Salju di Musim Panas
Oleh : eruwanjapan
*&^Ayumi^&*
“Hello, we have chicken katsu curry rice, fried rice with beef meatballs, and fish n’ chip with mayo sauce. Which one will you choose?” sontak pertanyaan pramugara tampan ini membuyarkan lamunan ku tentang pengalaman menyedihkan yang baru saja ku alami di negeri sakura.
“sorry...?” jawab ku singkat sambil ku krenyitkan dahi dan sedikit memiringkan kepala, meminta agar pramugara tersebut mengulang kembali daftar pilihannya.
“chicken katsu curry rice, fried rice with beef meatballs, and fish n’ chip with mayo sauce.”
“oh, fried rice with beef meatballs, please.”
Ku pilih sekenanya aja, karena sebenarnya aku sedang tidak berselera untuk makan. Kejadian bulan Agustus lalu masih susah untuk ku lupakan. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang kampung, menikmati sejuknya udara di kaki gunung telomoyo, berharap untuk menemukan kembali keceriaan seperti 3 tahun lalu sebelum ku injakkan kaki di negerinya Doraemon.
......
Nama ku Ayumi. Meski begitu, aku bukan orang Jepang, keturunan Jepang, ataupun dilahirkan di Jepang. Abi ku memberikan nama itu hanya karena beliau suka Jejepangan. Hal itu juga yang ditularkan kepadaku sejak kecil hingga akhirnya aku memutuskan untuk kuliah jurusan Sastra Jepang di Semarang. Bergelut dengan huruf kanji selama 4 tahun dan akhirnya memutuskan untuk mencari rizki di negeri matahari terbit.
Tinggal dan bekerja di Jepang memang impianku sejak kecil. Serasa “dream come true” ketika pertama kali ku lihat bunga sakura membuat seluruh taman berwarna pink. Bunga sakura yang berguguran terlihat seperti hujan salju yang cantik. Aku begitu terpesona hingga entah berapa ratus kali ku pencet shutter kamera untuk mengabadikan keindahannya.
“sakura, suki?”
Tiba-tiba datang pertanyaan dari seorang tak kukenal. Harus ku angkat wajahku untuk melihat wajahnya. Dia sekitar 20 cm lebih tinggi dariku. Wajahnya putih bersih, rambutnya tebal menutup alis dan daun telinga. Beberapa detik aku hanya memandangnya. Tanpa menjawab pertanyaannya. Aku terpesona lagi. Kali ini bukan pada bunga sakura. Tapi pada pria tegap, yang sedang melempar senyum hangat bak hitter yang selalu ku nyalakan untuk mengusir hawa dingin dimusim semi.
“gomen...sorry...”
Lanjutnya, dua kata berarti sama yang berhasil memecahkan kebekuan yang mematung ku.
“ah.., hai, sakura ga suki desu”
Sedikit gagap ku nyatakan kesukaan ku pada bunga sakura.
“padamu juga..” tentu saja ini hanya ku ucapkan dalam hati. Aku bukan cewek yang mudah jatuh cinta. Aku bahkan belum pernah pacaran. Bukannya ndak laku. Ku rasa aku cukup manis dengan hijab lebar yang menutup kepala hingga dadaku. Tak sedikit pria yang pernah menyatakan cinta, bahkan ada pula yang serius untuk langsung mengajak nikah. Tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan urusan percintaan. Belum pernah ada yang mampu membuat waktu terhenti seperti dalam anime-anime yang sering kulihat. Ya.., hingga ku bertemu dengannya hari ini.
Pertemuan yang sangat singkat. Tanpa berkenalan. Tanpa tercipta kemungkinan untuk saling menghubungi. Hanya ku ketahui namanya lewat temannya yang memanggil untuk mengajak pulang. Kazuo..., ya namanya Kazuo.
......
Sebulan berlalu sejak pertemuan singkat itu. Ku lalui hari seperti biasa. Bekerja di perusahaan selular. Sabtu-minggu seperti biasa seharusnya libur. Tapi minggu ini ada tugas dari kachou, bos ku. Nikimura. Sebenarnya malas juga harus kerja dihari minggu. Tapi apa daya. Hanya aku yang bisa diandalkan. Karena ada festival Indonesia di Sakae. Banyak orang Indonesia berkumpul disana. Bos mau aku menawarkan promo buat meraka. Pindah operator seluler dengan iming-iming gratis handphone baru yang harganya masih belasan juta di tanah air. Sangat menggiurkan.
“Kazuo..” bibirku otomatis memanggil ketika melihat sosok pria yang selama sebulan ini selalu bersliweran dalam angan ku. Sample handphone yang ku pegang hampir terlepas karena seakan seluruh tubuh jadi mati rasa. Sedetik serasa seperti orang stroke.
“konnichiwa..”
dia menyapa dengan senyumnya sama seperti waktu itu.
“A-yu-mi..,” dia mengeja kalung name tag ku.
”Jadi namamu Ayumi ya.., kamu cewek yang ketemu pas hanami* itu kan?” (*Kegiatan berpesta dibawah pohon sakura yang sedang mekar)
“iya.., lho kamu bisa bahasa Indonesia?”
“sedikit.., aku pernah kuliah di Jogja 2 tahun”
“oh..” hanya itu yang mampu terucap untuk merespon ceritanya. Aku tak tahu mengapa tiba-tiba aku kehilangan kecerdasan ku dalam berbicara. Bahkan dalam bahasa Jepang pun aku sangat lihai mengeluarkan argumen.
“boleh aku minta ini?” tanyanya sambil mengambil leaflet di atas meja.
“ini nomor kamu ya? Kapan-kapan kita ngobrol lagi kalau kamu tidak sedang sibuk ya..”
“eh.. iya...” aku memang sedang sibuk. Banyak pengunjung yang tertarik promo ini hingga banyak tanya ini itu.
.....
Hanphone ku bergetar, layarnya menyala. Bergegas aku ambil untuk mengetahui pesan siapa yang masuk. Akhir-akhir ini aku menjadi agresif jika ada notifikasi dari telepon pintar ku. Meski sering kecewa lantaran hanya line today yang sering masuk. Atau grup WA alumni SMA yang tak pernah sepi dari guyonan ataupun sekedar share gambar maupun video. Sedangkan yang ku nanti pesan atau telpon nya justru tak pernah muncul.
Pesan line dari Kazuo. Jantungku berdetak lebih cepat. Segera ku buka.
“Selamat malam. Saya kazuo yang ketemu pas hanami di Suhara Kouen. Hari minggu besok apa kamu ada waktu?”