Maxi tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa memukul keras meja yang ada dihadapannya dengan kepalan tangannya.
"Jika ada di antara kalian yang tidak menerima saya sebagai presdir tidak apa-apa. Pintu keluar terbuka untuk kalian, saya akan merekrut karyawan baru. Perlu kalian ketahui bahwa mencari pekerjaan itu sulit, dan yang ingin bekerja di perusahan bergengsi ini sangatlah banyak. Benar bukan Maxi?" ucap Felix diiringi seringai bibirnya.
"Cih" dengkus Maxi.
Rasa kesal Maxi sudah berada di ubun-ubun, namun ia memikirkan keadaan Alea. Maka Maxi tidak bisa melakukan hal yang gegabah.
Maxi meninggalkan ruangan itu, dan dengan cepat Felix menggerakkan jari telunjuknya meminta sang bodyguard untuk menangkap Maxi yang entah sejak kapan ia sudah berada di luar pintu.
"Lepas" ucap Maxi.
Para bodyguard itu tidak melepaskan tangannya, hingga memaksa Maxi untuk berkelahi disana.
Perkelahian terjadi antara Maxi dan dua bodyguard dengan badan yang besar juga otot-ototnya.
Dalam waktu sepuluh menit, Maxi berhasil mengalahkan keduanya. Hal itu membuat senyum Felix memudar berubah menjadi kesal.
Ia memerintahkan penjaga lainnya untuk menangkap Maxi.
"Cepat tangkap dia" perintah Felix.
Tidak ada respon apapun, karena mereka merasa enggan untuk menangkap Maxi yang awalnya presdir perusahaan ini. Selain itu, Maxi juga selalu memperlakukan karyawan dan mereka dengan baik.
"Kenapa diam saja! tangkap dia atau kalian mau saya pecat?" teriak Felix yang amarahnya semakin besar membuat para penjaga itu akhirnya mengejar Maxi yang sudah babak belur.
"Kita pelan-pelan saja, biarkan tuan Maxi pergi dari sini" ucap Salah satu dari mereka saat mengejar Maxi yang tidak jauh dari kejarannya.
"Santi kemari" panggil penjaga lainnya.
"Ada apa? oh ya kenapa presdir berlari keluar?"
"Sudahlah, aku minta itu"
"Apa?"
"Itu, apa namanya" tunjuknya pada kelopak mata miliknya.
"Eye shadow?" tanya Santi menahan tawanya.
"Untuk apa?" sambungnya.
"Sudah cepat"
"Baik lah ini"
Santi memberikan shadow miliknya, para penjaga itu sedikit mengambilnya dan mengoleskannya pada ujung bibir dan pipi mereka seolah telah terjadi perkelahian.
Sementara itu, Maxi berlari keluar ia hendak kembali ke rumahnya namun dalam perjalanan ia bertemu Sean.
"Maxi" panggil Sean memberhentikan mobil yang ia kemudikan.
"Sean" pekik Maxi.
"Cepat masuk"
"Hah" Maxi yang tidak percaya dengan sikap Sean.
"Cepatlah sebelum aku berubah pikiran" timpal Sean.
Tidak ada pilihan lain, Maxi memasuki mobil Sean. Sebelum pergi, Maxi meminta Sean untuk mengantarkannya pulang lebih dulu, untuk membawa pakaiannya dan melihat keadaan bibi.
"Dimana Le" tanya Maxi.
"Dia di culik, aku terlambat"
"Sial" kesal Maxi. Ia benar-benar stres dengan apa yang terjadi padanya hari ini.
"Sudah sampai, jangan terlalu lama jika kau ingin pergi denganku" jelas Sean tak mendapat jawaban apapun dari Maxi.
Maxi melangkah memasuki mansion miliknya. Iya tahu jika mansion ini pasti akan di ambil oleh Felix. Oleh karena itu, Maxi kembali ke mansion dan membawa barang-barang penting juga meminta bibi untuk ikut dengannya.
"Sean bantu aku" ucap Maxi dengan kelima kopernya.
"Kau mau kemana kenapa banyak sekali yang kau bawa" balas Sean.
"Sudahlah cepat, sebelum si cunguk itu datang" timpal Maxi.
Sean membantu Maxi memasukkan kopernya ke dalam bagasi, ada sebagian juga yang dimasukkan ke dalam kursi mobil karena terlalu banyak.
"Bi ayo naik" ucap Maxi.
"Tapi den"
"Sudah bi jangan pikirkan apapun, bagi Maxi bibi sudah menjadi keluarga Maxi. Maxi tidak mau jika sesuatu terjadi pada Bibi" ucap Maxi.
"Baik den" bi Mirna pun duduk di kursi belakang bersama koper lainnya.
Selesai itu, Sean langsung menancapkan gas mobilnya meninggalkan mansion Baker.
Disisi lain, mobil yang Alea tumpangi sudah berhenti. Mereka membawanya menuju ke sebuah tempat.
Namun Alea merasa aneh, karena orang-orang itu tidak mengikat Alea sedikitpun. Mereka hanya memaksa agar Alea berjalan dengan cepat.
"Wah tempat nya lumayan indah" pekik Alea.
Ia mengedarkan pandangannya, lalu tak lama pandangannya berhenti saat melihat seseorang yang sedang menghadap ke arah lain.
"Siapa dia?" pikir Alea.
"Felix?" pekik Alea.
Merasa namanya di sebut, Felix memutar tubuhnya.
"Surprise" ucap Felix.
"Ah kau membuatku terkejut, memberiku suprise dengan gaya penculikan?" tanya Alea berjalan mendekat ke arah Felix.
"Apa kau suka?"
"Aku suka, tapi tidak dengan mereka" jawab Alea menunjuk pada bawahan Felix.
"Memangnya ada apa dengan mereka? apa mereka menyakitimu?" tanya Felix.
"Mereka terus membentakku agar aku berjalan cepat. Lagian kamu juga, jika ingin memberikan kejutan padaku kenapa harus membiusku" jelas Alea.
"Mereka membiusmu?"
"Kau tidak tahu?"
"Apa yang kalian lakukan? kenapa kalian membiusnya. Aku hanya meminta kalian untuk membawanya tanpa harus ia ketahui ini adalah aku" ucap Felix memarahi bawahannya.
Alea sedikit merasa kasihan pada bawahan Felix, bagaimanapun juga mereka cukup baik karena tidak melakukan hal yang buruk padanya.
"Maaf tuan"
"Felix, sudah biarkan saja. Jangan sampai merusak mood mu" ucap Alea membuat Felix mengalah dan mendekat padanya.
"Kemari ikut aku" ucap Felix menarik tangan Alea.
"Le-"
"Alea" sanggah Alea.
"Haha baiklah, Alea. Lihat" ajak Maxi.
"Wahh indah sekali. Woh ternyata ini di atas kapal" pekik Alea yang baru menyadari bahwa dasar dari tempat ini adalah air.
"Kenapa? apa kamu tidak suka?"
"Aku menyukainya" balas Alea memasang senyum manisnya.
"Kau terlihat lebih cantik jika tersenyum" gumam hati Felix.
"Aku sengaja membawamu kemari untuk melihat matahari terbenam. Dan aku ingin bersamamu untuk satu hari ini" jelas Felix memandang lurus.
Alea menoleh, ia melihat ke arah Felix. Dirinya merasa ada yang aneh dengan Felix namun ia juga merasa tidak ada yang aneh pada Felix.
(Ah entahlah, pikirkan saja nanti. Untuk sekarang anggap saja ini liburan) gumam hati Alea menarik nafasnya dalam.
Keduanya kini tengah terduduk di atas kapal besar itu melihat matahari yang semakin lama semakin terbenam.
"Lihat itu, sangat indah" ucap Alea berdiri dan melangkah lebih jauh.
Alea merasa senang, ia menyukai pemandangan yang ada dihadapannya saat ini.
(Alea, rasa sayang ku padamu sangatlah tulus. Aku melakukannya untuk membuatmu senang, kita sudah lama tidak bertemu. Mari kita kesampingkan lebih dulu permasalah yang terjadi antara keluarga ku, Sean dan Maxi) gumam hati Felix.
"Saat ini aku hanya ingin bersamamu sebelum kau mengetahui segalanya dan menjauh dariku" lirih Felix.
"Felix" panggil Alea yang melihat Felix terus memandangnya dengan sangat aneh.
"Ah ya" balas Felix yang sedikit terkejut.
"Ada apa? kenapa kau memandangku seperti itu? seolah kita tidak akan bertemu lagi saja" jelas Alea.
"Ada-ada saja kau ini. Aku hanya tidak bisa berpaling saat melihat pemandangan indah dihadapanku" jelas Felix membuat Alea salah tingkah.