Hari ke empat belas, briefing fase dua Big Four di ruang rapat gedung induk Mahesa Group — ironi lokasi yang Mira catat di memo internal: audit musuh di kandang musuh, dengan komisaris independen duduk di ujung meja panjang.
Anisa tidak hadir fisik; Mira dan perwakilan komisaris independen yang duduk, dengan live note ke apartemen Tebet via aplikasi terenkripsi. Ratih menemani Anisa, layar laptop menampilkan diagram aliran uang — bukan skema sederhana suami ke ibu, melainkan jaringan: Mahesa Retail Holdings → PT Surya Abadi Investama → rekening trust Singapura → entitas properti di Jakarta Selatan dengan direktur nominal staf lama pensiun.
'Ini bukan satu transfer,' kata partner audit, suara datar via speaker. 'Ini pola — lima belas transaksi utama dalam empat belas bulan, masing-masing di bawah threshold internal approval yang butuh dua tanda tangan direksi. Damar satu tanda. Staf keuangan senior satu tanda — staf yang sekarang cuti "sakit."'
Anisa menulis di buku catatan: threshold. Damar sengaja pecah angka supaya dewan tidak perlu vote.
Partner audit melanjutkan: 'Transaksi ke lima belas — delapan puluh tujuh miliar rupiah kumulatif ke PT Surya Abadi — terjadi seminggu setelah metadata foto Singapura. Korelasi waktu, bukan bukti kausal otomatis, tapi red flag audit.'
Mira mengetik balasan ke chat terenkripsi: *Tahan komentar publik. Kita kumpulkan dulu.*
Dr. Hendra, kontrak paralel, menelusuri jejak digital pendukung: email approval chain, PDF invoice palsu dari vendor fiktif "Konsultan Strategi Artha," IP login portal treasury dari perangkat Rania — bukan dari laptop Damar.
'Vendor Artha,' kata Dr. Hendra via sambungan ketiga, 'domain didaftarkan empat hari sebelum invoice pertama. Alamat kantor di Google Maps — lapangan kosong. Nomor telepon — prepaid, tidak aktif setelah transfer cleared.'
'Rania bukan cuma selingkuhan,' bisik Anisa pada Ratih yang menemani di apartemen. 'Rania jalur operasional.'
'Halim akan bilang Rania disalahgunakan tanpa tahu,' kata Ratih. 'Atau bilang Laras yang framing Rania.'
'Laras tidak pernah sentuh portal treasury.' Anisa menunjuk layar — log akses read-only dari audit. 'Laras cuma lihat laporan agregat restrukturisasi. Yang Halim serang besok: Laras "memanipulasi" Damar lewat konsultasi — bukan bukti transfer langsung.'
Siang hari, Mira meneruskan memo internal bocor dari komite krisis Mahesa Group — Damar ke Halim: *Audit Big Four jangan dibuat soal affair. Buat soal governance Laras.*
Anisa membaca dua kali. Damar masih belajar spin — affair sudah terlanjur publik; yang bisa ia selamatkan adalah narasi "CEO dikonsultasikan sampai tertipu."
Dr. Hendra mengirim temuan shell company: PT Surya Abadi Investama didirikan delapan bulan sebelum transfer pertama, modal disetor minimal, pemegang saham ibu Damar sembilan puluh persen. Alamat kantor: rumah Menteng — sama dengan alamat yang ibu Damar sebut "warisan keluarga."
'Legal di kertas,' kata Mira via telepon. 'Etis dan fidusia — beda meja. Big Four flag sebagai related-party transaction tanpa disclosure pemegang saham minoritas.'
Anisa teringat prenup — aset selama nikah default ke bucket suami. Damar memakai celah itu bukan cuma untuk cerai, tapi untuk mengalirkan uang perusahaan ke ibu.
Sore hari, pengacara keluarga ibu Damar mengirim surat ke audit: PT Surya Abadi adalah investasi pribadi Nyonya Surya, bukan penggelapan. Lampiran: akta pendirian, bukti "sumber dana dari dividen historis."
Big Four membalas — Anisa baca ringkasan Mira: dividen historis tidak cocok dengan timeline cash flow; sumber dana terlacak ke operasional ritel Mahesa Group, bukan rekening pribadi ibu Damar sebelum nikah Anisa.
Mira menambahkan via chat: *Staf keuangan senior — Pak Hendarto — dipanggil audit besok. Halim sudah hubungi, tawar settlement pribadi. Hendarto belum jawab.*
'Kalau Hendarto flip,' kata Ratih, 'cangkang jebol dari dalam.'
'Kalau Hendarto diam,' kata Anisa, 'angka tetap bicara.'
'Ibu Damar benteng mulai retak di angka,' kata Ratih. 'Bukan di TV.'
Malam hari, Anisa menelepon Mira — bukan minta strategi, hanya konfirmasi: 'Kalau staf keuangan senior diperiksa, apakah identitas saya sebagai Laras ikut bocor ke ruang sidang perusahaan?'
'Sudah bocor di gala,' jawab Mira. 'Yang kita jaga sekarang bukan identitas — integritas bukti. Besok Rania email masuk forensik. Siapkan mental, bukan wig.'
Anisa mengangguk meski Mira tidak melihat. Di layar laptop, diagram transfer seperti peta sungai bawah tanah — uang perusahaan mengalir ke Menteng, ke Singapura, ke nama staf pensiun yang mungkin tidak tahu ia jadi direktur nominal.
Ia teringat slide gala — tabel pengalihan aset yang membuat tamu bisnis berbisik. Slide itu ringkasan; audit fase dua adalah anatomi lengkap. Damar dulu bilang restrukturisasi ritel butuh "sentuhan keluarga." Sekarang keluarga punya sentuhan angka — dan angka tidak punya loyalty ke headline.
Ratih menyajikan mie instan — ritual firma saat malam panjang. 'Ibu Damar belum keluar TV hari ini.'
'Ibu Damar tunggu angka,' kata Anisa. 'Dia tahu TV tidak bisa batalkan ledger.'
Mira menelepon singkat malam itu: Hendarto, staf keuangan senior, setuju diperiksa audit tanpa pengacara Halim — bukan flip ke Anisa, tapi tidak lagi diam total. Satu retak kecil di cangkang.
Anisa menulis di buku catatan: *Shell company bukan teori konspirasi — ada akta, ada alamat Menteng, ada trust Singapura. Ibu Damar bisa bilang warisan; audit bilang operational cash flow.* Ia menutup buku, taruh di samping daftar entitas. Besok forensik inbox Rania menunggu.
Anisa mematikan lampu apartemen. Jejak transfer belum final — audit fase dua butuh minggu. Tetapi cangkang sudah punya nama, alamat, dan timestamp. Halim bisa spin "Laras memanipulasi CEO" sepuasnya — transfer tidak pernah lewat slide presentasi Laras. Transfer lewat portal yang Damar dan Rania sentuh.
Besok email Rania. Anisa tidur dengan daftar entitas di meja — PT Surya Abadi, trust Singapura, vendor Artha fiktif — seperti daftar musuh yang akhirnya punya wajah korporat, bukan cuma wajah selingkuhan.