Bab 1 Selamat, Kamu Telah Menemukan Orang yang Selama Ini Kamu Tunggu
Sanaya Respati telah jatuh cinta pada Gavin Widjaya selama sebelas tahun sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah.
Hari ini, dia ingin memberikan sebuah hadiah yang sangat berharga kepada pria itu.
Sanaya tersenyum bahagia menatap hasil tes di tangannya. Begitu mendengar pintu terbuka, dia langsung berdiri.
"Gavin, aku ada sesuatu yang ingin kukatakan."
Namun Gavin tidak memberinya kesempatan untuk melanjutkan.
Dia mengeluarkan sebuah map dari tas kerjanya, lalu menyerahkannya kepada Sanaya.
"Ini surat pengajuan perceraian. Luangkan waktu untuk membacanya. Kalau tidak ada masalah, langsung tanda tangani saja."
Dia berhenti sejenak. Melihat Sanaya yang terpaku, nada suaranya sedikit melunak.
"Kalau ada syarat yang ingin ditambahkan, langsung hubungi Pak Roni."
Perceraian?
Kepala Sanaya langsung kosong. Telinganya berdengung dan butuh beberapa saat sampai dia bisa kembali berpikir.
Senyum manis di wajahnya perlahan menghilang.
"Gavin... kenapa tiba-tiba kamu ingin menceraikanku?"
Gavin meletakkan surat itu di atas meja.
"Natasya sudah kembali."
Hanya tiga kata.
Namun cukup untuk membuat Sanaya merasa seolah didorong jatuh ke jurang yang membeku.
Semua orang di lingkaran mereka tahu bahwa Gavin tidak pernah bisa melupakan Natasya.
Tiga tahun lalu, demi mendapatkan hak waris keluarga Widjaya, Gavin mengakhiri hubungannya dengan Natasya dan menerima perjodohan dengan Sanaya.
Di hari pernikahan mereka, Natasya pergi ke luar negeri.
Sanaya selalu tahu bahwa suatu hari nanti wanita itu pasti akan kembali.
Dia juga tahu...
Di antara dirinya dan Natasya, Gavin tidak akan pernah memilih dirinya.
Hanya saja, dia tidak pernah menyangka semuanya akan terjadi secepat ini.
Natasya baru saja kembali.
Dan Gavin langsung ingin mengakhiri pernikahan mereka.
Lalu...
Bagaimana dengan bayi mereka?
Sanaya sebenarnya ingin memberi tahu Gavin bahwa dia sedang hamil.
Namun sekarang, dia tidak lagi punya kesempatan untuk mengatakannya.
Bahkan, dia sempat berpikir...
Kalau tadi dia yang berbicara lebih dulu, apakah semuanya akan berbeda?
Saat Sanaya masih terdiam, Gavin kembali membuka suara.
"Dulu kita sudah sepakat. Setelah satu tahun menikah, kita bebas mengakhiri pernikahan ini kapan saja."
"Menurutku, sekarang waktunya."
Nada suaranya tetap lembut.
Namun justru kelembutan itu terasa seperti racun yang perlahan menghancurkan hati Sanaya.
Punggungnya dipenuhi keringat dingin.
Dia mengepalkan tangan sekuat tenaga hingga kukunya menusuk telapak tangannya sendiri, tetapi rasa sakit itu sama sekali tidak sebanding dengan luka di hatinya.
"Baik."
"Aku akan membacanya besok."
Hasil tes kehamilan di tangannya sudah kusut karena terus diremas.
Gavin menatap wajah Sanaya.
"Bukannya tadi kamu bilang ada yang ingin kamu katakan?"
Sanaya buru-buru menyembunyikan hasil tes kehamilan itu.
Dia memaksakan sebuah senyum yang bahkan lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Bukan apa-apa."
"Tadi aku hanya ingin memberitahumu kalau Natasya sudah kembali ke Jakarta."
Dia menarik napas panjang, lalu menatap pria yang telah dia cintai selama sebelas tahun.
"Selamat."
"Akhirnya kamu bisa bersama orang yang selama ini kamu tunggu."
"Terima kasih."
Gavin mengangguk pelan.
"Lalu, ada satu hal lagi."
"Untuk sementara, jangan beri tahu keluarga besar soal perceraian kita."
Sanaya hanya mengangguk kaku.
Pikirannya kembali melayang ke tiga tahun lalu.
Semua orang dari generasi tua kedua keluarga tahu bahwa kakek Gavin dan nenek Sanaya pernah memiliki hubungan yang tak pernah bisa dipersatukan.
Tiga tahun lalu, Tuan Widjaya meminta Gavin menikah dengan putri keluarga Respati sebagai syarat untuk mewarisi keluarga Widjaya.
Sebenarnya, yang dijodohkan dengan Gavin adalah kakak tiri Sanaya, Erina.
Namun Erina percaya pada rumor yang mengatakan Gavin pernah melampiaskan amarahnya kepada seorang pegawai bar saat mabuk hingga membuat orang itu terluka parah. Dia takut menikah dengan pria yang dianggap memiliki sifat kasar, sehingga menolak mentah-mentah dan melemparkan perjodohan itu kepada Sanaya.
Saat itu Sanaya baru lulus kuliah.
Ayahnya bersikap dingin, sementara ibu tiri dan kakak tirinya terus menindasnya. Di mata keluarga Respati, dia tidak lebih dari alat untuk membawa keuntungan bagi keluarga.
Dalam waktu satu bulan, dia dipaksa menjalani lebih dari sepuluh kali kencan buta.
Dia merasa tertekan dan ingin melarikan diri, tetapi tidak ada seorang pun yang mau membantunya.
Setiap malam dia bermimpi buruk.
Dia bermimpi dipaksa menikah dengan pria paruh baya yang sama sekali tidak dikenalnya, atau pria tua yang sudah berada di ambang kematian.
Karena itulah, ketika ayahnya, Bambang Respati, memintanya menikah dengan Gavin Widjaya, dia diam-diam justru merasa lega dan langsung menyetujuinya.
Meski tahu hati Gavin bukan miliknya, setidaknya dia bisa lebih dekat dengan pria yang dicintainya dan sekaligus terbebas dari keluarga Respati.
Namun pada malam pernikahan mereka, semua angan indah Sanaya tentang kehidupan rumah tangga dihancurkan oleh Gavin Widjaya.