Laras—ibu Sekar—menyusul Damar empat tahun kemudian, di usia tujuh puluh sembilan.
Sang dokter anak, yang dulu mencatat setiap "ingatan" putrinya dengan ketelitian ilmiah, yang menemukan pola dua kehidupan di kepala anak kecil, yang memilih melindungi daripada membebani.
Empat tahun sebagai janda, Laras tetap aktif—membantu Sekar dengan anak-anak berkapasitas, menggunakan keahlian dokternya untuk memastikan tidak ada yang salah diagnosa. Dia dan Sekar menjadi tim: ibu yang ilmiah, anak yang mengalami langsung.
Tapi usia datang, dan Laras pergi—juga dengan tenang, di rumah Solo, dengan Sekar di sampingnya.
"Sekar," kata Laras di hari-hari terakhirnya. "Bunda mau ngomong sesuatu yang Bunda nggak pernah bilang."
"Apa, Bunda?"
"Waktu kamu lahir, dan mulai ngomong soal kotak besi dan istana—Bunda takut. Bukan takut sama kamu. Takut kamu akan menderita. Takut dua hidup itu terlalu berat buat satu anak."
Laras menggenggam tangan putrinya.
"Tapi lihat kamu sekarang. Kamu nggak cuma bertahan. Kamu bahagia. Kamu menikah, punya anak, nulis buku, nolong anak-anak lain. Kamu jalani hidup yang utuh—lebih utuh dari kebanyakan orang yang cuma punya satu hidup."
Air mata Laras mengalir.
"Bunda bangga, Sekar. Bukan karena kamu reinkarnasi, bukan karena kamu istimewa. Tapi karena kamu baik. Karena kamu ambil beban dua hidup, dan dari situ kamu jadi orang yang nolong orang lain. Itu... itu hal terindah yang seorang ibu bisa lihat dari anaknya."
Sekar menangis, memegang tangan ibunya. "Bunda yang bikin aku bisa, Bunda. Bunda dan Bapak. Kalian nggak takut sama aku. Kalian jagain aku."
"Itu tugas orangtua, sayang. Sekarang kamu lakuin itu buat Cahaya, buat anak-anak yang datang ke kamu." Laras tersenyum lemah. "Rantai kasih sayang. Turun-temurun. Itu warisan keluarga kita yang sebenarnya—bukan naskah, bukan cerita. Tapi kasih sayang yang nggak pernah putus."
Laras pergi malam itu, tenang.
Pemakaman di Solo, di sebelah Damar. Sekar, sekarang generasi tertua dalam garis langsungnya, berdiri di antara dua makam orangtuanya—dan merasakan, untuk pertama kalinya, beban menjadi penjaga.
Tapi dia tidak sendirian. Di belakangnya, 800 tahun keluarga. Di sampingnya, Arga dan anak-anaknya. Dan di jendela kepalanya, kapan pun dia butuh, suara-suara yang mencintainya.
(bersambung...)