Suasana kelas tampak ramai. Wajar, sebab hari ini hari pertama semua siswa terbebas dari celoteh kakak kelas. Mereka bisa berkumpul dan tertawa-tawa tanpa takut dimarahi. Kelas baru dan suasana baru itu menjadi awal dari masa sekolah menengah pertama mereka.
Di kelas 7.2 dengan jumlah siswa 34 orang. 19 di antaranya merupakan perempuan, sedangkan sisanya adalah laki-laki. Dari kebanyakan siswa perempuan itulah yang menyebabkan kelas menjadi sangat berisik. Apalagi bagi Hanif yang sangat malas bersosialisasi dengan teman-temannya. Ia kurang pandai bersosialisasi dan beradaptasi. Butuh waktu cukup lama untuk Hanif berani unjuk diri.
Yang kemudian akhirnya ia hanya duduk di kursi, dekat jendela paling pojok. Bertumpu tangan, menatap ke arah luar jendela. Mengabaikan suara bising para perempuan yang terus tertawa dan bercerita perihal masa orientasi kemarin. Suasana di luar gedung sekolah lebih menenangkan dari pada itu.
Lalu lintas lancar, lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki menjadi pemandangan yang lumayan menyejukkan. Ditambah, cuaca tengah cerah-cerahnya hari ini. Menjadi momen yang pas untuk Hanif merebahkan kepala dan tidur.
Namun, belum sempat hal itu terjadi, Hanif justru dikejutkan oleh seseorang yang datang tiba-tiba. Berdiri menjulang dengan poni dan rambut pendeknya terbawa angin dari arah jendela. Senyum manis terpatri di kedua sudut-sudut bibirnya setelah kata “Hai!” terucap.
Mata hazel gadis itu masih memperhatikan Hanif yang tetap diam tak membalas. Hanya menatapnya tanpa kedip. Ini memang gila, baru kali pertama Hanif merasa sebodoh ini di hadapan seorang gadis seumurannya.
Di detik ke tiga puluh lima, Hanif tersadar dari ketidakwajarannya. Ia menatap ke sana kemari, gerak-geriknya tak menentu. Seperti orang bodoh.
“Namaku Kanya,” ucap gadis itu.
Hanif tak berani melihatnya lagi, ia memilih memandangi papan tulis kosong di depan sana. “Ya, aku tau,” jawabnya ketus.
Kanya tersenyum lebih lebar, bersyukur bahwa lelaki yang ia temui di ruang kesehatan itu masih mengenalinya. Itu artinya, ia punya kesempatan besar untuk mendapatkan kursi duduk yang ia inginkan.
“Aku boleh duduk di sini?” tanya Kanya.
Hanif menjawabnya hanya dengan anggukan. Sejujurnya, selama ia hidup, ia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Meskipun sebenarnya dahulu, ia sering berinteraksi dengan teman-teman perempuannya. Namun, ia tidak terlalu memusingkan hal tersebut. Anggap saja bahwa hari itu, Hanif sedang oleng karena ia kurang banyak minum air putih. Ya, anggap saja begitu.
Satu Minggu lamanya Kanya resmi duduk satu meja dengan Hanif, ia mulai terbiasa dengan sikap cuek lelaki itu. Bahkan, sepanjang mereka bertemu, Hanif terlihat sangat pasif dibandingkan Kanya. Gadis itu bisa mengoceh tentang apa pun sepanjang hari, sedangkan Hanif bisa terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sepanjang hari.
Hingga, suatu hari, Hanif terpaksa mendebat Kanya dan mengoceh panjang lebar kepadanya hanya karena satu hal. Yakni, tempat duduk.
Ya, Kanya meminta Hanif untuk bertukar tempat dengannya. Namun lelaki itu tak menggubrisnya di pertanyaan pertama hingga kelima. Kesabaran Kanya habis, ia yang merasa dicueki lantas menukar tempat duduk keduanya ketika Hanif sedang ke kantin.
Kemudian, ketika Hanif kembali dan menemukan tasnya berada di kursi Kanya dan gadis itu duduk manis di kursinya, Hanif marah. Ia berbicara dengan kesal kepada Kanya.
“Siapa suruh duduk di situ?” pertanyaan itu memang bernada rendah, tetapi ada penekanan di setiap katanya.
Kanya tak menggubris, ia masih santai menikmati semilir angin dari jendela.
Hanif mencoba bersabar, ia tidak ingin memancing keributan. Namun, bukan Kanya namanya jika ia tidak mendapatkan apa yang ia mau. Kanya masih tak menggubris Hanif yang berusaha memindahkan kembali tempat duduknya.
“Kamu balik lagi ke sini!” perintah Hanif.
Kanya masih tak ingin menggubris.
“Balik duduk di tempat kamu, atau aku pindahin secara paksa,” ancam Hanif.
Kanya tentu saja menggeleng tegas. Bahkan ia merentangkan kedua tangannya pada meja Hanif, seolah-olah mengatakan bahwa ia tidak akan beranjak dari sana. Hanif tentu sangat kesal. Gadis satu ini memang selalu membuat hari-harinya menjadi lebih memusingkan.
“Gak mau! Aku mau duduk di sini!” bentak Kanya masih dengan posisi memeluk meja.
Hal selanjutnya yang terjadi adalah kericuhan. Hanif tidak terima tempat duduknya direbut begitu saja oleh Kanya. Ia bahkan sudah membujuk Kanya dengan segala hal, tetapi gadis itu memang sangat keras kepala. Tak mudah mengalahkan tekadnya.
“Kamu kok, gak mau ngalah banget sih sama cewek!” teriak Kanya dengan tangan yang kini beralih memeluk kaki-kaki meja. Bahkan hingga ia terduduk di lantai dan meja itu berderit terbawa pergerakan. “Aku Cuma minta duduk di sini sebulan doang. Abis itu kamu boleh pindah lagi.”
Hanif tetap tak terima, ia dengan geram menarik kedua tangan Kanya agar terlepas dari mejanya.
Keributan itu awalnya hanya mengundang perhatian teman satu barisan, lalu semakin lama semua orang mulai memperhatikan dan berusaha menghentikan pertengkaran itu. Beberapa hanya menonton, menganggapnya seru, sebagian lagi menatap prihatin pada keduanya—kasihan, sudah besar, tetapi kelakuan seperti anak kecil—begitu pikir mereka.
“Lho, yang duduk di sini duluan kan aku! Ya, aku yang berhak dong!” balasan Hanif tak kalah ngegasnya.
Teman-teman yang lain sudah sedari tadi melerai pertengkaran itu, tetapi Hanif dan Kanya adalah dua batu yang sulit dipecahkan. Mereka akan tetap seperti itu hingga salah satu dari mereka mengalah, tetapi itu mustahil.
“Apa susahnya sih, duduk di situ. Aku kan Cuma pengen nyobain duduk di sini sebulan doang.” Kanya masih keras kepala.
“Kalo aku gak mau, ya tetep gak mau!” jawab Hanif.
“Ya, harusnya kamu mau.”
“Maksa banget sih. Orang aku gak mau.”
Kanya akhirnya berdiri, berhadapan langsung dengan Hanif, berkacak pinggang dengan mata yang menatap lelaki itu dengan tajam. Mulutnya sudah mengerucut hendak mengeluarkan sumpah serapah, tetapi belum sempat ia mengeluarkan suara, seseorang datang membawa rotan sepanjang lengan orang dewasa. Menyela Kanya dan Hanif yang akan kembali bertengkar.
“Apa-apaan kalian!” Suara menggelegar itu sungguh memekakkan telinga, membuat Kanya dan Hanif terdiam di tempat.
Seorang laki-laki paruh baya, berbadan kurus, berkacamata, berkulit cerah. Namun, jangan sampai kalian terkecoh dengan penampilan, di tangannya selalu tergenggam rotan sepanjang lenagan orang dewasa, juga mulutnya selalu mengeluarkan suara melengking dan membuat hujan lokal dari mulutnya.
Dia adalah guru matematika. Namanya selalu membuat merinding bulu kuduk jika terdengar.
“Ikut Bapak sekarang!”
Matilah!
Matilah mereka berdua, begitu pikir Kanya dan Hanif.