Setelah Elisabeth pergi, Henry kembali masuk ke dalam kantor polisi dan menuju ruang kerjanya.
Di atas meja sudah ada arsip laporan kematian Romano Contreras.
"Mungkin kapten meletakan laporan ini sebelum dia pergi tadi," gumam Henry.
Detective muda itu segera membuka arsip laporan tersebut dan mempelajarinya.
Disana tertulis jika dokter yang menangani penyakit Romano Contreras adalah Dokter David.
Hanya saja dalam laporan tersebut sang dokter tidak ditahan dan hanya dikenakan wajib lapor saja.
"Tidak adanya bukti yang kuat membuat dokter David tidak ditahan dan belum menjadi tersangka. Jika bukan dokter itu pelakunya, lantas siapa? Elisabeth kah atau orang lain?. Jika Elisabeth merasa tidak bersalah lantas kenapa dia merasa ketakutan karena akan menerima warisan yang sangat banyak? Sepertinya aku harus mengunjungi kediaman Elisabeth untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," gumam Henry setelah menelaah dan membaca arsip tersebut.
Henry baru saja hendak keluar dari ruangannya namun tiba-tiba ketika dia hendak membuka pintu ternyata seseorang yang masuk begitu saja.
Orang itu menatap tajam ke arah Henry dan memperhatikan Henry sejenak.
"Ruangan ini tidak sembarangan orang boleh masuk! Jangan se enak dirimu saja masuk ke dalam ruangan ini terlebih tidak ada siapa pun di dalam ruangan ini!" seru orang itu sambil menatap tajam.
"Aku disuruh oleh kapten Thomas masuk ruangan ini," ucap Henry santai.
"Orang tua itu memang suka sembrono dan sembarangan saja!" keluh orang itu lagi.
"Apa yang kau lakukan di ruangan ini?" tanya orang itu.
"Ini," jawab Henry sambil memberikan arsip laporan kasus kematian Romano.
Orang itu menerima dan melihat arsip itu dan setelah itu dia pun berkata,
"Untuk apa Thomas memberikan arsip ini kepadamu? Apa ini wewenang mu?" selidik orang itu.
"Ya. Kasus ini sekarang aku yang menangani," jawab Henry.
"Ini bukan kasus biasa dan kau jangan berlagak sok hebat di hadapanku!" kembali orang itu berbicara dengan nada sedikit meninggi.
"Aku tidak merasa diriku hebat tapi jika itu telah ditugaskan kepadaku maka aku akan melaksanakan itu sebaik mungkin," kata Henry.
"Siapa kau sebenarnya?" kembali orang itu bertanya.
"Namaku Henry Parker dan aku baru bertugas disini dibawah arahan kapten Thomas," jawab Henry sambil memperkenalkan diri.
"Aku Billy Hernandez dan aku juga bawahan dari Thomas," ucap Billy.
"Sepertinya kita akan menjadi rekan," ucap Henry.
"Aku tidak mau menjadi rekan mu," sahut Billy dengan ketus.
"Ini adalah tugas pertama ku dan aku pastikan aku bisa menyelesaikannya," kata Henry.
"Kau pikir berurusan dengan orang kaya itu akan mudah? Jangan terlalu percaya diri," ucap Billy dengan nada pesimis.
"Bukankah kasus ini awalnya adalah kasus yang kau tangani?" tanya Henry.
"Iya. Tapi aku sudah mengatakan kepada Thomas bahwa aku tidak tertarik lagi dengan kasus ini dan pada akhirnya aku tahu dia melimpahkan kasus ini kepada mu untuk kau tangani," jawab Billy sambil menerangkan.
"Tidak masalah bagiku karena apa pun tugas yang diberikan pasti akan aku selesaikan," sahut Henry.
"Kau terlalu percaya diri," ucap Billy meremehkan.
"Bagaimana kalau kita bertaruh?" tanya Henry.
"Jika kau bisa menyelesaikan kasus ini aku akan menjadi bawahan mu," ucap Billy.
"Deal!" sahut Henry.
*****
Setelah bertemu dan membuat kesepakatan dengan Billy, akhirnya Henry memutuskan untuk menemui Dokter David di klinik tempat Dokter itu membuka praktek kedokterannya.
Ketika memasuki klinik tersebut Henry disambut oleh respsionis dengan ramah.
"Selamat sore Tuan! Apa anda sudah ada janji untuk bertemu atau berkonsultasi dengan Dokter David sebelumnya?" tanya resepsionis dengan senyum ramah.
Henry tidak langsung menjawab, dia hanya memperlihatkan lencana Detectivenya yang seketika membuat resepsionis itu paham dan terdiam.
"Dimana Dokter David?" tanya Henry setelah memperlihatkan lencananya.
"Dia ada di ruangannya, silahkan Detective!" ucap resepsionis itu sambil menuntun Henry menuju ruangan Dokter David.
Resepsionis itu mengetuk pintu beberapa kali sampai mendapat jawaban dari dalam ruangan tersebut.
Setelah mendengar sahutan dari dalam, resepsionis itu membuka pintu dan mempersilahkan Henry untuk masuk.
Dokter David yang menyangka Henry adalah seorang pasien lantas berdiri dan mempersilahkan Henrh untuk masuk dan duduk.
Setelah itu resepsionis itu pun kembali menutup pintu dan membiarkan mereka berdua di dalam ruangan tersebut.
"Siapa nama anda dan keluhan apa yang anda rasakan?" tanya Dokter David.
"Kali ini aku datang bukan untuk diperiksa," jawab Henry.
"Jika tidak untuk diperiksa atau konsulutasi, lantas untuk apa anda datang kesini?" tanya Dokter David sedikit curiga.
"Justru kau yang akan aku periksa," jawab Henry sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Anda sedang tidak bercanda bukan?" kembali sang Dokter bertanya.
"Tentu saja tidak!" tegas Henry menjawab.
Henry memperhatikan keadaan disekitar ruangan tersebut untuk beberapa saat dan lantas dia mengeluarkan surat tugas serta lencana Detectivenya.
Melihat hal itu, Dokter David pun akhirnya paham akan kedatangan Detective Henry ke keliniknya.
"Aku sekarang mengerti kenapa anda datang kesini detective. Apa ini masalah kasus kematian Tuan Contreras itu?" tanya Dokter David.
"Ternyata anda cepat paham dan mengerti Dokter," jawab Henry sambil kembali duduk.
"Aku sudah menjelaskan hal ini berkali-kali kepada penyidik maupun Detective Billy jika aku sama sekali tidak terlibat dalam kasus tewasnya Tuan Contreras itu," ucap Dokter David.
"Aku paham dan mengerti serta aku juga sudah membaca laporan mengenai anda walaupun belum sepenuhnya," balas Henry.
"Jika begitu seharusnya anda mempelajari semua laporan tentang kesaksian ku dan anda tidak perlu repot-repot datang kesini dan menghabiskan waktu dengan sia-sia seperti ini," ucap Dokter David yang mulai merasa tidak senang dengan kehadiran Detective Henry disana.
"Aku tidak memulai kasus ini dari awal. Aku mengambil alih kasus ini dari Detective Billy dan aku memutuskan untuk menemui anda dari pada harus membaca laporan kesaksian anda yang tertulis di kantor polisi," kilah Henry.
"Anda hanya akan mendapatkan jawaban yang sama dan bukankah itu hanya buang-buang waktu anda saja?"
"Aku belum mengajukan satu pertanyaan pun. Bagaimana anda bisa memastikan jika jawaban anda akan sama dengan jawaban yang anda berikan kepada Detective Billy atau penyidik yang lain?" Henry balik bertanya.
Dokter David terdiam untuk beberapa saat yang membuat ruangan itu menjadi hening.
"Karena anda akan bertanya sekitar kasus kematian Tuan Contreras dan tentu saja aku akan menjawab apa yang aku ketahui," jawab Dokter David memecah kesunyian.
"Sudah berapa tahun anda menjadi Dokter pribadi menangani penyakit diabetes Tuan Contreras?" tanya Detective Henry.
"Sekitar empat atau lima tahun," jawab Dokter David.
"Apakah anda rutin menyuntikan insulin kepada pada Tuan Contreras?" tanya Detective Henry lagi.
Belum lagi Dokter David menjawab, tiba-tiba saja pintu ruangan itu diketuk dari luar dan dari pintu tersebut masuk seorang perawat.
"Maaf Dokter, diluar masih banyak pasien yang menunggu giliran mereka untuk diperiksa, ucap si perawat menghadap Dokter David.
"Terima kasih dan tunggu sebentar aku sebentar lagi akan selesai," sahut Dokter David.
Perawat itu mengangguk paham dan kemudian kembali keluar ruangan.
"Aku terlalu sibuk untuk hari ini, jika ada hal yang ingin anda tanyakan anda bisa menghubungi pengacara ku," ujar Dokter David.
Detective Henry menarik nafas sejenak dan kemudian bangkit dari tempat duduknya sembari berkata,
"Terima kasih atas waktu anda Dokter. Kita pasti akan bertemu lagi cepat atau lambat,"
"Selama aku tidak bersalah aku akan dengan senang hati bertemu dengan anda Detective," sahut Dokter David sedikit menantang dan sombong.
Henry tidak berkata apa-apa lagi dan kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
"Permisi!" tutup Detective Henry.