Berkas aset non-inti itu tebalnya hampir dua jari.
Savira membacanya sepanjang perjalanan ke kantor, lalu di mejanya sampai jam makan siang lewat tanpa ia sadari. Di halaman tujuh belas, di antara daftar tanah kosong dan ruko yang disewakan murah, ada satu baris yang membuatnya berhenti: gudang distribusi lama di pinggir timur kota. Luas bangunan hampir dua ribu meter persegi. Status: diusulkan untuk dijual dalam kuartal ini. Harga yang ditawarkan pembeli tercantum di kolom paling kanan, dibulatkan dengan rapi.
Ia membuka laporan operasional tiga tahun terakhir. Gudang itu kosong sejak lini distribusi dipindahkan, tetapi bangunannya tidak rusak. Atapnya baru diganti dua tahun lalu. Akses jalannya cukup untuk truk besar. Dan di kawasan yang sama, menurut catatan bagian pemasaran, dua perusahaan logistik sedang mencari tempat penyimpanan dengan kontrak jangka panjang.
Savira mengambil kalkulator. Ia menghitung sekali, lalu mengulang dari awal untuk memastikan.
Kalau gudang itu disewakan selama tiga tahun dengan harga pasar kawasan itu, pendapatannya melebihi harga jual yang ditawarkan. Setelah tiga tahun, gudang itu masih milik perusahaan.
Ia menyusun ringkasan dua halaman, mencantumkan sumber setiap angka, dan mengirimkannya kepada Danendra pukul setengah satu.
Danendra membalas lima menit kemudian. Masukkan ke agenda. Angkamu rapi.
Ruang rapat divisi operasional ada di lantai lima, lebih kecil dari ruang rapat direksi di lantai tujuh. Dindingnya kaca buram, mejanya panjang dengan sebelas kursi. Ketika Savira masuk, delapan staf sudah duduk. Danendra menempati kursi di sisi kanan dan mengangguk kecil kepadanya. Seorang sekretaris rapat menyiapkan layar.
Arkan masuk tepat pukul satu. Ia duduk di ujung meja, membuka map, dan tidak menatap siapa pun lebih lama dari yang diperlukan.
Rapat berjalan cepat. Jadwal pengiriman, laporan persediaan, keluhan dari dua pemasok. Arkan mendengarkan setiap paparan dengan wajah datar dan menjawab dengan kalimat-kalimat pendek. Setuju. Tunda. Minta datanya besok. Savira mencatat semuanya dengan rapi dan berusaha tidak memperhatikan cara jari pria itu mengetuk tepi map setiap kali ia sedang menimbang.
“Agenda terakhir,” kata sekretaris rapat. “Usulan dari Ibu Savira mengenai gudang distribusi timur.”
Savira berdiri. Ringkasannya muncul di layar.
Ia menjelaskan dengan urut. Kondisi bangunan. Harga yang ditawarkan pembeli. Permintaan sewa di kawasan itu. Perhitungan pendapatan tiga tahun. Ia tidak menyebut nama siapa pun yang mengusulkan penjualan. Ia tidak mengatakan bahwa penjualan itu keliru. Ia hanya menunjukkan angka dan membiarkan angka itu berbicara.
“Usulan saya,” katanya di akhir, “tunda penjualan gudang ini satu kuartal. Selama itu divisi operasional menjajaki penyewa. Kalau dalam tiga bulan tidak ada kontrak, kita jual dengan harga yang sama.”
Beberapa staf mengangguk pelan. Danendra membuat catatan.
Arkan menutup mapnya.
“Tidak,” katanya.
Satu kata itu membuat ruangan membeku. Savira tetap berdiri di samping layar. “Boleh saya tahu alasannya?”
“Gudang itu sudah masuk daftar aset non-inti yang akan dibahas di rapat pemegang saham. Divisi operasional tidak perlu membuka pembicaraan sendiri tentang aset yang belum diputuskan.”
“Justru karena belum diputuskan, Arkan. Kalau ada angka yang bisa dipertimbangkan, lebih baik muncul sebelum keputusan dibuat, bukan sesudahnya.”
Seorang staf di ujung meja menunduk ke catatannya. Savira sadar ia baru saja menyebut nama direktur utama tanpa sapaan apa pun di depan delapan orang. Ia tidak menariknya kembali.
“Perhitunganmu memakai harga sewa pasar,” kata Arkan. Nadanya tetap datar. “Belum ada penyewa yang menandatangani apa pun. Itu perkiraan.”
“Perkiraan dengan sumber. Saya mencantumkan dua perusahaan yang sedang mencari tempat di kawasan itu. Bagian pemasaran yang mencatatnya, bukan saya.”
“Dan kalau mereka tidak jadi?”
“Maka kita jual dengan harga yang sama. Itu sudah ada di usulan saya. Risikonya tiga bulan, bukan tiga tahun.”
Arkan menatapnya. Di bawah lampu ruang rapat, matanya tampak lebih gelap. “Keputusan saya tetap. Usulan ini tidak dilanjutkan.”
Hening. Sekretaris rapat berhenti mengetik.
Savira menarik napas. Wajahnya terasa panas, tetapi suaranya keluar lebih tenang dari yang ia duga. “Kalau begitu, saya minta alasan penolakan dicatat dalam notulen. Lengkap. Supaya kalau suatu saat angka ini dibutuhkan, orang tahu kenapa dulu tidak dipakai.”
“Catat,” kata Arkan kepada sekretaris, tanpa melepaskan pandangan dari Savira. “Usulan ditolak karena menyangkut aset yang sedang menunggu keputusan pemegang saham.”
“Dan karena angka sewanya dianggap perkiraan,” tambah Savira.
Sudut rahang Arkan menegang. “Dan itu.”
Rapat ditutup dua menit kemudian. Para staf keluar lebih cepat dari biasanya, beberapa sambil berbisik. Savira mengumpulkan kertasnya tanpa terburu-buru. Ia tidak mau terlihat lari.
Ketika ia mengangkat wajah, Arkan sudah berdiri di ambang pintu. Ia berhenti di sana sebentar, seolah hendak mengatakan sesuatu. Savira menunggu.
Arkan hanya mengangguk sekali kepada Danendra, lalu pergi.
Savira menutup laptopnya lebih keras dari yang ia maksudkan.
Di koridor menuju ruangannya, Danendra berjalan di sampingnya tanpa bicara. Baru setelah mereka melewati lift dan sampai di depan pintu ruangan Savira, pria itu berhenti.
“Angkamu masuk akal,” katanya pelan. “Saya sudah memeriksanya dua kali sebelum rapat.”
Savira menatapnya. “Lalu kenapa ditolak?”
Danendra diam sejenak. Ia melirik ke arah koridor yang kosong. “Saya tidak tahu, Bu Savira. Tapi saya sudah bekerja dengan Pak Arkan enam tahun. Dia jarang menolak sesuatu tanpa alasan. Kadang alasannya tidak dia sebutkan di depan orang.”
“Itu bukan cara yang adil untuk menolak usulan.”
“Saya tidak bilang adil.” Danendra tersenyum tipis. “Simpan salinan ringkasanmu. Jangan dibuang.”
Ia kembali ke ruangannya sendiri.
Savira masuk dan menutup pintu. Ia duduk, membuka ringkasan dua halaman itu di layar, dan membacanya lagi dari atas sampai bawah. Tidak ada yang salah. Setiap angka punya sumber. Setiap risiko punya batas.
Ia menyimpan salinannya di tiga tempat berbeda.
Lalu ia memandang ponselnya. Tidak ada pesan dari Arkan. Ia juga tidak ingin mengirim pesan apa pun.
Namun ketika sore datang dan sopir mengabarkan sudah menunggu di lobi, Savira menyadari satu hal yang membuatnya lebih kesal daripada penolakan itu sendiri.
Arkan tidak sekali pun menyebut angkanya salah.
Ia hanya menyebutnya perkiraan, lalu menutup map, seolah ada hal lain yang sedang ia lindungi di balik keputusan itu.