Pagi datang dengan cahaya abu-abu yang menyelinap pelan melalui celah gorden.
Savira terbangun lebih dulu. Matanya terbuka di tengah keheningan yang masih kental, dan untuk beberapa detik ia hanya terbaring diam, mendengarkan. Napas Arkan di sofa terdengar dalam dan teratur kali ini ia benar-benar tertidur. d**a pria itu naik-turun stabil, satu lengan terlipat di bawah kepala, kaki lurus menumpuk di ujung sofa yang agak pendek untuk tingginya.
Savira bergerak pelan, berusaha tidak menimbulkan bunyi. Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajah, lalu berdiri. Lantai kayu terasa dingin di telapak kakinya. Ia mengambil handuk dan pakaian ganti, kemudian melangkah ke kamar mandi tanpa menyalakan lampu utama. Pintu kamar mandi ditutupnya hati-hati.
Air hangat mengalir, mengusir sisa kantuk yang dangkal. Namun pikirannya tidak ikut bersih. Malam yang sunyi masih terasa menempel di kulit. Napas yang saling berdekatan, keheningan yang terlalu sadar, dan fakta bahwa ia bisa mengingat ritme napas Arkan bahkan setelah bangun tidur membuatnya mengerutkan dahi di bawah guyuran air.
Ketika ia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan kemeja kerja sudah terpasang, Arkan sudah duduk di sofa. Kaos oblongnya agak kusut, rambutnya berantakan ke belakang, dan matanya masih setengah mengantuk ketika menatapnya.
“Pagi,” kata Arkan singkat, suaranya masih serak.
“Pagi.” Savira mengangguk, lalu berjalan ke cermin kecil di dekat lemari untuk mengikat rambut. “Saya sudah selesai. Kamar mandi kosong.”
Arkan berdiri. Gerakannya masih sedikit kaku karena tidur di sofa. Ia melewati Savira dengan jarak yang dihitung hati-hati—tidak terlalu dekat, namun di ruang yang sempit itu tetap terasa ada gesekan udara di antara mereka. Savira menahan napas tanpa sadar ketika aroma sabun dan kulit hangat semalam masih samar menempel di tubuh pria itu.
Pintu kamar mandi tertutup. Suara air mengalir kembali terdengar.
Savira memanfaatkan waktu itu untuk merapikan ranjang dan menyiapkan tas kerjanya. Ia membuka gorden lebar-lebar. Cahaya pagi yang redup masuk, memperlihatkan kebun belakang yang basah oleh embun. Terpal renovasi di lantai dua berkibas pelan tertiup angin. Rumah itu masih terlihat setengah hancur, sama seperti perasaan yang mulai mengendap di dadanya.
Ketika Arkan keluar dari kamar mandi, ia sudah berganti kemeja abu-abu dan celana formal. Rambutnya disisir ke belakang dengan jari, masih sedikit basah. Ia berjalan ke meja kecil, mengambil jam tangan, lalu mengenakannya dengan gerakan otomatis.
“Saya ke kantor lebih awal,” katanya tanpa menoleh. “Ada pertemuan dengan tim struktur bangunan.”
Savira mengangguk. “Saya menyusul nanti. Ada beberapa laporan operasional yang harus saya selesaikan dulu di sini.”
Arkan akhirnya menoleh. Matanya menangkap rambut Savira yang masih basah di ujung-ujungnya, lalu turun ke kemeja yang agak longgar di bahunya. Tatapan itu hanya berlangsung sedetik, namun cukup lama untuk membuat Savira sadar bahwa pria itu memperhatikan.
“Kamu tidak sarapan?” tanya Arkan.
“Nanti saja.”
“Sania biasanya menyiapkan sesuatu di dapur sebelum jam tujuh.”
“Saya bisa mengurus sendiri.”
Arkan terdiam sejenak. Ia seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan niat. “Jangan lupa dokumen di meja. Saya sudah beri catatan di halaman depan.”
“Baik.”
Ia mengangguk sekali, lalu keluar dari kamar. Langkah kakinya menjauh di koridor. Pintu utama sayap belakang tertutup pelan.
Savira menghela napas yang tidak ia sadari ditahannya. Ruangan terasa lebih lega tanpa kehadiran Arkan, namun juga lebih kosong. Ia duduk di tepi ranjang, menatap sofa yang masih berantakan. Bantal bekas dipakai Arkan masih menyisakan bentuk kepalanya. Selimut tipis terlipat sembarangan di salah satu ujung.
Ia berdiri dan merapikan sofa itu tanpa dipikirkan lebih dulu. Gerakan itu terasa terlalu domestik, terlalu intim. Ketika sadar, ia sudah melipat selimut dengan rapi dan menyusun bantal kembali. Tangannya berhenti di udara.
“Bodoh,” gumamanya pelan.
Pagi itu dilalui dengan pekerjaan. Savira duduk di meja kecil, membuka laptop, dan memaksa fokus pada angka-angka operasional. Namun sesekali pandangannya teralih pada bekas-bekas kehadiran Arkan di kamar: jam tangan yang tertinggal sejenak di meja sebelum diambil, aroma parfum yang masih samar di udara, dan kesadaran bahwa malam nanti pria itu akan kembali ke ruang yang sama.
Menjelang siang, Sania mengetuk pintu.
“Mbak Savira, Bu Ratnawati minta anda turun sebentar. Ada urusan dengan mandor.”
Savira menyimpan pekerjaannya dan turun. Di ruang tamu yang masih penuh debu, Ibu Ratnawati berdiri bersama mandor dan Arkan yang ternyata belum berangkat ke kantor. Pria itu berdiri dengan lengan disilangkan, wajahnya serius.
“Kerusakan di balok utama lebih luas,” kata mandor. “Kami harus membongkar sebagian dinding tambahan. Untuk sementara, area belakang ini semakin penting. Tidak ada pilihan lain.”
Ibu Ratnawati menghela napas. “Jadi kalian berdua benar-benar harus bertahan di kamar itu lebih lama.”
Arkan tidak menjawab. Ia hanya menatap Savira sejenak, lalu kembali ke mandor. “Lakukan apa pun yang perlu. Yang penting struktur aman.”
Setelah mandor pergi, Ibu Ratnawati menoleh ke arah keduanya. “Saya tahu ini tidak nyaman. Tapi keluarga harus saling menyesuaikan. Jangan sampai urusan kamar membuat kalian berdua kehilangan fokus pada hal yang lebih penting.”
Savira hanya mengangguk. Arkan tetap diam.
Ketika Ibu Ratnawati sudah menjauh, Arkan berjalan mendekati Savira di sudut ruangan. Jarak di antara mereka masih sopan, namun di ruang yang agak sepi itu terasa lebih dekat dari yang seharusnya.
“Kalau kamu merasa terlalu sesak, bilang,” katanya pelan. “Saya bisa tidur di ruang kerja bawah sementara.”
Savira menatapnya. “Dan memberi bahan gunjingan tambahan? Tidak perlu. Saya baik-baik saja.”
Arkan mengamati wajahnya, seolah mencari kebohongan. “Kamu selalu bilang baik-baik saja.”
“Karena memang begitu.”
“Atau karena kamu tidak mau dibantu.”
Savira menegakkan bahu. “Saya terbiasa mengurus diri sendiri, Arkan. Sudah lama.”
Arkan terdiam. Ada sesuatu yang lewat di matanya—bukan belas kasihan, melainkan pengakuan. Ia mengangguk pelan. “Baik. Tapi kalau suatu malam kamu berubah pikiran, sofa itu bisa saya tinggalkan.”
Ia tidak menunggu jawaban. Hanya berbalik dan berjalan menuju garasi.
Savira berdiri diam di tempat, memandang punggung pria itu menjauh. Kalimat Arkan masih terngiang. Bukan tawaran yang manis. Lebih seperti pintu kecil yang sengaja dibiarkan terbuka, meski keduanya tahu membuka pintu itu berbahaya.
Siang hari dilanjutkan dengan pekerjaan di rumah. Namun fokus Savira terus retak. Setiap kali ia mendengar suara mobil di luar atau langkah kaki di koridor, ia otomatis menoleh. Kesadaran akan kehadiran Arkan sudah mulai merembes ke siang hari, bukan hanya malam.
Sore harinya, ketika matahari mulai turun, Arkan kembali. Ia masuk ke kamar dengan jas tersampir di lengan, wajah sedikit lelah. Savira sedang duduk di meja, masih berkutat dengan laptop.
“Sudah makan?” tanya Arkan sambil melepas jam tangan.
“Belum.”
Ia mengangguk, lalu keluar lagi tanpa berkata apa-apa. Lima belas menit kemudian ia kembali membawa dua kotak makanan dari dapur. Diletakkannya satu di depan Savira.
“Sania bilang kamu belum turun sepanjang hari.”
Savira menatap kotak makanan itu, lalu menatap Arkan. “Saya bisa mengambil sendiri.”
“Saya tahu,” jawab Arkan singkat. “Tapi ini lebih cepat.”
Ia duduk di sofa dengan kotak makanannya sendiri, membuka tutupnya, dan mulai makan dalam diam. Savira akhirnya membuka kotaknya juga. Keheningan kembali mengisi kamar, namun kali ini berbeda. Bukan sunyi yang kaku seperti semalam. Lebih seperti keheningan yang mulai terbiasa.
Sesekali, ketika mereka secara tidak sengaja saling menatap, tatapan itu tertahan sedikit lebih lama dari yang diperlukan. Lalu salah satu memalingkan wajah lebih dulu.
Jarak di antara mereka tidak berubah secara fisik.
Masih dua meter.
Masih ranjang dan sofa.
Namun sesuatu yang tidak terlihat sudah mulai menipis.
Dan Savira tahu, semakin sering mereka berbagi ruang yang sama di pagi hari, di siang hari, dan di malam hari, semakin sulit menjaga jarak itu tetap aman.