Ting!
Sebuah notifikasi masuk di layar ponsel milik seorang gadis yang duduk di balkon apartemennya. Dari wajahnya terlihat dia enggan untuk di usik. Dengan malas dia meraih ponsel yang berada di meja sebelahnya.
Ra besok Sabtu ada reuni SMA lo dateng yha. Banyak yang ngarepin lo dateng.
Bunyi pesan dari Lia sahabatnya. Aira Adelia Wicaksana gadis yang sekarang duduk dibalkon. Sudah 7 tahun berlalu semenjak kelulusan SMA dan Aira belum pernah sama sekali menghadiri acara reuni sekolahnya.
Awas kalo lo enggak dateng gue bakal nyulik lo di apartemen lo.!
Lia sudah sering kali membujuk Aira untuk menghadiri acara reuni tapi selalu di tolak mentah-mentah oleh Aira. Satu nama yang membuat Aira enggan untuk menghadiri acara tersebut. Nama yang selama ini dia tunggu nama yang selalu terselip dalam setiap doanya.
ADITYA RAHARDIAN
Flashback
Malam mulai menampakkan wajahnya, lampu lampu di taman dan jalan satu demi satu mulai menerangi. Bintang mulai menampakkan diri, sang rembulan pun tak mau kalah ikut menyinari malam.
Seorang gadis seakan tak peduli dengan semua itu, terus meluapkan emosinya pada bola basket yang di mainkannya sedari tadi sore.
"Aira...! udahan mainnya udah malam". Seorang wanita paruh baya keluar rumah mengkhawatirkan putri bungsunya yang belum berhenti bermain basket.
"Ntar Bun 15 menit lagii.." jawab Aira tak mengindahkan kata sang Bunda. Bunda hanya menghela napas membiarkan putrinya meluapkan kekesalannya.
Krriinnggg Krinngg...!!
Suara jam beker di kamar Aira begitu nyaring seakan bersemangat membangunkan Aira. Aira menggapai jam beker dan mematikannya, dia mengerjapkannya matanya masih begitu berat membuka mata, lalu bergegas bersiap siap melakukan ritual pagi.
Dengan polesan makeup yang sangat sederhana Aira turun ke ruang makan dan menyambar roti yang sudah di siapkan Bunda untuk sarapan.
"Kamu yakin dek ke sekolah naik motor itu..?? Jujur Bunda agak khawatir kamu naik motor itu." Bunda menatap khawatir pada putri bungsunya.
" Yakinlah Bun motor itu kan impian Aira dari kecil." Jawab Aira mantap dia paham apa yang membuat Bunda khawatir.
"Tenang aja Bun Aira kan udah sering bawa motornya bang Dika, Aira bakal hati hati bun bawa motornya" tambah Aira mengerti akan kekhawatirannya Bunda.
"Kamu masih kesel karena kepindahan kita..? " tanya bunda melihat masih ada mendung di wajah putrinya.
"Nggak Bun, Aira cuma menyesuaikan diri sama lingkungan baru, ya udah Bun Aira berangkat dulu."
"Roknya udah di bawa..??."
"Udah bun.."
"Berkas buat nglengkapin...."
"Udah semua bun udah Aira siapin, Aira berangkat dulu bun." Sahut Aira dan langsung mencium punggung tangan Bunda.
Satu ,dua ,tiga....... sepuluh tepat di hitungan ke sepuluh Aira membuka mata, di tariknya nafas dalam dalam kemudian di hembuskan perlahan. Kemudian secara perlahan kakinya melangkah mengikuti Bapak kepala sekolah yang sudah lebih dulu memasuki ruang kelas.
Dengan langkah ringan Aira masuk ke dalam kelas. Setelah memperkenalkan Aira pada wanita paruh baya di dalam Kelas. Pria paruh baya itu pamit untuk kembali ke ruangannya.
"Baiklah anak - anak Mohon perhatiannya sebentar hari ini kalian kedatangan teman baru, baik silakan perkenalkan diri kamu" Kata Bu lrma wali kelas XI IPS4
"Nama saya Aira Adelia biasa di panggil Aira saya pindahan dari kota xxx. " kata Aira singkat memperkenalkan dirinya, kelas yang tadinya hening ini mulai terdengar suara bisikan bisikan lirih tentang teman baru mereka.
"Silahkan duduk Aira..". Hanya ada satu bangku kosong di pojok kelas dekat jendela di sampingnya ada seorang cewek yang langsung memperkenalkan diri begitu Aira duduk di bangkunya.
"Hai gue Lia, salam kenal yahh moga betah disini.” ucap Lia sambil mengulurkan tangan.
"Aira."
***
"Ra ke kantin yukk.." ajak Lia pada Aira. Sudah satu minggu Aira sekolah di SMA XX. Tak terlalu banyak teman karena sikap diamnya, hanya Lia satu satunya teman yang dekat dengan Aira. "Males Li."
"Ayolah Ra udah seminggu lo disini, masa iya sih lo cuma ngabisin jam istirahat di kelas doang. Keluar yukk gue ajak keliling sekolah kalo lo nggak mau ke kantin". Tanpa menunggu persetujuan Aira ,Lia langsung manarik lengan Aira.
"Lo mau lihat apa dulu ra perpus, Uks, ruang OSIS, aula, koridor IPA, Bahasa, lapangan olahraga, lapangan basss..."
"Stop Li, lo tu cerewet banget tau nggak.." sahut Aira menghentikan ocehan temannya. Lia menerucutkan bibirnya.
"Abisnya lo diem aja sih Ra,, tapi ya Ra karena gue cerewet kita jadi makin deket tau nggak Ra, lo yang pendiem dan gue yang cerewet paket komplit tau nggak Ra.."
"Iyha iyha" sahut Aira."ajak gue ke lap basket."
"Ini lap basket indoor sekolah kita, lap ini kebanggaan sekolah kita. Setiap tahun akan ada pertandingan basket antar sekolah. Dan selalu tim basket putra bisa di andalkan."
Jelas Lia tanpa Aira minta, Aira sendiri sibuk memperhatikan sekeliling lapangan ada beberapa anak cheer sedang berlatih koreo.
"Oh iya Ra lo kayaknya belum ambil ekskul ya...??"
"Kalau tim putrinya..??." Aira bertanya sambil mengambil bola basket di keranjang dan memainkannya tak mengindahkan pertanyaan Lia.
" Tim putri enggak sehebat tim cowok, kami paling bagus di urut ke 3."
Aira mendribel bola sampai ke tengah lapangan dan memasukkannya ke dalam ring.
" Balik ke kelas yuk li.."
"Lo enggak mau daftar ekskul basket Ra, Gue lihat-lihat lo jago main basketnya."
" lihat nanti aja Li balik yuk..”