Kebun belakang masih basah oleh hujan semalam.
Rumput di sekitar pohon rambutan tumbuh tidak rata, sebagian tertimbun pasir yang tercecer dari tumpukan material renovasi. Gudang kecil di ujung kebun sudah dipasangi pita pembatas merah sejak kejadian papan itu. Chalista berjalan di depan dengan langkah ringan, hak sepatunya sesekali tenggelam di tanah lembap, tetapi ia tidak mengeluh.
Ia berhenti di bawah pohon rambutan dan mendongak memandang dahan-dahannya.
“Dulu ada ayunan di sini,” katanya. “Dari tali tambang dan papan kayu. Arkan yang memasangnya, waktu kami baru dijodohkan. Dia bilang rumah sebesar ini perlu satu tempat yang tidak serius.” Ia tersenyum, tetapi kali ini senyum itu tidak ditujukan kepada siapa pun. “Ayunannya sudah dibongkar sekarang, ya.”
Savira berdiri dua langkah di belakangnya. “Saya tidak tahu. Saya baru seminggu lebih di sini.”
“Tentu.” Chalista berbalik. Di bawah bayang-bayang daun, wajahnya terlihat lebih letih daripada di ruang makan. “Maaf soal tadi. Kata-kata saya di meja. Saya tidak bermaksud mempermalukanmu di depan keluarga.”
“Tapi kamu tetap mengatakannya.”
Chalista tertawa pelan. “Kamu lebih tajam dari yang saya kira.”
Savira tidak menanggapi. Ia menunggu. Perempuan ini tidak mengajaknya ke kebun untuk melihat pohon rambutan.
“Saya akan bicara terus terang,” kata Chalista akhirnya. Ia melipat tangan di depan dada. “Semua orang di keluarga ini mengira Arkan memutus pertunangan kami karena dia tidak mencintai saya. Itu tidak benar.”
“Saya tidak pernah bertanya.”
“Tapi kamu ingin tahu. Saya bisa melihatnya.” Mata Chalista tidak berkedip. “Arkan mencintai saya. Dia memutus pertunangan karena keadaan, bukan karena perasaan. Ada hal-hal di keluarga ini yang membuatnya takut terikat. Kamu tidak akan mengerti kalau belum lama di sini.”
Angin bertiup, menggoyangkan dahan di atas mereka. Beberapa tetes air sisa hujan jatuh dari daun dan mengenai bahu Savira.
“Saya mengatakan ini supaya kamu tidak salah paham,” lanjut Chalista. Suaranya melunak, hampir seperti nasihat seorang kakak. “Arkan itu baik. Dia akan menjaga siapa pun yang tinggal di bawah atapnya. Dia akan membawakan makanan, mengurus atap kontrakanmu, menarikmu dari bahaya. Dan perempuan yang sedang kesepian sering salah mengartikan itu.” Ia berhenti. “Pergilah dari rumah ini, Savira, sebelum kamu terluka. Kamu masih muda. Kamu bisa mulai lagi di tempat lain.”
Savira merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tengkuknya. Menarikmu dari bahaya. Dari mana perempuan ini tahu?
Mungkin hanya kebetulan. Mungkin hanya kalimat umum. Tapi rumah ini punya banyak mata, dan Sania pernah bilang para pembantu bergunjing.
Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Tidak ada jawaban yang tidak akan dipakai untuk melawannya. Kalau ia membantah, ia terlihat defensif. Kalau ia setuju, ia mengakui sesuatu yang tidak ada. Kalau ia bertanya, ia memperlihatkan bahwa kata-kata itu mengenai sasarannya.
Jadi Savira tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menatap Chalista, lama, sampai senyum di wajah perempuan itu mulai terasa dipaksakan.
Lalu ia berbalik ke arah rumah.
“Chalista.”
Suara itu datang dari arah teras belakang. Savira berhenti.
Arkan berdiri di anak tangga teras, satu tangan di saku celana. Ia tidak berjalan mendekat. Ia tidak perlu. Suaranya sudah cukup untuk membuat udara di kebun itu berubah.
“Mobilmu sudah siap,” katanya. “Sopirmu menunggu di depan.”
Chalista menegakkan bahu. Senyum ramahnya kembali, seolah tidak pernah pergi. “Saya belum pamit kepada Ibu.”
“Ibu sedang istirahat. Saya akan menyampaikan pamitmu.”
“Kamu mengusir saya?”
“Saya memintamu pulang.”
Chalista melangkah melewati Savira, mendekati teras sampai jarak mereka hanya beberapa meter. Hak sepatunya meninggalkan jejak dalam di tanah basah. “Lucu,” katanya. “Kamu membela dia di meja makan, lalu kamu mengusir saya dari kebun. Kamu pikir orang tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi?”
“Pulang, Chalista.”
“Atau apa?” Suaranya meninggi. “Kamu akan pergi begitu saja, seperti biasa? Seperti waktu itu?” Ia menoleh sekilas ke arah Savira, lalu kembali kepada Arkan, dan matanya berkilat. “Hati-hati, Arkan. Kamu tahu apa yang terjadi pada orang yang membiarkan perasaan menghancurkan keluarga ini. Tanyakan saja pada Larasati. Oh, maaf, kamu tidak bisa. Dia sudah pergi meninggalkanmu, kan? Seperti kamu meninggalkan…”
“CUKUP!”
Bentakan itu memecah udara kebun.
Seekor burung terbang dari dahan rambutan. Dua pekerja renovasi yang sedang mengangkut karung semen di samping gudang berhenti dan menoleh. Di salah satu jendela dapur, wajah seorang pembantu muncul lalu cepat-cepat menghilang.
Savira berdiri terpaku. Selama sepuluh hari, ia tidak pernah mendengar Arkan meninggikan suara. Tidak di ruang rapat, tidak di meja makan, tidak bahkan ketika papan kayu itu nyaris menimpanya. Pria itu selalu menguasai dirinya dengan sempurna, setiap kata ditimbang, setiap nada diatur.
Sekarang dadanya naik-turun. Tangannya, yang tadi di saku, kini terkepal di sisi tubuh. Wajahnya pucat dengan cara yang berbeda dari malam demam itu, pucat seperti orang yang baru saja tersiram air dingin.
Chalista mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya hari itu, ia kehilangan kata-kata.
“Jangan pernah,” kata Arkan, suaranya kembali rendah tetapi bergetar di bawahnya, “menyebut nama itu di rumah ini untuk menyakiti siapa pun. Pulang. Sekarang.”
Chalista menatapnya. Bibirnya bergetar sebentar. Lalu ia mengangkat dagu, merapikan rambutnya dengan satu gerakan, dan berjalan melewati Arkan masuk ke rumah tanpa menoleh. Bunyi hak sepatunya di lantai koridor terdengar cepat, semakin jauh, lalu hilang.
Tak lama kemudian, mesin mobil menyala di depan. Gerbang besi berderit.
Kebun kembali sunyi.
Arkan masih berdiri di anak tangga teras. Ia menunduk, menatap tangannya yang terkepal, lalu pelan-pelan membukanya. Jari-jarinya gemetar.
Savira tidak bergerak dari tempatnya. Jarak di antara mereka sekitar sepuluh langkah. Ia bisa berjalan mendekat. Ia bisa bertanya apakah pria itu baik-baik saja. Ia bisa pura-pura tidak melihat dan masuk lewat pintu dapur.
Arkan mengangkat wajah. Matanya bertemu mata Savira, dan di sana Savira melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: rasa malu, dan di bawahnya, sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih dalam.
“Maaf,” kata Arkan. “Kamu tidak seharusnya mendengar itu.”
Ia berbalik dan masuk ke rumah sebelum Savira sempat menjawab.
Savira berdiri sendirian di bawah pohon rambutan. Air sisa hujan masih menetes dari daun-daunnya, satu per satu, mengenai rambut dan bahunya.
Larasati.
Nama itu sudah pernah disebut sekali di kamar belakang, pada malam kedua, dengan suara datar. Hari ini nama itu diucapkan seperti senjata, dan pria yang paling tenang di rumah ini runtuh karenanya.
Savira memandangi pintu teras yang sudah tertutup.
Rumah itu punya banyak rahasia, tulis Chalista dalam pesannya dulu.
Untuk pertama kalinya, Savira ingin tahu salah satunya. Bukan karena penasaran. Melainkan karena ia baru saja melihat tangan Arkan gemetar, dan ia tidak bisa berhenti memikirkannya.