Pak Gumilar menunggu mereka di ruang kerja bawah malam itu juga.
Sania yang menyampaikan pesannya, dan kali ini wajahnya tidak tenang. Matanya merah, seperti habis menangis atau menahan tangis. “Mas Arkan, Mbak Savira. Pak Gumilar minta kalian berdua turun. Sekarang.”
Arkan mengangguk. Ia menoleh kepada Savira dan menunggu. Savira mengambil napas, lalu berjalan lebih dulu.
Ruang kerja itu terang benderang. Pak Gumilar berdiri di balik meja, tidak duduk. Laptop terbuka di depannya, dan di layarnya, gambar hitam putih yang sama yang membeku di ruang rapat lantai enam tadi siang.
Ardana tidak ada di ruangan. Tapi ia tidak perlu ada.
“Tutup pintunya,” kata Pak Gumilar.
Arkan menutupnya.
Untuk waktu yang lama, Pak Gumilar tidak bicara. Ia hanya menatap mereka berdua bergantian, lalu menatap layar laptop, lalu kembali kepada mereka. Rahangnya bergerak, seperti orang yang mengunyah sesuatu yang pahit.
“Sepuluh detik,” katanya akhirnya. “Ardana menghitungnya untuk saya. Ia bahkan menandainya di rekaman.”
“Papan itu jatuh,” kata Arkan. “Saya menarik Savira. Saya tidak langsung melepaskan tangan saya. Itu kesalahan saya. Malam itu juga saya meminta maaf kepadanya.”
“Kamu meminta maaf.” Pak Gumilar tertawa pendek, tanpa humor. “Direktur utama perusahaan ini memeluk janda adiknya sendiri di gudang selama sepuluh detik, lalu meminta maaf. Dan sekarang rekamannya ada di tangan orang yang paling ingin menjatuhkanmu.”
“Ardana mendapatkannya dari mandor dengan alasan palsu,” kata Savira. “Ia memakainya untuk memeras kami supaya mendukung penjualan aset.”
“Saya tahu apa yang dilakukan Ardana.” Pak Gumilar memukul meja dengan telapak tangan, tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Savira tersentak. “Dan saya akan mengurusnya. Tapi itu tidak menghapus apa yang ada di rekaman ini. Tidak menghapus gunjingan pembantu. Tidak menghapus Arkan yang pindah tidur ke ruangan ini seminggu yang lalu.” Ia menunjuk sofa kecil di sudut ruang kerja, tempat bantal Arkan dulu diletakkan. “Kalian pikir saya tidak tahu?”
Tidak ada yang menjawab.
Pak Gumilar menarik napas panjang. Ketika ia bicara lagi, suaranya lebih rendah, lebih dingin.
“Kalau saya bisa, saya akan menyuruh salah satu dari kalian pindah malam ini juga. Tapi klausul itu mengikat kalian berdua di rumah ini. Arkan tidak bisa pergi. Savira tidak bisa pergi tanpa kehilangan suaranya. Jadi saya tidak punya pilihan selain menjaga supaya ini tidak menjadi lebih buruk.” Ia menatap Arkan. “Mulai besok, kamu copot Savira dari proyek gudang timur. Serahkan ke Danendra. Tidak ada lagi rapat berdua, laporan langsung, atau apa pun yang membuat orang bisa menulis nama kalian dalam satu kalimat.”
“Proyek itu usulan Savira,” kata Arkan.
“Saya tidak peduli usulan siapa.” Pak Gumilar tidak meninggikan suara. Ia tidak perlu. “Dan kalau saya mendengar satu gunjingan lagi, satu saja, dari rumah ini atau dari kantor, saya cabut jabatanmu. Saya punya wewenang untuk itu selama pembagian belum selesai. Kamu tahu saya akan melakukannya.”
Arkan tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Savira melihat tangannya terkepal di sisi tubuh, seperti di kebun belakang.
“Keluar, kalian berdua,” kata Pak Gumilar. “Savira, besok pagi saya ingin bicara denganmu. Datang ke ruang tamu setelah sarapan.”
Esok paginya, Pak Gumilar menunggu di ruang tamu yang berdebu. Ibu Ratnawati duduk di sofa panjang yang sudah dibersihkan dari kain putih, kebaya abu-abunya kontras dengan dinding yang sobek. Di meja kecil di depan mereka, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal dan selembar kertas bermeterai.
Savira berdiri di ambang pintu. Arkan sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, atas perintah Pak Gumilar.
“Duduk,” kata Pak Gumilar.
Savira duduk di kursi kayu di seberang mereka.
Pak Gumilar mendorong amplop itu ke arahnya. “Buka.”
Savira membukanya. Di dalamnya, selembar cek dengan angka yang membuatnya membaca dua kali. Angka yang cukup untuk membeli rumah kecil, bukan mengontrak. Cukup untuk hidup bertahun-tahun tanpa bekerja.
“Itu nilai pasar bagian suamimu,” kata Pak Gumilar, “dibayar tunai, hari ini juga. Kamu tanda tangani surat pelepasan hak ini. Kamu tidak perlu menunggu tahap terakhir. Kamu tidak perlu terikat klausul kehadiran lagi. Kamu bisa pergi dari rumah ini besok pagi, mulai hidup baru di mana pun kamu mau.” Ia berhenti. “Dan rumah ini bisa melupakan apa pun yang ada di rekaman itu.”
Savira menatap cek di tangannya. Lalu menatap surat pelepasan hak. Lalu menatap Pak Gumilar.
Ia meletakkan cek itu kembali ke dalam amplop. Pelan-pelan. Lalu ia mendorong amplop itu kembali ke tengah meja.
“Tidak,” katanya.
“Itu tawaran yang adil.”
“Itu tawaran untuk membeli kepergian saya.” Savira menatap pria itu lurus. “Kalau saya tanda tangan, suara saya hilang. Rapat dua minggu lagi, aset-aset itu dijual, termasuk gudang timur. Ardana menang. Dan saya pergi seperti orang yang bersalah, dibayar supaya diam.” Ia menggeleng. “Saya tidak melakukan apa pun yang perlu dibeli, Pak. Saya tidak akan menjual suara suami saya untuk membersihkan nama keluarga ini.”
Pak Gumilar menatapnya dengan wajah yang tidak terbaca. Di sampingnya, Ibu Ratnawati tidak bergerak.
“Kamu menolak uang sebanyak itu,” kata Pak Gumilar, “demi sebuah gudang?”
“Demi suara saya sendiri.”
Hening yang panjang.
Lalu Ibu Ratnawati berbicara, untuk pertama kalinya pagi itu.
“Savira.” Suaranya pelan, sangat pelan. “Saya akan bertanya satu kali, dan saya ingin kamu menjawab jujur. Apakah kamu mencintai Arkan?”
Pertanyaan itu menghantam Savira seperti papan kayu yang jatuh. Pak Gumilar menoleh tajam ke arah Ibu Ratnawati, tetapi Ibu Ratnawati tidak melepaskan tatapannya dari Savira.
Savira membuka mulut. Kata-kata berebut di tenggorokannya: tidak, tentu tidak, ia ipar saya. Kata-kata yang sudah ia latih berkali-kali dalam kepalanya sejak hari pertama.
Ia tidak mengucapkannya.
“Bu,” katanya, dan suaranya bergetar sedikit, tetapi ia tidak mengalihkan pandangan. “Saya tidak akan menjawab pertanyaan itu kepada siapa pun. Tidak kepada Ibu, tidak kepada Pak Gumilar, tidak kepada Ardana.” Ia menarik napas. “Sebelum saya mengatakannya kepada Arkan sendiri.”
Ibu Ratnawati menatapnya lama. Matanya tidak marah. Matanya basah.
Savira berdiri. Ia mengangguk kepada mereka berdua dengan sopan, seperti menantu yang baik, lalu berjalan keluar dari ruang tamu berdebu itu dengan punggung tegak.
Di belakangnya, ia mendengar Ibu Ratnawati berbisik sesuatu kepada Pak Gumilar. Hanya satu kata yang tertangkap telinganya.
Larasati.