.
***
BAB 1: Gerbang Menuju Angkasa
Matahari pagi yang hangat, dengan semburat jingga keemasan yang menembus celah tirai, membangunkan Laila dari tidur lelapnya. Bukan sekadar cahaya biasa, melainkan bisikan janji akan hari yang baru, hari yang akan mengubah segalanya. Aroma segar embun yang baru menguap dari dedaunan di luar jendela, berpadu dengan wangi melati yang ditanam Ibu Endah di pekarangan, menciptakan harmoni yang menenangkan. Hari ini, Laila akan memulai babak baru hidupnya sebagai mahasiswi arsitektur, sebuah impian yang selama ini ia genggam erat, kini selangkah lagi akan terwujud di salah satu universitas bergengsi di kota ini.
Di dinding kamarnya yang bercat krem lembut, lukisan "Rumah Impian" itu tergantung anggun. Bangunan megah berarsitektur kuno, dengan detail ukiran yang rumit dan jendela-jendela tinggi, tampak melayang di antara gumpalan awan merah muda yang disinari fajar. Cahaya pagi memantul samar pada permukaan lukisan, seolah memberi kehidupan pada setiap sapuan kuas. Sejak kecil, Laila selalu terpesona oleh konsep rumah yang melampaui batas bumi, sebuah tempat di mana khayalan berpadu dengan struktur kokoh. Ia sering membayangkan bagaimana rasanya hidup di sana, menatap dunia dari ketinggian, di mana awan adalah tetangga terdekat. Kini, dengan ilmu arsitektur yang akan ia pelajari, Laila berharap suatu hari bisa menjejakkan kaki di tempat seperti itu, atau bahkan merancang dan mewujudkannya sendiri, bukan hanya di atas kanvas.
Suara dentingan piring dan sendok yang beradu dari dapur mengusik lamunannya, disusul aroma harum nasi goreng yang menguar. Ibu Endah, dengan kelembutan yang selalu menenangkan dan senyum manis yang tak pernah luntur, pasti sudah berkutat di dapur sejak subuh. Aroma gurih nasi goreng dengan irisan telur dadar tipis, taburan bawang goreng renyah, dan kerupuk udang yang baru digoreng, melayang masuk ke kamar Laila, menggoda perutnya yang sudah keroncongan.
"Laila, sayang, sudah bangun? Sarapan sudah siap," suara Ibu Endah terdengar dari ambang pintu, lembut namun cukup untuk membuat Laila tersentak dari fantasinya. Rambut hitam Ibu Endah yang disanggul sederhana namun rapi, menambah kesan anggun pada wajahnya yang teduh.
Laila tersenyum lebar. "Sudah, Bu! Wanginya enak sekali, langsung bikin lapar!" Ia bergegas bangkit dari tempat tidur, merapikan selimut dengan gesit, dan melipat lukisan Rumah Impiannya dengan hati-hati sebelum memasukkannya ke dalam tas ransel. Bukan untuk dipamerkan, melainkan sebagai jimat pribadi, pengingat abadi akan tujuan dan inspirasi terbesarnya. Setiap kali ia merasa lelah atau ragu, ia tahu lukisan itu akan memberinya kekuatan.
Di meja makan yang terbuat dari kayu jati tua, Ayah Adren sudah duduk rapi dengan kemeja batik birunya yang selalu disetrika licin, siap untuk berangkat bekerja. Meskipun seorang pengusaha sukses yang jadwalnya padat, Ayah selalu menyempatkan diri untuk sarapan bersama keluarga, sebuah ritual pagi yang tak pernah terlewatkan. "Bagaimana, Nak? Sudah siap mental dan fisik untuk hari pertama di kampus?" tanya Ayah Adren, matanya memancarkan kebanggaan sekaligus sedikit gurauan.
Laila mengangguk mantap, mengambil posisi di kursinya. "Siap, Yah! Sudah 100 persen. Doakan Laila ya, semoga lancar dan bisa mengikuti semua mata kuliah dengan baik."
"Tentu saja, Nak. Kami selalu mendoakan yang terbaik untukmu," sahut Ibu Endah sambil menuangkan teh hangat ke cangkir Ayah, kemudian secangkir s**u putih untuk Laila. "Jangan lupa semangatnya, ya. Kuliah itu bukan hanya mencari nilai dan ijazah, tapi mencari ilmu, pengalaman, dan membentuk dirimu menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab."
Saat Laila baru saja menyuap nasi goreng pertamanya, menikmati setiap butiran nasi yang gurih, suara klakson motor yang khas terdengar dua kali dari depan rumah. "Itu pasti Angle dan Miska!" seru Laila, menaruh sendoknya dan segera beranjak dari meja makan.
Mereka memang sudah janji akan berangkat bersama, sebagai bentuk dukungan persahabatan di hari pertama yang mendebarkan ini.
"Jangan terburu-buru, Nak. Habiskan dulu sarapanmu," tegur Ibu Endah lembut, meskipun senyumnya menunjukkan bahwa ia memahami kegembiraan putrinya.
Laila hanya tersenyum cengengesan, memperlihatkan deretan gigi putihnya. Ia sudah terlalu bersemangat untuk memikirkan nasi goreng yang masih tersisa.
Benar saja, ketika Laila membuka pintu, Angle sudah berdiri tegak di samping motor matik hitamnya, mengenakan jaket denim kesayangannya yang sedikit lusuh namun tetap keren. Rambut pendeknya yang dicat cokelat gelap membingkai wajahnya yang ekspresif. Di belakangnya, Miska turun dari boncengan, rambutnya yang bergelombang diikat ekor kuda tinggi, memperlihatkan anting-anting perak kecil yang berkilau. Miska membawa tas punggung besar yang dihiasi dengan berbagai gantungan kunci unik, mulai dari ikon kamera mini hingga miniatur kuas lukis, mencerminkan minatnya pada seni dan fotografi.
"Laila! Ayo! Sudah siap untuk hari ini?" seru Angle, nada suaranya selalu penuh energi dan optimisme yang menular.
Miska tersenyum manis, memperlihatkan lesung pipinya. "Selamat pagi, Tante Endah, Om Adren!" sapanya ramah kepada orang tua Laila yang muncul di ambang pintu, ingin memastikan putri mereka berangkat dengan aman.
"Selamat pagi, anak-anak. Wah, sudah cantik-cantik saja pagi ini," puji Ayah Adren, matanya menelusuri penampilan ketiga remaja putri itu.
"Sarapan dulu, Nak Angle, Nak Miska," tawar Ibu Endah, gestur keibuannya tak pernah absen.
"Terima kasih banyak, Tante, tapi kami sudah sarapan di rumah," jawab Angle. "Laila bagaimana, sudah siap?"
Laila menyambar gelas air putih di meja makan, menenggaknya hingga habis. "Sudah! Tinggal pakai sepatu!" Ia bergegas masuk lagi sebentar, mengenakan sepatu kets putihnya yang bersih.
Setelah berpamitan dan mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim, Laila melangkah keluar, jantungnya berdegup kencang dengan irama yang menyenangkan. Ini adalah gerbang. Gerbang menuju dunia baru yang penuh tantangan, pengetahuan, persahabatan baru, dan mungkin, gerbang menuju Rumah Impiannya yang selama ini hanya ada dalam imajinasi, kini akan mulai ia bangun fondasinya dengan ilmu yang akan ia serap. Dengan ransel di punggung dan lukisan impian tersimpan rapi di dalamnya, Laila naik ke boncengan motor Angle. Di samping mereka, Miska sudah siap dengan motornya sendiri, helm sudah terpasang rapi di kepalanya.
"Siap, pasukan Arsitektur? Mari kita hadapi hari pertama!" seru Angle penuh semangat, menyalakan mesin motornya.
Laila dan Miska tertawa renyah, mengangguk serempak. "Siap!" sahut mereka berbarengan, suara optimisme memenuhi udara pagi.
Mesin motor menderu, memecah kesunyian yang masih menyelimuti kompleks perumahan. Tiga sahabat itu melaju bersama, meninggalkan rumah Laila, menuju sebuah babak baru dalam hidup mereka. Sebuah babak yang mungkin saja akan membawa Laila semakin dekat dengan keindahan arsitektur yang melayang di antara awan, seperti yang ia impikan.
***