Alya sedang duduk di taman kota, di bangku batu dekat danau kecil. Buku terbuka di pangkuannya, meski matanya lebih banyak menatap air yang bergelombang pelan. Ia suka berada di sini; jauh dari hiruk pikuk seminar, jauh dari ruang virtual yang sibuk. Hanya dia, angin, dan dedaunan gugur.
“Sudah kubilang, tempat ini memang cocok untuk menyembuhkan kepala yang penuh,” suara itu datang dari samping.
Alya menoleh. Fadli berdiri dengan dua gelas kopi di tangan.
“Dan hati yang lelah,” sambungnya, menyerahkan satu gelas.
Alya tersenyum. “Terima kasih. Kamu selalu tahu waktu yang pas.”
Fadli duduk di sebelahnya. Tak terlalu dekat, tak terlalu jauh. Ia tidak pernah memaksa bicara. Kadang mereka hanya diam bersama. Dan anehnya, Alya tidak pernah merasa canggung.
Mereka berbicara tentang hal ringan: dosen yang suka nyeleneh, mahasiswa yang terlalu percaya diri, cuaca yang akhir-akhir ini sering berubah-ubah. Tapi di balik semua itu, ada kenyamanan yang tumbuh diam-diam.
“Alya,” Fadli akhirnya berkata pelan, “kamu tahu, aku nggak pernah berniat menyelamatkanmu. Aku cuma… senang ada di dekat kamu. Gitu aja.”
Alya menoleh. Tatapan Fadli tenang. Tidak ada tekanan. Tidak ada harapan besar yang ditumpahkan kepadanya. Dan itu membuat Alya… merasa aman.
“Aku nggak butuh diselamatkan, Fad,” jawab Alya. “Tapi… terima kasih sudah tetap ada.”
Fadli mengangguk. “Aku tahu kamu bisa berdiri sendiri. Tapi kalau kamu capek berdiri terus, aku bisa duduk di sebelahmu. Bukan untuk menahanmu, tapi untuk nemenin istirahat sebentar.”
Kalimat itu menembus benteng dalam diri Alya yang selama ini ia jaga rapat-rapat. Tidak untuk dihancurkan, hanya untuk diakui. Bahwa mungkin, setelah semua luka… ia masih pantas ditemani. Bukan karena ia lemah, tapi karena ia manusia.
⸻
Malam itu, Alya menulis di jurnalnya:
“Aku tak lagi mencari seseorang untuk membuatku utuh. Aku sudah utuh. Tapi jika ada seseorang yang bisa duduk tenang di sampingku tanpa mengusik kedamaianku… maka mungkin, aku bisa berbagi hidup dengannya, perlahan-lahan.”
Ia menyimpan buku itu, lalu membuka pesan singkat.
Tanpa banyak kata, ia mengetik:
“Terima kasih sudah hadir tanpa membuatku kehilangan diriku sendiri.”
Dan Fadli membalas beberapa menit kemudian:
“Terima kasih sudah membiarkan aku tetap jadi aku, meski di dekatmu.”
Alya tersenyum kecil. Ini bukan cinta yang membakar. Tapi mungkin, justru cinta yang tenanglah yang mampu bertahan paling lama.
Dan malam itu, hujan turun sebentar. Tak deras. Seperti rindu yang cukup tahu diri: ia hadir, tapi tak memaksa.