Beberapa menit kemudian, Jamsh kembali dan mengatakan bahwa rapat sudah siap. Setiap departemen sudah menunggu di ruang rapat.
Sean berdiri dari duduknya, ia mulai berjalan menuju ruang rapat.
Semuanya berdiri menyambut kedatangan Sean, setelah Sean duduk barulah semuanya duduk di kursi masing-masing.
Jamsh membuka rapat tersebut, lalu dilanjutkan dengan departemen lainnya yang mempresentasikan bahasan rapat.
Pandangan Sean tertuju pada bahan persentase, namun pikirannya kini berkeliaran entah kemana.
Ia mengingat apa yang dikatakan Maxi, namun dirinya juga mengingat bagaimana adiknya bunuh diri karena lelaki itu.
Clara Zhafani Deacon, itu adalah nama lengkap adik Sean. Selain Leon, Sean juga mempunyai adik perempuan yang merupakan kembaran Leon.
Clara jatuh cinta kepada Maxi. Namun karena keluarga mereka bermusuhan. Maxi dan Clara tidak bisa bersatu. Mereka saling terpaut dengan dendam keluarga masing-masing.
Hingga Clara sudah tidak bisa menahannya dan memilih untuk pergi selama-lamanya. Sean membaca diary Clara, oleh karena itu Sean mengetahui bagaimana dalamnya Clara mencintai Maxi.
Sejak kejadian itu, Sean mulai menyusun rencana untuk membalas pada Maxi. Ia ingin Maxi juga merasakan apa yang ia rasakan. Bagaimana kehilangan seorang adik perempuan yang ia sayangi.
Hingga Sean menyusun rencana untuk membuat Alea jatuh hati padanya, lalu meninggalkan gadis itu sampai hatinya merasa sakit.
"Tuan" panggil Jamsh.
"Tuan" ulang Jamsh.
"Tuan" ucap Jamsh membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya.
"Hm ya" timpal Sean.
"Bagaimana Presdir?" tanya salah satu departemen yang sudah mempresentasikan.
"Bagus. Rapat hari ini dicukupkan sekian, kita akan melanjutkannya besok" balas Sean yang langsung beranjak pergi meninggalkan ruang rapat.
Hening, lalu tak lama setelah Sean keluar semuanya membuka suara bergosip atas sikap Sean yang baru kali ini melihat nya tidak fokus dalam rapat.
Sementara itu, Maxi yang kini sudah berada di kediamannya segera mencari keberadaan Alea .
"Biii" panggil Maxi.
"Iya den" balas Bi Mirna. Orang tertua di rumah itu, bahkan Maxi sudah menganggapnya sebagai anggota keluarga.
"Dimana Le" tanya Maxi khawatir.
"Di kamarnya den"
"Terimakasih bi" ucap Maxi berjalan lebih cepat menuju kamar Alea.
Tok ... tok ... tok
Maxi mengetuk pintu kamar Alea. Tak lupa ia juga memanggil nama Alea yang tak kunjung mendapat jawaban hingga membuatnya semakin khawatir.
Brukk!!
Maxi yang langsung mendobrak pintu.
"Kakak, mengejutkanku" ucap Alea melepas kedua headsetnya yang terpasang di telinganya.
Tanpa berlama-lama, Maxi segera memeluk Alea. Ketakutannya semakin sangat besar, karena Alea adalah adik satu-satunya yang ia punya dan hanya dia keluarga yang ia miliki.
"Ada apa kak" tanya Alea merasa aneh dengan sikap Maxi.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu tidak membuka pintu" ucap Maxi.
"Aku tidak mendengarnya ka, dari tadi Le berolah raga untuk menghilangkan rasa sakit ini" balas Alea.
"Dengarkan kakak, apapun yang terjadi jangan berpikir berlebihan. Kamu masih punya kakak yang selalu menyayangi kamu" jelas Maxi.
"Aku tahu ka, terimakasih kakak selalu ada buat Le" balas Alea kembali memeluk sang kakak.
Tak lama dari itu, bi Mirna datang dan memberitahu Maxi bahwa Felix sudah menunggunya.
Felix Anderwish, tunangan Alea sekaligus tangan kanan/orang kepercayaan Maxi. Tak hanya itu, Felix juga merupakan teman masa kecil Alea dan Maxi. Keluarga mereka berhubungan sangat baik.
Ia juga tidak kalah tampan dari Sean dan Maxi, namun tetap saja Ketampanan Sean tidak ada yang bisa mengalahkannya.
"Le, ayo temui Felix" ajak Maxi mendapat anggukan dari Alea.
"Tunggu ka, kenapa kakak sangat cemas ketika aku tidak membuka pintu kamar?" tanya Alea.
"Kakak takut, terjadi sesuatu padamu. Sean melakukan semua itu untuk membalaskan dendam adiknya, yang bernama Clara"
"Memangnya ada apa dengan dia?"
Maxi menjelaskan apa yang terjadi antara Clara dan dirinya. Sontak hal itu membuat Alea terkejut.
"Kak, meskipun aku mulai mulai mencintainya, aku tidak mungkin melakukan hal itu" ucap Alea.
"Syukurlah jika seperti itu. Kakak tenang mendengarnya" balas Maxi.
"Siapa? siapa orang yang kamu cintai?" tanya Felix yang kini sudah berada di pintu kamar Alea.
Alea terdiam, ia melihat sosok lelaki itu. Sudah cukup lama dirinya tidak melihat Felix tunangannya sendiri. Saat ini Felix semakin tampan dari pada sebelumnya dan ia terlihat jauh lebih dewasa.
"Felix" pekik Alea.
"Sudah lama aku tidak melihatmu. Kau tahu, rindu ini semakin berat" ucap Felix mendekat dan memeluk Alea.
"Aku juga" balas Alea mengukir senyumnya. Namun aneh, ada sesuatu di dalam perasaannya yang tidak bisa ia jelaskan.
Alea memang merasa senang karena ia bisa kembali bertemu dengan Felix. Tetapi rasa senangnya berbeda ketika ia bertemu dengan Sean.
"Siapa orang itu?" tanya Felix melepas pelukannya.
"Siapa? yang mana?"
"Kamu mulai mencintai siapa?"
"Se-"
"Dia hanya asal bicara, jangan di masukkan ke dalam hati. Le hanya ingin mengerjaimu" potong Maxi.
Alea menoleh ke arah Maxi, kenapa Maxi memotong perkataannya.
"Jangan pernah mencintai orang lain selain aku Le" ucap Felix.
"Hm, aku tahu" balas Alea mendapat senyuman hangat dari lelaki yang ada dihadapannya.
"Ekhem, jadi nyamuk nih" celetuk Maxi membuat Alea dan Felix tertawa ringan.
"Felix, aku ingin berbicara denganmu" ucap Sean.
"Baik" balas Felix.
"Le, kamu siap-siap. Felix akan mengajakmu jalan-jalan"
"Tapi ka-"
"Sana-sana, sudah lama bukan kamu tidak jalan-jalan di kota ini"
"Hmm baiklah" balas Alea yang kemudian pergi untuk membersihkan badannya sekaligus bersiap.
Sementara itu, Maxi membawa Felix menjauh dari kamar Alea untuk mengajaknya bicara.
"Ada apa Max" tanya Felix.
Maxi membicarakan apa yang telah terjadi pada Alea. Ia meminta Felix untuk membawa Alea berjalan-jalan hingga dirinya lupa akan kesedihan yang sudah menerpa dirinya.
Felix yang mendengar cerita Maxi mengeratkan kepalan tangannya. Ia sungguh tidak terima jika kekasihnya di perlakukan seperti itu.
"Aku akan memberinya pelajaran" geram Felix berbalik melangkah pergi.
"Mau kemana kamu" tahan Maxi.
"Aku akan pergi ke perusahaannya" balas Felix.
"Tenanglah, aku sudah pergi ke sana, dan dia malah merasa menang juga senang. Lebih baik kita pikirkan bagaimana kita harus membalasnya secara bersih" jelas Maxi yang akhirnya bisa membuat Felix sedikit tenang.
"Tapi Max, aku tidak terima jika Le diperlakukan seperti itu"
"Begitupun denganku sebagai seorang kakak. Tetapi kita tidak bisa gegabah, kau tidak tahu bagaimana wajah bahagianya karena telah berhasil menculik Le, membuatku sangat kesal" ucap Maxi.
"Kita akan pikirkan itu lain kali. Sekarang, ajaklah dia jalan-jalan. Aku tidak mau jika ia terus mengingat hal itu" sambung Maxi.
"Baik, kau tenang saja. Aku akan membuatnya senang dan melupakan kesedihannya"
"Terimakasih"
"Tak usah sungkan Max"
"Tolong jaga dia"
"Aku pasti menjaganya" balas Felix mendapat anggukan dari Maxi.