratih; Anisa lihat sekali, tutup. Tiga tahun lalu foto Damar di annual report — senyum CEO percaya diri. Rabu foto koridor mobil — CEO terkurung.
'Voluntary step-aside ditolak,' kata Mira via video call siang. 'Interim Bu Ayu draft memo ready — vote Kamis internal komite, publish Jumat if pass. Mandate: audit cooperation, freeze related-party, no strategic M&A without board.'
'Full suspend?' tanya Anisa.
'One step below full CEO deactivate. Operational freeze already in since Selasa. Interim equals signing authority moves to Bu Ayu except court-ordered and existing contracts under review list.'
Near. Belum jatuh. Title masih Damar sampai Jumat vote — kecuali Damar runtuh sendiri, yang Halim tidak izinkan.
Siang Rabu, ibu Damar kirim surat kedua ke firma Mira — tulisan tangan lagi, lebih pendek, kertas cream: *Anak saya tidak curang. Audit salah paham keluarga.* Tidak minta damai kali ini seperti surat pertama; minta narrative. Pengacara keluarga ibu — bukan Halim — yang antar via kurir. Mira scan, hash, masukkan bundle rebuttal — bukan bukti innocence, bukti tekanan lanjutan dari Menteng.
Anisa tidak jawab surat ibu. Protokol statement-only. Ratih tanya: 'Baca?' Anisa geleng. 'Sudah cukup di bab dua puluh enam.'
Dr. Hendra update sore: video forty seconds Rania akan masuk public exhibit packet if Friday vote pass full suspension — not leaked by tim Anisa; procedure audit standard. Device fingerprint PC sekretaris lantai dua puluh — bukan rekayasa.
'Rania?' tanya Ratih.
'Outlet prep studio Senin depan — soft hold. Rania wants exclusive aired if Damar still CEO title Kamis malam. Deadline internal mereka Jumat close.'
Pressure clock: Damar title versus Rania camera. Dua countdown berbeda, satu gedung.
Sore Rabu, Halim attempt media end-run — brief friendly columnist *human side CEO marriage crisis* — media ban Damar makes brief useless; outlet pull story before online, editor tweet deleted dalam empat puluh menit. Near deactivation includes gagal di kamera — again. Damar tidak bisa spin sendiri; Halim spin untuknya; ban media membuat spin mati di koridor.
Malam Rabu, Anisa dan Ratih di apartemen, whiteboard update dengan marker hitam: *Damar — interim vote Kamis | Rania — exclusive ready | Anisa — cerai draft waiting | Ibu — narrative pressure | Halim — filing peak besok.*
'Cerai draft?' tanya Ratih pelan.
Mira sudah kirim folder encrypted Selasa malam — gugatan cerai formal, belum file ke pengadilan, waiting board outcome. Anisa belum buka. Kelelahan belum — fase dua belum tutup. Tapi bahu sudah pegal dari tidur ringan tiga malam.
'Interim talk means pintu cerai,' kata Ratih.
Anisa mengangguk. Damar satu langkah dari nonaktif penuh; ia satu langkah dari meja pengadilan. Dua pintu bersebelahan, belum dibuka. Ia belum siap buka folder cerai — bukan karena ragu hak, karena energi.
Mira telepon sepuluh menit: 'Kamis document gunfight peak. Halim forty-two pages exclusion. Kita counter. Anda standby observer.'
'Siap,' jawab Anisa.
Malam Rabu, memo bocor kedua tentang interim: *Bu Ayu mandate limited six months renewable once; no bonus CEO package; report weekly to Pak Gunawan.* Anisa baca forward Mira — bukan detail yang ia butuhkan emosional, detail yang ia butuhkan prediksi: perusahaan tidak runtuh overnight, hanya kepalanya diganti sementara.
Ibu Damar tidak telepon Anisa. Damar tidak telepon Anisa — Mira catat attempt zero Rabu. Fortress keluarga sudah retak terlalu dalam untuk jalur 'bicara istri dulu.' Anisa merasa bukan menang, merasa akhirnya tidak diminta jadi mediator Menteng.
Ratih update whiteboard tambahan: *Halim — peak filing Kamis | Bu Ayu — clean | Damar — side door Jumat?*
'Side door?' tanya Anisa.
'Investor bilang Damar akan avoid front lobby if vote bad,' jawab Ratih. 'Ego preservation.'
Anisa mengangguk. Ego Damar masih hidup meski treasury mati, meski media ban, meski ibu neutral. Itu yang akan ia bawa ke meja cerai — bukan pria jatuh bersimbah, pria yang still negotiate exit.
Rabu malam, Anisa coba tidur tanpa melihat ponsel — gagal dua kali, cek filter Ratih saja. Tidak ada attempt Damar. Tidak ada surat ibu kedua balasan. Hanya memo interim Bu Ayu versi bocor v3. Cukup.
Dia tidur Rabu malam dengan earphone white noise. Damar mungkin tidak tidur — interim memo di meja, ibu di Menteng dengan pengacara baru, Halim di kantor law firm Sudirman lantai tinggi. Near bukan jatuh; near adalah vertigo sebelum tekan tombol. Rabu tutup dengan Bu Ayu di koridor power dan Damar di koridor mobil.