Malam itu, hujan turun deras. Petir menyambar jauh di langit, tapi di dalam kamar Alya, suasananya justru sunyi dan teduh. Ia duduk di depan meja, menyalakan lilin aroma lavender, dan membuka buku catatan kulit yang selalu ia simpan di dalam laci.
Tangannya sempat ragu. Tapi akhirnya ia mulai menulis. Bukan puisi, bukan cerita fiksi. Kali ini, ia menulis surat.
Untuk seseorang yang pernah ia cintai, dan kini… sudah ia maafkan.
⸻
Untuk Rian,
Aku pernah mencintaimu dengan segala naifku. Dengan harapan yang kubangun sendirian, dengan keyakinan bahwa kau akan berubah. Aku menunggumu, bahkan ketika aku tahu kau tak benar-benar mencariku.
Aku menyesuaikan diriku agar cocok dengan duniamu. Aku menekan keinginanku sendiri agar kamu bahagia. Tapi ternyata, aku lupa satu hal penting: kebahagiaan tak bisa dibangun oleh satu orang saja.
Aku tak menyesal pernah mencintaimu. Aku hanya menyesal terlalu lama mengabaikan diriku sendiri demi cinta yang tidak pernah utuh kembali padaku.
Tapi surat ini bukan untuk mengungkit. Ini surat perpisahan terakhir—bukan dari mulut, tapi dari hati.
Aku memaafkanmu, Rian. Bukan karena kau pantas, tapi karena aku butuh damai. Aku melepaskan semuanya… termasuk semua harapan yang dulu kutanam di dadamu yang dingin.
Dan yang paling penting: aku tak lagi mencintaimu.
— Alya.
⸻
Ia menutup buku catatan itu, meniup lilin yang hampir habis, lalu menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, dadanya terasa benar-benar ringan.
Surat itu tidak akan pernah dikirim. Ia tahu itu. Tapi menuliskannya adalah bentuk keikhlasan yang sudah lama tertunda.
Keesokan harinya, Alya menyambut pagi dengan semangat baru. Ia membuat sarapan, mendengarkan musik, dan mempersiapkan materi untuk seminar yang akan ia bawakan minggu depan.
Ketika ia membuka laptop, ada notifikasi email dari redaksi penerbit besar yang tertarik dengan naskah bukunya. Mereka ingin mencetak ulang Perempuan yang Pergi dalam versi cetak dengan distribusi nasional.
Alya tersenyum. Bukan karena buku itu sukses. Tapi karena ia tahu, setiap kalimat dalam buku itu ditulis dengan air mata yang kini telah berubah jadi kekuatan.
Dan ketika sore datang, Fadli menelepon.
“Kamu sibuk besok?” tanyanya dengan suara hangat.
“Tidak. Kenapa?”
“Aku mau ajak kamu ke tempat yang tenang. Kita butuh udara segar, kayaknya.”
Alya menatap langit yang masih berawan. Tapi di dalam dadanya, matahari sudah bersinar. Ia tahu, ini bukan tentang pelarian. Bukan tentang cinta baru untuk menutup yang lama. Ini adalah tentang hidup yang terus berjalan—dan tentang hatinya yang kini sudah bebas memilih.
“Boleh,” jawab Alya. “Tapi kamu yang nyetir.”
Fadli tertawa di seberang. “Dengan senang hati, nona penulis.”
Dan ketika telepon ditutup, Alya kembali menulis—bukan surat untuk seseorang, tapi bab pertama untuk novel keduanya. Kali ini bukan tentang luka, tapi tentang perempuan yang bertumbuh.
Karena kini, ia tahu: menyembuhkan diri bukan soal melupakan seseorang. Tapi menerima bahwa kita pantas bahagia, meski orang itu tak pernah kembali.