Alea tidak menjawab apapun, ia hanya diam mendengar apa yang dijelaskan oleh Sean. Hingga tak lama Alea kembali mengantuk tak kuasa menahannya sampai tertidur.
Sean tersenyum, dan baru kali ini dia mengukir senyum hangatnya kala melihat Alea yang sudah tertidur.
Lelaki itu berdiri, lalu ia menggendong tubuh Alea dan membawanya ke dalam kamar.
...
Esok harinya, Alea sudah terbangun dari tidurnya. Rasa sakit yang ada pada punggung Alea sudah membaik. Dirinya kini tidak memerlukan kursi roda lagi, oleh karena itu Alea memilih untuk berjalan menuju kamar Sean.
"Sean" panggil Alea dari luar pintu.
"Sean" ulang Alea.
"Sean??" kini suara Alea yang sudah naik satu oktaf.
Alea sangat ingin mengetuk pintu yang ada di depannya. Hanya saja itu tidak akan bisa ia lakukan karena tangannya yang belum sembuh total.
Jika ia paksakan mungkin akan terasa nyeri dan lukanya akan kembali terbuka.
Sudah tiga kali Alea memanggil nama Sean namun tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar. Perut Alea yang sudah lapar tak kuasa lagi menahannya hingga ia memilih untuk memasuki kamar Sean.
"Sean, aku masuk ya" ucap Alea membuka pintu kamar Sean dengan bantuan sikutnya.
Klek
Alea tidak menemuka seseorang yang ia cari.
"Kemana dia" gumam Alea.
"Aaaaaaaa" tiba-tiba Alea yang berteriak karena melihat Sean yang hanya memakai handuk dililitkan pada pinggangnya.
"Sedang apa kamu disini" tanya Sean dengan santainya.
"Anu- itu. Lapar, aku lapar" ucap Alea terbata-bata. Dan entah kenapa saat ini pipinya terasa panas dan memerah.
Sean yang menyadari itu terlintas pikiran nakal pada otaknya.
Ia berjalan mendekat pada Alea yang menutup wajahnya dengan kedua tangan masih dibalut perban. Meskipun begitu, Alea juga sedikit mengintip melihat apa yang akan di lakukan lelaki itu.
"Mau apa kamu" ucap Alea melangkah mundur.
Sean yang melihat reaksi Alea semakin gemas dibuatnya. Dirinya semakin ingin mengerjai gadis kecil itu.
Bruk!
"Eh" pekik Alea yang sudah terpentok dinding kamar.
Sean menggerakkan tangannya menghalangi Alea dengan menempelkannya pada dinding membuat gadis itu tak leluasa bergerak bebas.
Sean mendekatkan wajahnya pada Alea, sangat dekat. Bahkan hembusan nafas keduanya terdengar sangat jelas.
Alea masih memejamkan matanya, hingga tak lama ia memberanikan diri membuka matanya membuat pandangan mereka saling bertemu.
Sepersekian detik Sean membuang wajahnya ia berbalik dan meminta Alea untuk menunggunya di dapur.
Selalu saja mata itu berhasil membuat hati Sean terpancing berdetak lebih cepat.
Sementara itu, Alea segera berlari keluar dari kamar meninggalkan Sean.
Hari demi hari terasa lebih cepat, interaksi keduanya semakin dekat. Tak terasa sudah dua minggu Alea berada di apartemen Sean.
Tubuhnya kini sudah sehat kembali dan tangannya juga sudah mulai membaik. Bahkan bekas luka pisau itu mulai memudar karena obat yang selalu ia pakai.
"Kenapa Sean belum datang" pekik Alea yang sudah menunggu Sean selama dua jam lebih.
Alea terus memandang jam yang terpasang di dinding. Ia berharap Sean segera pulang dan menyantap makanan yang sudah ia siapkan.
Klek
Pintu apartemen terbuka.
Alea segera berjalan melihat siapa yang datang memasuki apartemen. Ternyata benar, itu adalah Sean.
"Selamat malam, kenapa terlambat?" kalimat itulah yang selalu Alea katakan pada Sean setiap ia pulang dari kerjanya.
"Malam. Hari ini sangat melelahkan" balas Sean merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang.
"Mau ku pijat?" tawar Alea.
"Hm" balas Sean.
Alea tersenyum, dengan lembut ia memijat kening dan pelipis Sean.
Begitulah mereka, setiap pagi Alea membangunkan Sean. Dan sepulang kerja Alea selalu menunggu Sean.
"Bagaimana dengan ingatanmu?" tanya Sean.
"Belum ada kemajuan" jawab Alea menggelengkan kepalanya.
"Hmm, akan terasa lebih nyaman jika terus seperti ini" lirih Sean.
"Apa?" tanya Alea yang kurang jelas mendengar ucapan Sean.
"Tidak, teruslah pijat seperti itu" timpal Sean.
"Aku sudah memasak untuk malam ini, tetapi sepertinya makanannya sudah dingin. Mau ku hangatkan?" ucap Alea.
"Boleh. Aku membersihkan diri dulu" balas Sean.
Sean beranjak menuju kamarnya, dan Alea ia kembali menghangatkan makanan yang sudah ia buat sebelumnya.
"Sean, kamu harus fokus dengan tujuanmu" gumam Sean melihat pantulan dirinya didepan cermin.
Lima belas menit menunggu barulah Sean datang menuju ruang makan. Disana sudah ada Alea yang duduk siap memainkan jari jemarinya.
Miawww
"Hey kau mau juga? belum makan dia?" tanya Sean pada Alea.
"Sudah, aku sudah memberinya makan" balas Alea mengusap kucing itu.
Benar sekali, itu adalah kucing yang waktu itu mereka temukan di jalanan. Kini tubuh kucing itu terlihat berisi dan berwajah bulat.
Saat itu, setelah Alea pulang dari rumah sakit. Sean sudah membawa kucing itu dengan menitipkannya pada Jamsh.
Ia meminta Jamsh untuk merawatnya lebih dulu karena tangan Alea yang masih kesulitan untuk merawatnya.
Setelah tangan Alea membaik, barulah Sean meminta Jamsh untuk mengembalikan kucing itu. Dan saat itu Alea terlihat sangat senang kala melihatnya.
Kucing itu bernama 'Pusi' Sean dan Alea memilih nama itu untuknya.
Kembali ke ruang makan, Sean mulai duduk dan mengambil beberapa makanan. Rasanya sedikit aneh kala melihat makanan yang di hidangkan lumayan banyak.
"Cobalah ini" ucap Alea mengambil salah satu makanan yang ada disana.
"Bagaimana, enak?" tanya Alea melihat Sean menyuapkan makanannya.
"Hm" angguk Sean.
Alea tersenyum, ia juga memakan makanannya untuk menemani Sean. Namun, saat ini ia merasa tidak berselera. Ada hal yang harus ia sampaikan pada Sean. Namun, dirinya sedikit ragu.
"Ada apa?" tanya Sean yang melihat tingkah aneh Alea.
"Mmm"
"Katakan" ucap Sean masih dengan memakan makanan yang ada dihadapannya.
Alea terdiam, ia mulai meletakkan sendok yang ia pegang lalu meminum air putih untuk memulai apa yang ingin ia katakan.
"Apa aku boleh keluar" tanya Alea membuat Sean menghentikan gerakannya.
Alea sedikit menahan nafasnya kala melihat ekspresi Sean yang mulai berubah.
"Kenapa? apa kau bosan? aku akan memberimu-"
"Aku hanya ingin keluar, rasanya bosan seharian berada di rumah dengan pekerjaan yang sama" potong Alea.
"Kamu belum sembuh total"
"Aku sudah sembuh Sean. Lihat, aku sudah tidak apa-apa. Dan ini juga hanya tinggal bekasnya saja" jelas Alea menunjukan bekas luka yang ada pada telapak tangannya.
"Baiklah, kamu ingin kemana malam ini" tanya Sean menatap Alea.
"Hmm, kesini" tunjuk Alea mengeluarkan ponsel yang sudah ia siapkan.
"Bersiaplah" balas Sean membuat Alea mengukir senyumnya.
"Ok"
Alea beranjak dari ruang makan, ia kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dan bersiap. Sedangkan Sean, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya kala mendengar Alea yang bernyanyi kegirangan menuju kamarnya.