Karina menelepon dua hari kemudian. Tidak ke Indri. Ke Rasya.
"Indri detektif," kata Karina, suaranya menyusut oleh jarak dan usia. "Dia mencari kasus. Tapi kamu mencari ayahmu. Itu beda. Aku bicara pada yang mencari ayahnya."
Rasya duduk di teras Bintaro, tempat ayahnya dulu menyiram tanaman yang tidak ia kenal namanya. Ara di sebelahnya, diam, mendengar lewat speaker.
"Aku akan ceritakan kerangkanya," kata Karina. "Bukan semua. Tapi cukup supaya kamu mengerti apa yang ayahmu maksud waktu dia tulis 'baca ketika kamu mengerti'."
Rasya menahan napas. Ia tidak pernah bilang pada Karina soal surat itu. Berarti Bram pernah bilang pada Karina bahwa ia akan meninggalkan surat. Berarti ini sudah direncanakan, jauh sebelum kematian, sebuah operasi terakhir yang dijalankan ayahnya dari balik kubur.
"Di tahun terakhirnya," kata Karina, "Bram diminta melakukan sesuatu di luar rantai komando. Seorang bekas rekan—orang yang sudah putus asa, yang tidak bisa lagi percaya siapa pun di dalam sistem—datang ke Bram secara pribadi. Bukan lewat kantor. Lewat utang lama, lewat persahabatan, lewat hal-hal yang mengikat lelaki seperti mereka lebih kuat dari aturan."
"Apa yang diminta?" tanya Rasya.
"Melindungi seseorang. Diam-diam. Memindahkan orang ini, menyembunyikannya, menjaganya tetap hidup. Bukan untuk ditangkap. Bukan lewat operasi negara—justru karena sistem resmi yang bocor, yang malah menjualnya. Seorang saksi yang, kalau dibiarkan, akan mati sebelum sempat bersaksi." Karina berhenti. "Bram tahu ini salah secara prosedur. Tapi dia melakukannya. Karena utang. Dan—aku rasa—karena dia ingin tahu apakah dia masih bisa. Apakah dia masih lelaki yang berguna, atau cuma pensiunan yang menyiram tanaman."
Rasya menutup mata. Itu detail yang terlalu manusiawi untuk dibantah. Ayahnya, di ujung usia, mengejar satu pekerjaan terakhir bukan demi negara atau uang, tapi demi merasa masih hidup.
"Lalu apa yang terjadi padanya? Pada saksi itu?"
Hening di ujung sana. Ombak Uluwatu, samar, di latar belakang.
"Itu bagian yang tidak akan kuceritakan lewat telepon," kata Karina. "Itu bagian yang membuat berkasnya disegel ulang. Itu bagian yang membuat Bram menyimpan semuanya sendirian—tidak pernah melapor pada siapa pun ke mana ia memindahkan perempuan itu, bahkan pada orang yang memintanya. Karena siapa pun yang tahu di mana saksi itu adalah satu retakan lagi di dinding yang menjaganya. Dan Bram memutuskan, sendiri, bahwa lebih baik tidak ada yang tahu."
"Karina—"
"Yang perlu kamu mengerti sekarang," potong Karina, lembut tapi tegas, "adalah ini: ayahmu bukan korban dan bukan pahlawan. Dia membuat pilihan moral sendirian, di luar sistem, dan dia menanggungnya sendirian sampai mati. Pertanyaan yang ditinggalkannya untukmu bukan 'siapa yang dia sembunyikan'. Tapi 'apakah kamu setuju dengan keputusannya untuk diam'." Jeda panjang. "Kalau jawabanmu ya, berhenti di sini. Kalau tidak, datang ke Bali. Tapi bawa pertanyaan itu, bukan rasa penasaran. Penasaran akan membunuhmu. Pertanyaan moral mungkin menyelamatkanmu."
Telepon ditutup. Rasya dan Ara duduk di teras, di antara tanaman yang masih hidup karena ada yang menyiramnya, dan tidak satu pun dari mereka bisa bicara untuk waktu yang lama.
(bersambung...)