Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh Nirvyan Tara
BRAKKK!Seorang lelaki tua membuka pintu gudang yang terkunci secara paksa. Asap tebal yang mengaburkan pandangan dan menyumbat saluran pernafasan ia hiraukan. "Dia di dalam sana .... "Ia menyipitkan matanya. Tiba-tiba seorang perempuan berseragam sekolah berdiri tak jauh di depannya. Menunjuk ke arah sudut ruangan. "Mbak kenapa di situ? Cepat keluar! Kalau tidak mbak bisa ikut terbakar!" Penjaga sekolah itu langsung menghindar ketika sebuah kayu hampir saja menimpa tubuhnya. Dengan menutup hidungnya, ia berlari menembus asap hitam, mencari keberadaan salah satu siswi di sekolahnya. "To-tolong .... "Seorang gadis yang bersembunyi di bawah lemari memanggil lemah. Air matanya mengalir deras, berpikir bahwa ia akan terbakar hidup-hidup di dalam gudang. Menemani sosok-sosok tak terlihat di tempat gelap itu yang sedari tadi mengganggunya."Kau akan menemani kami .... ""Aku akan menjadi sahabatmu .... ""Kau bisa membalas dendam kepada mereka nanti .... "Ia hampir putus asa. Nafasnya terasa semakin sesak, apalagi semenjak suara kematian itu semakin memangilnya. Ia sendirian. Di tempat yang gelap. Jiwa-jiwa tak tenang itu meminta dirinya menemani mereka selamanya. "Ada orang di dalam?! Mbak dimana?!" Merasa memiliki kesempatan kedua untuk hidup, ia memaksa berteriak. Memukul-mukul lemari dengan tangannya yang lemah. Ia juga merangkak keluar. Tanpa sadar bahwa sebuah kursi terbakar jatuh akan menimpanya. Beruntunglah, sesosok perempuan menghalaunya. Memeluk tubuhnya yang berkeringat panas. "Aku akan menemani mu. Seperti kamu yang menemani ku selama ini ... Tidak seperti mereka yang menganggap kau tidak pernah ada." Dengan tubuh tak berdaya, Vio merasa tubuhnya diangkat seseorang. Ia kembali menangis. Sudah cukup semua halusinasi yang membuatnya gila tadi. Rasanya ia tak ingin membuka matanya lagi. Banyak hal yang seharusnya tidak ia lihat mengusiknya. Bahkan, teman-temannya sendiri pun dengan tega mengurung dirinya dalam gudang pengap hingga malam. Siapa yang dengan tega hati berbuat demikian? Ia tak akan memaafkannya! Ia hampir mati jika saja penjaga sekolah tidak menemukan dirinya yang tergeletak tak berdaya di sini."Bertahan mbak, saya akan membantu mbak keluar." Bahkan, dengan tubuh rentanya penjaga sekolah tidak tega meninggalkan dirinya walau dia sendiri juga dalam keadaan bahaya. ***Di luar sekolah, terlihat banyak orang yang berkerumun menyaksikan kebakaran di salah satu ruangan SMA 1 Cendekia. Mobil pemadam kebakaran baru saja tiba ketika kebakaran itu hampir merambat ke gedung kelas. Semua berteriak dan semakin ricuh, ketika penjaga sekolah telah keluar dan berhasil menyelamatkan siswi SMA tersebut. Pria tua yang menggendong Vio terjatuh dengan batuk yang semakin parah. Beberapa orang langsung berlari memberikan pertolongan dan membawanya ke dalam ambulans.Ketika mobil ambulans telah berangkat menuju rumah sakit. Seorang lelaki yang mengenakan seragam sama tiba dengan wajah panik. Matanya melotot tak percaya ketika melihat gudang sekolah dan beberapa ruangan lainnya telah hancur. Ia berlari, nekat menerobos beberapa orang yang berkerumun. "Li, mau kemana?!!" "Masuk. Ada nyawa yang harus gue selamatkan!" "Tapi bahaya! Gedung bagian sana udah hancur. Lo mau nyelamatin siapa?! Jangan ngawur! Lo bisa mati!""Gue gak peduli!" Liam sudah telanjur panik. Orang-orang tidak tahu. Ia ikut andil sebagai penyebab masalah ini. Tak memungkinkan untuk menerobos kerumunan yang semakin sesak, ia pergi ke arah belakang sekolah. Jalan itu lumayan sepi. Ia semakin berlari ke dalam gedung. Sekalipun harus mengorbankan dirinya sendiri. "Gue akan dihantui perasaan bersalah seumur hidup kalau dia sampai mati."Baru beberapa langkah, tiba-tiba saja tubuhnya terpental jauh ketika hendak menuju arah tangga. Ia memegang ulu hatinya yang terasa sakit seolah ada yang meninjunya tadi. Seorang perempuan berseragam muncul dari balik asap tebal. Mata Liam langsung melebar ketika menyadari bahwa sosok yang menghampirinya adalah orang yang sangat ia kenal. Perempuan itu memiliki wajah yang mirip dengannya. Tidak! Dia adalah kembarannya yang meninggal 5 bulan yang lalu. Liam langsung keringat dingin ketika wanita itu berdiri tepat didepannya. Berjongkok, menyentuh dagunya dengan tatapan tajam."Untuk apa kamu menyelamatkan nya? Sedangkan kamu sendiri yang menginginkannya menderita, umh?"ic_default
Karena kamu suka Sekolah, mungkin kamu suka ini juga:
Sekolah