Lara mengingat seseorang yang mungkin bisa membantu.
Indri. Sahabat Lara dari kuliah—Sastra Indonesia UI, angkatan 2010, satu kelas selama empat semester. Setelah lulus, jalan mereka berbeda. Lara ke marketing, Indri ke kriminologi (S2 di kampus yang sama). Sekarang Indri detektif swasta di kantor kecil di Cawang, melakukan investigasi untuk pengacara perceraian, perusahaan asuransi, dan beberapa klien individu yang butuh diam-diam.
Lara tidak pernah memakai jasa Indri. Tujuh tahun mereka cuma ketemu setahun sekali untuk reunian. Tapi sekarang—
Lara menelepon Indri pukul sembilan pagi. Setelah Bram berangkat kantor. Setelah Rasya diantar ke sekolah.
"Lara!"
"Indri."
"Lo aneh banget, Lar. Lo gak pernah telepon. Cuma WhatsApp, dan itu pun setahun sekali."
"Iya. Maaf, Indri. Saya... saya butuh bantuan."
Indri terdiam tiga detik. Membaca nada Lara. Indri yang Lara kenal sejak kuliah, yang bisa baca emosi orang dari satu hela napas.
"Lar. Apa yang lo butuhkan?"
"Indri. Bram... saya pikir Bram sembunyi sesuatu. Sesuatu yang besar."
"Lar."
"Saya butuh lo investigasi. Dengan cara lo. Saya bayar."
"Lo gak perlu bayar, gila. Cerita aja. Saya datang ke rumah lo sore nanti?"
"Tidak. Bram tidak boleh tahu. Saya datang ke kantor lo. Sekarang."
***
Kantor Indri di Cawang. Ruangan kecil di lantai tiga gedung biasa. Plang di pintu kayu: "Indri Wibowo - Investigation & Research." Tidak ada secretary. Cuma Indri di balik meja, dengan dua monitor dan sebuah CCTV yang memantau lorong di luar.
Lara masuk. Indri menutup pintu. Mengunci.
"Lar. Cerita."
Lara cerita semuanya. HP kedua. Pesan-pesan dari "K". Identitas-Safehouse-Cooldown-Exposure. Pratama Logistic dan teman-teman BIN. Kunjungan ke Kemang kemarin sore.
Indri mendengar dengan serius. Mengambil notes di buku catatan kecil—tulisan tangan, tidak digital. Lara sadari kemudian: Indri tidak mau ada digital trail.
Setelah Lara selesai, Indri menarik napas.
"Lar. OK. Saya ambil ini. Tapi gw kasih lo warning—kalau Bram beneran agen intelijen atau aset, ini akan... berbahaya. Buat lo, buat gw."
"Indri. Saya butuh tahu."
"OK. Lo kasih saya alamat apartment Kemang itu, plat motor Bram, plat mobil Bram, jadwal kantor Bram, dan... dan saya butuh foto Bram. Foto yang clear—bukan foto wedding, foto candid recent."
"Saya kirim sekarang."
"Lar, satu hal lagi. Lo jangan ikuti Bram lagi. Mulai sekarang. Lo amatir, dia profesional. Kalau dia tahu lo ngintai, dia akan tahu lo curiga, dan itu akan mengaktifkan protokol. Saya yang handle dari sini. OK?"
"Iya, Indri."
"Lo cuma pulang ke rumah. Bersikap normal. Sok bahagia. Cium suami lo seperti biasa."
"Indri, itu sulit."
"Lar. Saya tahu. Tapi itu yang lo harus. Demi keamanan lo dan Rasya."
Lara mengangguk pelan.
***
Indri mulai investigasi. Lara melanjutkan rutinitas—antar Rasya sekolah, jualan online, masak, jaga rumah, sambut Bram pulang. Mencium kening Bram seperti biasa. Mendengarkan cerita kerjanya seperti biasa. Tertawa pada lelucon-nya seperti biasa.
Bram tidak curiga. Sama sekali tidak. Itu yang membuat Lara semakin yakin Bram profesional—dia tidak membaca perubahan kecil di tubuh istrinya yang sudah tujuh tahun dia kenal. Atau, lebih mengerikan, dia membaca tapi diam.
Empat hari kemudian, Indri telepon Lara. Pukul dua siang, saat Lara sedang ke pasar.
"Lar. Lo bisa ke kantor saya sekarang?"
"Iya. Sekarang?"
"Sekarang. Saya temuin banyak."
Lara titip Rasya ke tetangga—Bu Endang, ibu rumah tangga di sebelah, yang selalu siap menerima Rasya kalau Lara butuh. Lara naik mobil sendiri ke Cawang.
Indri menutup pintu setelah Lara masuk. Mengunci. Menutup gorden jendela.
"Lar. Saya temuin banyak."
"Cerita."
Indri buka laptopnya. Layar dengan beberapa foto.
"Apartment Kemang lantai 3. Unit 305. Terdaftar atas nama 'Bram Wicaksono'. Tapi nama itu... tidak ada di sistem kependudukan Indonesia. Saya cek di database yang saya bisa akses—NIK tidak match dengan database resmi. Nama 'Bram Wicaksono' fake, secara legal."
Lara membeku. Menatap layar.
"Bram Wicaksono. Itu... itu bukan nama suami saya."
"Tepat. Suami lo: Bram Pradana Wicaksono. Nama yang di sini cuma 'Bram Wicaksono.' Beda alamat KTP. Beda data. Profesi terdaftar 'konsultan independen'."
"Apa artinya?"
"Lara. Suami lo pakai identitas kedua. Identitas yang... terdaftar resmi di sistem (NIK ada, foto ada di scan KTP digital), tapi dengan data yang sebagian palsu. Itu jenis identitas yang cuma orang tertentu bisa punya."
"Orang tertentu?"
"Lar. Cuma orang yang bekerja di institusi yang punya akses ke pembuatan identitas resmi-tapi-fake. BIN. BAIS. Beberapa unit khusus polisi. Atau... atau orang yang punya kontak di sana."
Lara menutup mulutnya.
"Indri."
"Tunggu. Ada lebih."
Indri membuka folder lain di laptop. Foto-foto candid—dari kamera CCTV koridor apartment, yang Indri jelas bayar satpam tua untuk akses. Foto Bram dari samping, masuk apartment 305.
Tapi yang berikutnya membuat Lara berhenti bernapas.
Foto seorang perempuan—mungkin awal tiga puluhan, rambut sebahu, tinggi sedang—keluar dari apartment 305 setelah Bram masuk. Bukan langsung. Tapi lima belas menit setelahnya.
"Apartment 305 Kemang dipakai oleh Bram dan... seorang perempuan. Nama: Karina Lestari. 32 tahun. Tidak menikah secara resmi. Tinggal di apartment itu setiap hari—saya cek dengan satpam, dia konfirmasi."
Lara membatu. Menatap foto.
"Indri. Bram... selingkuh?"
"Lar. Saya pikir bukan selingkuh. Saya pikir... Karina rekan kerja Bram. Mereka pakai apartment itu sebagai... operasi base."
"Operasi base?"
"Lar. Bram dan Karina punya pola yang saya observasi tiga hari ini. Mereka di apartment itu setiap hari satu sampai dua jam, sore. Kadang ketemu orang lain—kebanyakan pria, beberapa perempuan. Selalu beda orang. Selalu di apartment itu, bukan kafe atau restoran. Pertemuan-pertemuan singkat, dua puluh menit sampai satu jam."
"Indri. Apa artinya?"
Indri menarik napas.
"Lara. Kalau lo nanya saya, saya akan bilang: Bram bukan pegawai marketing biasa. Bram di operasi intelijen atau penyelundupan tertentu. Karina partner-nya. Apartment Kemang adalah base operasi mereka—tempat mereka meet kontak, debrief, dan ganti baju supaya pulang ke rumah pakai identitas yang berbeda."
Lara duduk di kursi Indri. Tubuhnya... lemas. Sofa Indri yang sudah lusuh kelihatan jauh lebih nyaman.
"Indri. Bram berbohong... selama tujuh tahun?"
"Lar. Mungkin lebih lama. Mungkin sejak sebelum dia menikahi lo."
Lara mulai menangis. Pelan dulu. Lalu deras.
Indri datang dari belakang meja. Memeluk Lara.
"Lar. Saya minta maaf saya yang harus kasih tahu lo."
"Indri. Apakah Bram... apakah dia mencintai saya?"
"Lar. Saya tidak tahu. Saya bukan psikolog. Tapi lo tahu sendiri kan, dia pulang setiap hari, dia jaga Rasya, dia berpura-pura tidak bisa pura-pura tujuh tahun."
"Tapi dia berbohong tentang siapa dia."
"Iya. Dua hal yang berbeda."