Kapasitas Sekar adalah yang terkuat dalam sejarah keluarga Atmaja.
Dia tidak hanya mengingat dua hidupnya. Dia bisa mendengar—jernih, hampir seperti percakapan—suara leluhur yang sudah pergi. "Jendela kepala," begitu keluarga menyebutnya turun-temurun, sejak zaman Anjani Majapahit.
Suatu malam, umur enam belas, Sekar membuka jendela kepalanya—dengan hati-hati, dilindungi mantra—dan untuk pertama kalinya, dengan sengaja, memanggil.
"Cahaya," bisiknya dalam hati. "Anakku yang dulu. Penyair Majapahit. Kamu di sana?"
Hening. Lalu—pelan, hangat, dari sangat jauh—suara perempuan.
*"Bunda. Akhirnya Bunda memanggil."*
Air mata Sekar mengalir. Suara itu—dia kenal, dari dua hidup lalu.
"Cahaya. Kamu... kamu nungguin aku?"
*"Selama 800 tahun, Bunda. Aku menulis hidup Bunda supaya tidak hilang. Aku menunggu Bunda kembali. Sekarang Bunda di sini—anak kecil bernama Sekar, hidup yang ketiga."*
"Cahaya. Aku kangen kamu."
*"Aku juga, Bunda. Tapi dengar—aku sudah hidup penuh. Aku pergi tenang, umur 42, dikelilingi anak-cucu. Hidupku utuh. Jangan sedihkan aku."*
*"Yang penting sekarang: Bunda. Hidup ini—yang ketiga—jalani sepenuhnya. Itu yang Bunda tunggu 800 tahun. Jangan habiskan waktu bicara dengan kami yang sudah pergi. Bicara dengan yang hidup. Cintai yang hidup. Itu yang Bunda butuhkan."*
Sekar terisak pelan. "Tapi aku kangen kalian. Cahaya. Adi. Bibi Yi. Semua dari hidup-hidup lalu."
*"Kami selalu di sini, Bunda. Kalau Bunda butuh. Tapi jangan tinggal di sini, di antara yang sudah pergi. Hidup Bunda ada di luar sana—di dunia yang hidup, dengan orang-orang yang hidup."*
*"Tutup jendelanya, Bunda. Pergi keluar. Hidup. Itu hadiah terbesar yang bisa Bunda beri pada kami semua yang sudah pergi—menjalani hidup yang utuh, yang kami semua sudah dapat, tapi yang Bunda belum."*
Sekar menutup jendela kepalanya, pelan. Suara Cahaya memudar, hangat, penuh cinta.
Dia duduk di kamarnya, di rumah Atmaja Solo, menyeka air mata.
Cahaya benar. Para leluhur sudah hidup penuh. Mereka tidak butuh ditangisi. Yang mereka inginkan—satu-satunya hal—adalah Sekar menjalani hidup yang utuh.
Untuk itu, Sekar harus berhenti hidup di masa lalu, dan mulai hidup di masa kini.
(bersambung...)