Sungai Progo, Magelang
Tiga belas tahun lalu — pukul 04.52 WIB
Langit belum benar-benar terang ketika Pak Sumar pertama kali melihatnya.
Bukan ikan. Bukan kayu hanyut. Bukan pula sampah yang biasanya memenuhi sungai ini setiap musim hujan. Itu adalah seorang perempuan.
Tubuhnya mengapung terlentang menghadap langit. Rambut hitam panjangnya terurai lebar di permukaan air yang keruh. Kain putih lusuh yang membungkus tubuhnya mengembang pelan di sekelilingnya, menciptakan pemandangan yang aneh—seolah ia sedang berbaring tenang di atas permukaan air yang sangat dingin dan diam.
Pak Sumar mendekat dengan perahu secara perlahan. Dayungnya membelah air tanpa suara, seolah ia takut suara sekecil apa pun akan mengejutkan perempuan itu.
Namun, perempuan itu jelas tidak akan bangun lagi. Pak Sumar tertegun. Sebagai nelayan tua yang sudah puluhan tahun mencari nafkah di Sungai Progo, ia sudah sering menemukan mayat hanyut. Tapi wajah perempuan ini berbeda.
Utuh.
Benar-benar utuh.
Seharusnya, tubuh yang sudah terbawa arus lebih dari satu malam tidak akan terlihat seperti ini. Kulitnya tidak bengkak, warnanya tidak membiru pucat, dan tidak ada luka sedikit pun akibat terbentur batu atau kayu di sungai yang deras. Perempuan ini tampak seperti baru saja diletakkan di sana dengan sengaja, bukan dibuang secara kasar. Dan kenyataan itu justru terasa jauh lebih menakutkan bagi Pak Sumar.
Dengan tangan gemetar, Pak Sumar mengulurkan dayungnya untuk menyentuh bahu perempuan itu. Tubuh itu berputar perlahan. Wajah cantiknya kini menghadap ke arah timur, tepat saat langit mulai memerah. Rona merah fajar yang biasanya hangat, pagi ini terasa seperti warna darah yang menggenangi permukaan air.
Pak Sumar menelan ludah dengan susah payah. Ia meraba ponsel tua di saku bajunya. Ia tidak tahu siapa nama perempuan ini, dari mana asalnya, atau siapa orang yang tega menyeretnya keluar dari rumah dan membiarkannya hanyut di sungai sedalam ini.
Yang ia tahu hanya satu: di suatu tempat, ada keluarga yang baru saja kehilangan dunianya. Dan di tempat lain, mungkin tidak jauh dari sini, ada seseorang yang sedang merasa menang.
Ia segera menelepon polisi.
Saat matahari mulai naik dan cahayanya memantul di permukaan Sungai Progo, Pak Sumar hanya bisa duduk mematung di perahunya. Di sampingnya, perempuan itu tetap diam. Seutas tali tipis yang diikatkan Pak Sumar di pergelangan tangan sang puan mencegah tubuh itu terbawa arus lebih jauh. Tubuhnya naik-turun mengikuti riak air dengan sangat pelan.
Pagi itu terasa sangat sunyi. Tidak ada suara burung atau aktivitas warga. Hanya ada satu gaun kecil berwarna biru muda yang tersangkut di akar pohon di pinggir sungai. Ukurannya terlalu kecil untuk perempuan yang mengapung di sana; itu adalah gaun milik seorang gadis yang jauh lebih muda.
Pak Sumar menunduk. Ia berdoa singkat untuk perempuan itu, dan untuk siapa pun pemilik gaun biru yang tertinggal di sana.
Dua hari kemudian, di titik yang berbeda di Magelang, gaun biru muda itu ditemukan lagi. Kali ini, gaun tersebut melekat pada tubuh seorang gadis remaja yang tertelungkup di tepian sungai yang berlumpur. Rambut hitamnya penuh kotoran dan kerikil. Gaun pestanya basah kuyup, terasa dingin dan berat menempel di kulit yang sudah kaku.
Seorang pemuda berlari menembus kerumunan warga dengan napas yang putus-putus. Jarak dua puluh meter terasa sangat jauh karena ketakutan yang mencekik dadanya. Sepatunya basah terkena lumpur. Selama dua hari terakhir, ia terus mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ia berhenti tepat di depan tubuh itu.
Ia menatapnya dalam diam yang sangat panjang.
Seluruh tenaganya seolah tersedot habis. Harapan yang selama dua hari ini ia jaga mati-matian, kini hancur lebur di depan matanya sendiri. Dunia di sekelilingnya mendadak terasa hampa.
Namun, ada sesuatu yang aneh.
Ia memicingkan mata. Ia berjongkok, mengabaikan celananya yang kotor terkena tanah basah.
Postur tubuh gadis ini. Tinggi badannya. Dan yang paling penting... bentuk jari-jari tangannya. Ingatannya kembali pada setiap detail kecil yang pernah ia perhatikan selama bertahun-tahun saat mereka bersama.
Ini bukan dia. Semua ukurannya salah.
Candra Samudra, sembilan belas tahun, berdiri kembali dengan tangan yang gemetar hebat. Dadanya terasa sesak oleh campuran rasa emosi yang kacau: ia merasa sangat lega karena mayat itu bukan tunangannya, tapi di saat yang sama, ia merasa ketakutan karena kini ia benar-benar tidak tahu di mana Rika berada.
Jika mayat yang memakai gaun ini bukan Rika, lalu di mana Rika? Kenapa hanya gaunnya yang ditemukan?
Candra menatap ke arah sungai yang mengalir deras di bawah gerimis yang mulai turun.
Sungai itu tidak memberikan jawaban apa pun. Dan kebisuan sungai itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia maafkan, bahkan setelah bertahun-tahun ia tumbuh menjadi pria yang paling ditakuti di kota ini.