Giada memasuki rumah keluarganya sambil menghela napas panjang. Dia bekerja sangat keras akhir-akhir ini, dan sepertinya dia butuh menyalakan lilin aroma terapi untuk membantunya rileks. Biasanya dia memilih seks untuk menghilangkan stres. Bercinta tanpa henti biasanya membantu, tapi pagi ini seks bukanlah pilihan. Dan pacarnya sekarang sangat pendiam, sangat tidak menggairahkan.
Saatnya putus dan mencari orang yang baru, Giada.
Dia mendengar suara samar dari dapur dan mengikuti suara itu. Giada melihat ibunya memotong rambut ayahnya di meja dapur. Mereka menikah hampir tiga puluh lima tahun yang lalu, dan terlepas dari pasang surut pernikahan mereka, keduanya masih saling mencintai dan menyayangi.
Giada tahu dalam pekerjaan ayahnya, pernikahan merupakan hal yang mudah gagal. Pria seperti ayahnya sepertinya memiliki simpanan di seluruh dunia. Giada pernah bertanya langsung pada ayahnya apakah dia pernah memiliki selingkuhan, tanpa menghakimi, hanya rasa ingin tahu. Ayahnya hanya balik bertanya mengapa harus keluar untuk makan burger ketika dia punya filet terenak di rumah.
Ibunya, Lia, adalah wanita khas Jersey Shore dengan rambut tebal, kulit tan palsu, dan bulu mata tebal yang tampak seperti laba-laba. Alisnya sangat tebal, membuatnya terlihat terkejut sepanjang waktu. Ibunya memang berisik; tidak heran dia mengelola salon rambut yang melayani wanita seperti dirinya.
Ayahnya, sebaliknya, pendiam—seolah tidak pernah berbicara kecuali ada sesuatu yang penting. Kebanyakan orang di lingkungan mereka menganggapnya dingin dan kejam. Ayahnya adalah orang kepercayaan Don, dan penghasilannya seimbang dengan lima puluh persen dari bisnis Don. Dia bisa menjadi b******n yang brutal dan kurang ajar, tetapi tidak pernah pada istri dan putrinya. Tidak akan pernah. Giada dan ibunya selalu jadi yang pertama bagi ayahnya.
Giada mengakui dia jauh lebih mirip ayahnya daripada ibunya. Dia benci bulu mata palsu dan kuku yang terawat, karena itu menghalanginya menarik pelatuk pistol atau menusuk seseorang. Kadang, dia harus berpura-pura mengaku suka berjemur dengan bantuan mesin tanning, padahal dia lebih suka berjemur sungguhan di pantai. Dia memang suka mengenakan banyak perhiasan, tetapi setiap perhiasan yang dikenakannya sebenarnya senjata. Giada juga sama kejamnya dengan ayahnya; dia bahkan sudah menjadi tangan kanan ayahnya sejak masih muda.
Kedok pekerjaan harian ayah Giada adalah layanan limusin. Mereka biasanya mengantar orang-orang kaya ke mana-mana. Ayahnya ditugaskan pada Ermano selama lima tahun terakhir, dan mereka membagi tugas untuk mengemudi. Sebulan yang lalu, ada yang mencoba membunuh Ermano, dan ayahnya menjadi korban. Dia masih kesal karena dua petugas keamanan di mobil bersama mereka saat itu membiarkan kejadian itu semakin parah.
Giada bersandar di ambang pintu dapur dan memperhatikan ayahnya, yang mengenakan baju putih, dengan bekas luka dari peluru di bahu kanannya yang masih berwarna merah. Ayahnya duduk dengan sabar sementara ibunya merawatnya.
“Ibu harus menaruh mangkuk di kepalanya. Pasti lucu,” Giada menyeringai, tahu ayahnya mendengarnya datang bahkan sebelum dia memasukkan kunci ke lubangnya.
“Lucu sekali, Giada,” ibunya menggelengkan kepalanya. “Kenapa baru pulang sekarang?”
“Aku ada pekerjaan.”
“Sekarang jam enam pagi. Perempuan harus istirahat untuk merawat kulit mereka.”
“Dia ada pekerjaan,” ayahnya berkata pelan. “Biarkan saja, Lia.”
Giada hanya tersenyum dan mengedipkan mata ke ayahnya. “Bagaimana bahumu, yah?”
“Sakit sekali.”
“Kau harus minum obat,” saran ibu Giada.
“Dan kecanduan dengan obat pereda sakit itu? Tidak, terima kasih.” Ayahnya menggelengkan kepalanya dan kemudian menerima pukulan di kepala dari ibunya karena bergerak. Dia menatap Giada. “Mano ingin bertemu dengamu pagi ini.”
“Benarkah?” Giada tersenyum saat menyebut nama Ermano. “Kenapa?”
“Katanya dia akan memberitahumu langsung.”
“Aku pergi sekarang.”
“Tidur dulu!” protes ibunya.
“Aku akan tidur saat aku mati.”
“Cepat atau lambat kau akan mati jika terus seperti ini,” komentar ibunya dengan marah. “Tidur.”
“Tidak ah,” dia berjalan ke lemari es, mengambil sekaleng Coca-Cola, menenggaknya, lalu bersendawa keras yang membuat ayahnya mendengus. “Nah kan, aku sudah bangun.”
“Gilberto, kau harus menghentikan putrimu.”
“Giada, kapan kau mau berhenti?” Ketika Giada menggelengkan kepalanya, Gilberto mengangkat bahu, “dia tidak mau berhenti.”
“Itu tidak sehat.”
“Seperti rambut ibu kan?,” Giada menggoda ibunya, sambil menarik-narik ekstensi rambutnya dan hanya dibalas dengan pukulan, dan dia segera menjauh. “Aku akan kembali nanti.” Dia melangkah kembali ke arah pintu, tetapi ayahnya mengucapkan namanya dengan perintah pelan. Sambil menyeringai, dia berbalik, membungkuk, dan mencium pipi ayahnya. "Aku mencintaimu, Papa."
"Aku mencintaimu," katanya serius. "Hati-hati."
"Siap." Dia mencium pipi ibunya dan pergi. Masuk ke dalam mobilnya, dia menghidupkan mesin dan menuju ke rumah Ermano yang berjarak dua puluh menit.
Namun suara deringan ponsel membuatnya kaget. Jantungnya berdesir melihat nama kontak di layarnya.
"Ya Don Baldasarre Saputo. Ada apa?"
Bos mafia dari Las Vegas ini memiliki suara yang lebih halus dari sutra dan lebih panas dari lava. Don Saputo merupakan wujud fantasi liarnya sejak lama.
"Senang mendengarmu lagi, Giada."
"Ya, ya" jawabnya. "Apa yang kau butuhkan?"
"Tadi malam aku berkencan dan dia mengingatkanku padamu."
"Oh? Kok bisa?"
"Rambut coklat, p******a bagus, b****g luar biasa."
"Apa dia perokok?"
"Iya, tapi aku ingin menembak kepalanya begitu dia membuka mulutnya. IQnya sangat rendah. Aku tau ada wanita di dunia ini yang mungkin sebanding denganmu secara paras, tetapi tidak pernah secara intelektual. Lalu ada wanita yang secara kekuatan fisik setara denganmu, tapi mereka tidak memiliki badan sepertimu atau mereka adalah pria. Yah aku memang harus memilikimu. Datang ke Vegas dan jadi ratuku."
“Don Saputo,” katanya sambil tersenyum, “aku tau kau memujiku. Tapi aku skeptis, apa yang sedang kau rencanakan?”
Dia terkekeh, “Astaga, mana ada aku bohong. Aku bisa mengirimkan foto gadis itu padamu. Cantik sekali dia. Tatap matanya kosong.”
Giada tau b******n itu tidak bohong. “Apa kau ingin sesuatu? Ini masih cukup pagi loh.”
“Selain kau tidur denganku? Aku sedang duduk di kantorku lalu mendengar ada masalah tentang musuh kita pagi ini.”
“Greco?”
“Ya. Apa kau tahu di mana Teo Greco?”
“Don Saputo,” nada Giada kembali ke formal, “informasi seperti itu hanya datang dari Don Amato, bukan dariku.”
“Dia membiarkan aku membunuhnya saat waktunya tepat.”
“Iya, tetapi dia tidak bilang kau bisa meminta informasi dariku, kan?”
“Yah benar, tapi, aku punya imbalan.”
“Apa?”
“Aku akan memberikan apa pun yang kau mau. Apapun.”
“Don.”
“Bentar,” pria itu langusng mengoreksinya. “Kau kaku sekali padahal kau pernah melihatku telanjang.”
Giada memutar matanya malas mengingat kejadian itu. “Kau membuatnya terdengar seperti kita melakukan sesuatu, padahal aku hanya salah membuka pintu.”
“Aku harap kita memang melakukan sesuatu. Sekarang, coba panggil namaku, Giada.” Perintahnya meluncur di kulitnya seperti mobilnya meluncur di aspal, sangat halus.
“Sarre,” bisiknya tak mampu menahan diri, “kau menggodaku ya?”
“Ya, dan kau suka kan? Ayo bilang kau ingin apa? Lalu beri tahu aku kalau kau tahu dimana Teo Greco.”
“Aku tidak bisa membiarkanmu membunuhnya sekarang.”
“Aku tahu, tapi dia tahu lokasi orang lain yang ku incar. Lewat orang ini, aku bisa menemukan anggota keluarganya yang lain yang bisa ku ambil alih.”
“Sayang sekali, aku harus menolak tawaranmu, Sarre.”
Dia menghela nafas dengan kasar, “Aku tahu kau akan menolaknya. Kau setia pada keluargamu.”
“Benar. Meski ibuku seorang Puglisi atau ayahku seorang Amalfi, darah Amato yang mengalir dalam tubuhku.”
“Alasan lain mengapa kau sempurna untuk menjadi kekasihku. Pikirkan tawaranku.”
“Ya, ya terserahmu, lagian kau tidak akan setia padaku, Sarre. Kau akan bosan dalam seminggu, dan aku terpaksa harus membunuh semua sainganku. Tolong pikirkan efek sampingnya.”
Pria itu tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Giada, “kita kan cuma membahas kalau kita berkencan? Ya tapi kalau kau ingin aku nikahi, tentu aku akan akan setia padamu sampai mati.”
Oh Tuhan, ini orang benar-benar gila. “Kau tahu Sarre, setiap hari aku bekerja dengan semua pria.”
“Terus?”
“Kata-katamu tidak mempan padaku, alias itu cuma berlaku sampai kau bosan.”
“Baiklah, aku akan berpura-pura tidak tersinggung dengan omonganmu.” Suara bising di latar belakang menarik perhatian Giada sebelum Don melanjutkan, “sepertinya aku punya petunjuk sendiri.”
“Kau tahu di mana Teo?”
“Mm, sepertinya aku tahu.”
“Oke, nice.”
“Aku bisa membaginya padamu, tapi ada syaratnya ya,” kekehnya.
“Aku tidak mampu membayarmu, Sarre.” Giada tertawa balik.
“Tenang, aku beri diskon keluarga.”
“Aku bukan keluargamu.”
“Belum, belum jadi keluargaku.”
“Ada banyak hal yang harus kulakukan sebelum aku berumah tangga,” sanggah Giada. Dia melihat rumah besar di kejauhan. “Aku hampir sampai. Apa ada lagi yang mau kau katakan?”
“Tidak. Pikirkan saja tawaranku, Giada. Aku akan merasa terhormat jika kau mempertimbangkan lamaranku.”
Dia mengangguk serius. “Ya, oke.”
“Selamat malam, Giada.”
“Selamat siang, Sarre.” Dia mengakhiri panggilan telepon sambil mengembuskan napas tajam.
Baldasarre Saputo adalah b******n. Keluarga Giada di New Jersey memang sering kali kurang ajar dan gegabah saat mengelola bisnis. Namun Sarre itu licik, suaranya mungkin sehalus dengan Frank Sinatra tapi tingkah lakunya seperti Villain James Bond di zaman modern. Menawan dan karismatik, dia bisa memanipulasi seseorang menjadi sahabatnya tepat sebelum dia meledakkan otak orang itu.
Enam bulan yang lalu, Sarre melamar Giada untuk menjadi istrinya. Giada senang tentu saja, tapi dia juga takut setengah mati. Sarre adalah tipe pria yang bisa mencekiknya sampai mati karena kebodohannya. Mati di tangan pria yang dicintainya bukanlah hal konyol yang diinginkan Giada. Iya, Giada jatuh cinta pada Sarre. Mulut pedasnya mungkin akan membuat pria itu kesal hingga rela membunuhnya di tempat. Namun, lamaran itu tidak bisa dia lupakan. Giada ingin menerimanya, sungguh. Jika saja Sarre tidak tinggal di negara lain, Giada sudah mengenakan gaun putih dan berjalan menuju altar.
Setelah memarkir mobilnya, Giada menggelengkan kepala dan menyingkirkan pria itu dari pikirannya. Ada banyak hal yang lebih penting yang harus ia lakukan pagi ini. “Fokus Giada, saatnya bekerja.”