Mereka datang ke rumah Wiratama keesokan sorenya, dengan mobil hitam Arkan, dan masuk lewat pintu depan.
Bukan pintu belakang. Bukan garasi samping. Pintu depan, melalui beranda tempat Ibu Ratnawati menyambut Savira pada hari pertama dengan kebaya abu-abu dan mata yang tajam.
Malam sebelumnya, Arkan pulang dari kontrakan sebelum pukul sepuluh. Ia tidak meminta menginap, dan Savira tidak menawarkannya. Mereka duduk di lantai ruang depan yang lembap selama dua jam, mengosongkan ember bergantian, dan berbicara tentang apa yang akan mereka katakan. Ketika Arkan pergi, ia berhenti di ambang pintu, mencium kening Savira sekali, setelah bertanya lebih dulu, lalu berjalan di bawah gerimis dengan payung patah di tangannya.
Sekarang mereka berdiri di ruang tamu yang masih berdebu, di depan sofa panjang yang pernah menjadi tempat tidur Savira di malam pertengkaran itu. Pak Gumilar duduk di kursi kayu. Ibu Ratnawati di sampingnya. Sania berdiri di ambang pintu dapur, dan Savira tidak memintanya pergi.
“Kami datang untuk mengatakan sesuatu,” kata Arkan. Ia berdiri di samping Savira, tidak menggenggam tangannya, tetapi cukup dekat sehingga lengan mereka hampir bersentuhan. “Dan kami ingin Ibu dan Pak Gumilar mendengarnya langsung dari kami, bukan dari Ardana, bukan dari pembantu, bukan dari rekaman apa pun.”
Pak Gumilar tidak bergerak. Wajahnya keras seperti batu.
“Kami saling mencintai,” kata Savira.
Ia mengatakannya dengan jelas. Tidak gemetar. Ia sudah menangis semalam, untuk pertama kali dalam hampir tiga bulan, dan pagi ini ia bangun dengan dada yang terasa lebih ringan dari yang pernah ia ingat.
“Tidak ada yang terjadi di kamar belakang selain yang sudah kalian ketahui,” lanjut Arkan. “Saya tidur di sofa itu, atau di ruang kerja bawah ketika kami mencoba menjaga jarak. Sentuhan di gudang itu, saya sudah meminta maaf malam itu juga. Kami tidak pernah melewati batas apa pun di bawah atap rumah ini. Tapi kami tidak akan berpura-pura lagi bahwa tidak ada apa-apa di antara kami.”
Ruang tamu itu sunyi. Ibu Ratnawati menunduk ke tangannya yang terlipat di pangkuan.
Pak Gumilar berdiri.
“Kamu tahu apa artinya ini,” katanya kepada Arkan. Suaranya pelan, tetapi dingin seperti lantai berlapis plastik di bawah kaki mereka. “Saya sudah memperingatkanmu. Satu gunjingan lagi.”
“Saya tahu, Pak.”
“Dan kamu tetap datang ke sini, berdiri di ruang tamu ini, dan mengatakannya di depan saya.”
“Karena ini yang benar.”
Pak Gumilar menatapnya lama. Lalu ia berbicara dengan nada seorang pelaksana wasiat yang membacakan putusan.
“Mulai saat ini, kamu bukan lagi direktur utama perusahaan ini. Saya akan menandatangani suratnya malam ini dan mengirimkannya ke dewan besok pagi. Serahkan kunci kantormu dan semua akses dalam tiga hari.”
Sania menutup mulutnya dengan tangan. Ibu Ratnawati mengangkat wajah dengan cepat, seperti hendak membantah, lalu menutup mulutnya lagi.
Arkan tidak membantah. Ia hanya mengangguk sekali.
“Baik, Pak,” katanya.
Savira merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Ia tahu ini akan terjadi. Mereka sudah membicarakannya semalam, duduk di lantai kontrakan. Arkan berkata, jabatan itu bisa diambil. Kamu tidak bisa diganti. Tetapi melihatnya terjadi di depan matanya, dengan Pak Gumilar yang berdiri dan Arkan yang menunduk menerima, tetap terasa seperti melihat dinding runtuh.
Tiga hari berikutnya berjalan cepat.
Arkan menyerahkan kunci kantornya kepada sekretaris direksi pada hari Senin berikutnya, bersama kartu akses, laptop perusahaan, dan map berisi daftar proyek yang sedang berjalan. Ia menulis catatan serah terima selama dua malam, rapi dan lengkap, supaya siapa pun yang menggantikannya tidak kehilangan satu pun benang.
Savira menandatangani surat pelepasan hak atas bagian almarhum suaminya di kantor notaris pada hari yang sama. Bukan surat yang ditawarkan Pak Gumilar bersama cek di amplop cokelat. Surat yang lain, yang ia minta sendiri dibuatkan: pelepasan tanpa pembayaran apa pun.
“Ibu yakin?” tanya notaris itu dua kali. “Nilai bagian ini cukup besar.”
“Saya yakin,” jawab Savira. “Saya tidak mau terikat oleh apa pun yang membuat saya harus tinggal di tempat yang bukan pilihan saya. Dan saya tidak mau dibayar untuk pergi.”
Ia keluar dari kantor notaris dengan tangan kosong dan napas yang terasa lebih panjang.
Hari Selasa, Danendra datang ke rumah Wiratama dengan mobil bak terbuka sewaan. Savira mengambil sisa barangnya dari kamar belakang: beberapa buku, map-map kerja yang selama ini ia tumpuk di meja lipat, dan sebuah kotak kecil berisi barang-barang yang belum sempat ia buka sejak pindah.
Ia berdiri di tengah kamar itu untuk terakhir kalinya. Ranjang queen size dengan seprai yang sudah diganti Sania. Sofa di sudut, kosong. Lampu tidur kecil di sisi ranjang. Jendela yang menghadap kebun belakang dan pohon rambutan.
Kamar yang dulu ia benci. Kamar yang sekarang ia tahu akan ia rindukan.
Arkan juga mengemasi barangnya hari itu, dan Danendra mengangkat kardus-kardusnya ke bak mobil yang sama tanpa banyak bertanya. Ia meninggalkan rumah Wiratama, bukan karena diusir, tetapi karena ia memilih. Ia tahu klausul kehadiran berlaku juga untuknya: selama ia di luar, suaranya atas bagian yang belum dibagi dikelola Pak Gumilar. Ia menerimanya. Ia menyewa sebuah kamar kecil di rumah kos dua gang dari kontrakan Savira: satu ranjang, satu meja, satu jendela yang menghadap jemuran tetangga.
“Kamu yakin?” tanya Savira ketika mereka berdiri di depan rumah kos itu, menatap jendela kecil di lantai dua.
“Lebih yakin dari keputusan apa pun yang pernah saya buat di ruang rapat,” jawab Arkan.
Malam itu, mereka duduk di teras kontrakan Savira dan membuat kesepakatan. Mereka mengucapkannya dengan pelan, satu per satu, seperti membaca pasal-pasal kontrak.
Mereka tidak akan tinggal serumah sebelum ada ikatan yang sah. Tidak sebelum masa duka Savira selesai. Tidak sebelum mereka berdua yakin, benar-benar yakin, bahwa apa yang mereka miliki bukan hanya hasil dari minggu-minggu panjang di satu kamar yang terlarang.
“Kalau suatu saat kamu berubah pikiran,” kata Arkan, “kamu bilang. Dan saya akan mengerti.”
“Saya tidak akan berubah pikiran.”
“Kamu tetap boleh.”
Savira menatapnya, lalu tersenyum. Senyum pertama yang benar-benar lepas sejak ia tiba di rumah Wiratama.
Keesokan paginya, seorang tukang datang ke kontrakan dengan tangga dan seng baru. Savira membayarnya sendiri, dari tabungan yang dulu ia kumpulkan untuk pergi dari pernikahannya. Ia berdiri di halaman kecil itu dan memandangi tukang itu menambal tiga titik bocor satu per satu.
Ketika malam turun dan hujan kembali datang, tidak ada satu tetes pun yang jatuh ke dalam.
Savira duduk di ruang depan yang kering, tanpa ember, dan mendengarkan hujan di atas seng baru.
Untuk pertama kalinya, bunyi itu terdengar seperti rumah.