Lara bangun pukul enam pagi di villa Sukabumi. Rasya masih tidur di kamar dalam, di tempat tidur yang dia ditempatkan tadi malam.
Lara pindah dari kursi teras ke dapur villa—dapur kecil dengan kompor portable dan kettle plastik. Membuat kopi instan dengan air panas. Duduk kembali di teras menatap pegunungan yang sekarang terlihat—kabut tipis menutupi setengah, hijau di bawah, sunyi total. Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada klakson. Cuma burung pagi dan angin yang melewati pohon pinus di belakang villa.
Untuk satu menit, Lara hampir bisa lupa kenapa dia di sini.
Lalu HP cadangan dari Indri bunyi. Indri menelepon.
"Lar."
"Indri."
"Bram pagi tadi datang ke kost saya. Pukul lima pagi."
Lara membatu. Cangkir kopi di tangannya hampir tumpah.
"Bagaimana dia tahu kost lo?"
"Lar. Dia agen. Tentu dia tahu—dia mungkin sudah pernah cek profil saya bertahun-tahun lalu, kalau dia memang serius dengan misi 'mengamati Anda.' Saya... saya kasih dia jawaban: lo dan Rasya pergi, saya tidak tahu kemana. Saya berakting dengan baik."
"Indri. Apa dia percaya?"
"Lar. Saya tidak yakin. Mata-nya... mata yang waspada tapi juga... lelah."
"Dia bawa orang lain?"
"Tidak. Dia datang sendiri. Pakai mobil, parkir di seberang gang, jalan kaki ke depan kost. Saya lihat dari kamera depan."
"Indri."
"Lar. Saya mau lo dengarkan ini. Bram... terlihat hancur."
"Hancur?"
"Lar. Dia tidak tidur. Wajahnya kacau—lingkar hitam di mata, rambut berantakan, kemeja yang dia pakai kemarin masih dipakai. Dia berdiri di pintu kost saya, dan dia bilang—saya rekam audionya, dengar—"
Indri memutar audio.
Suara Bram. Suara yang Lara kenal tujuh tahun, sekarang patah:
*"Indri. Tolong. Kalau Anda tahu di mana Lara, tolong bilang dia... bilang dia saya tidak akan kasih informasi ke handler saya. Saya akan menghadapi konsekuensi sendiri. Saya tidak akan biarkan ada apa-apa terjadi pada Lara dan Rasya. Saya... saya minta tolong. Beritahu dia saya cinta dia. Beritahu dia saya akan keluar dari pekerjaan. Apa pun yang dia minta, saya lakukan. Tolong."*
Audio selesai.
Lara menutup matanya. Air mata yang tidak dia tahan, jatuh ke pegangan cangkir kopi.
"Indri."
"Lar. Saya pikir... Bram benar mau melindungi lo."
"Indri. Bagaimana saya bisa percaya?"
"Lar. Saya tidak tahu. Lo yang harus putuskan."
Lara duduk di teras lama. Pegunungan yang sekarang lebih jelas karena matahari mulai naik. Hijau dan kabut.
"Indri. Dia masih cari saya?"
"Tidak. Dia pulang setelah saya kasih jawaban. Sekarang... sekarang saya pasang tracker di mobilnya saat dia di kost saya. Saya akan tahu kalau dia bergerak."
"Indri. Lo... lo bahaya juga sekarang."
"Lar. Saya tahu. Saya juga pindah dari kost. Saya stay di rumah ibu saya beberapa hari. Saya juga sudah laporkan ke polisi tentang pemasangan tracker di mobil Bram—dengan alasan 'mantan klien yang menstalk saya'—jadi kalau Bram coba ambil tindakan legal, saya punya cover."
"Indri. Maaf saya bawa Anda ke ini."
"Lar. Saya pilih. Lo sahabat saya. Saya akan bantu sampai akhir."
Lara menghapus air mata.
"OK, Indri. Saya tunggu."
***
Rasya bangun pukul delapan. Datang ke teras dengan rambut berantakan, masih memakai piyama Spider-Man yang dia bawa dari rumah.
"Bunda. Kita dimana?"
"Sayang. Kita... kita di villa. Sebentar."
"Bapak ada?"
Lara menelan ludah. Kopi-nya yang sudah dingin.
"Bapak... Bapak di kantor, sayang. Kita ke villa untuk holiday kecil. Bunda mau berdua sama Sayang."
"Holiday?"
"Iya, sayang."
"Bapak besok ke sini?"
"Mungkin tidak, sayang. Bapak sibuk."
Rasya mengangguk dengan kepasrahan anak lima tahun yang sudah biasa ayahnya kadang-kadang sibuk. Tidak protes lagi.
"Bunda. Saya laper."
"OK, sayang. Bunda bikin sarapan."
Lara membuat sarapan dari supply yang dia bawa dari minimarket dekat villa kemarin malam—telur, roti, susu kotak. Tidak istimewa, tapi cukup. Mereka makan di teras. Rasya cerita tentang mimpinya yang lupa detilnya, tentang teman-teman di sekolah yang dia akan rindu, tentang kelinci tetangga.
Lara mendengarkan. Tersenyum. Mencoba untuk tetap ada untuk Rasya.
Dia akan jadi ibu dulu. Istri kemudian.
***
Setelah sarapan, Rasya main di halaman villa—mengejar kupu-kupu, melihat semut di pohon, mencari batu menarik. Aktivitas anak yang sederhana yang Lara akan bayar berapa pun untuk sekarang.
Lara duduk di teras. HP cadangan di tangan. Menunggu Indri update.
Pukul sebelas pagi, telepon dari ibu Lara.
"Lara."
"Bu."
"Bram datang ke rumah saya tadi pagi."
Lara membeku.
"Bu. Apa yang dia bilang?"
"Lara. Dia datang sendiri. Membawa kue dari toko kau suka. Brownies dari toko Bell di Cipete. Berdiri di pintu. Tidak masuk. Cuma kasih kue dan minta saya beri ke kau kalau kau kontak saya."
"Bu—"
"Lara. Dia... dia hancur. Saya melihat. Saya... saya tidak terlatih membaca agen, tapi saya ibu yang sudah enam puluh tahun melihat manusia. Saya tahu beda akting dan rasa hancur asli. Bram hancur asli."
"Bu, dia agen. Dia bisa berakting tujuh tahun, dia bisa berakting di pintu rumah Anda."
"Lara. Iya, mungkin. Tapi saya... saya pikir tidak. Mata-nya tadi pagi—mata yang sudah tidak tahu cara menyembunyikan."
Lara duduk lama di teras. Memikirkan.
"Bu. Saya... saya butuh waktu."
"Lara. Tentu, sayang. Saya cuma kasih tahu. Kau di mana sekarang?"
"Bu. Saya tidak akan beritahu Anda. Lebih aman."
"Lara. Saya mengerti. Hati-hati. Dan... dan jangan terlalu cepat memutuskan. Tujuh tahun pernikahan tidak hilang dalam tujuh hari penemuan."
Lara menutup telepon.
Pegunungan masih di hadapannya. Matahari naik. Kabut hilang.
Tapi di dalam dadanya, kabut yang dia tidak tahu cara hilangkan, masih ada.