Pukul sebelas lima puluh malam, Sekar masih di kantornya di lantai dua puluh tiga gedung Sudirman.
Lampu kantor sebagian sudah dimatikan—tim cleaning sudah pulang dua jam lalu, tidak ada satu pun karyawan lain di lantai. Cuma Sekar dengan dua layar monitor, tiga gelas kopi instan kosong yang dia susun di pinggir meja, dan rasa lapar yang dia abaikan sejak jam tujuh.
Pesta ulang tahun perusahaan klien—yang Sekar handle sendiri sebagai event manager senior di event organizer-nya yang sudah dua tahun dia kerja—dimulai besok pagi pukul sembilan. Lima hal yang masih belum beres: vendor catering minta confirmation final menu (mereka mau tahu apakah harus extra vegetarian atau tidak), dekorator butuh approval pengaturan flower arrangement yang Sekar tunda dua hari karena klien tidak balas WA, ada satu issue dengan venue tentang volume sound system yang melebihi batas gedung, satu MC yang batal H-1, satu vendor souvenir yang minta confirm jumlah final.
Lima hal. Sekar harus selesaikan semua malam ini. Dia sudah janji ke klien bahwa pagi acara dia akan datang dengan semua siap, tidak ada drama menit terakhir.
HP-nya bergetar di atas meja. Sekar menatap layar—nama "Ito" muncul, adik laki-lakinya yang masih kuliah di Yogyakarta. Pukul hampir tengah malam. Ito tidak pernah telepon di jam segini.
Sekar mengangkat. Pasti ada sesuatu yang salah.
"Mbak. Mbak Sekar?"
Suara Ito gemetar. Sekar bisa dengar dia menahan tangis di seberang.
"Ito? Ada apa?"
"Mbak. Ibu... Ibu masuk rumah sakit. Tadi sore. Stroke."
Sekar berdiri. Laptop-nya hampir jatuh dari paha.
"Ito, kamu di mana? Tadi sore? Kenapa baru sekarang—"
"RS Persahabatan. ICU. Saya baru sampai dari Jogja, naik kereta. Tante Lina yang nemenin Ibu dari sore. Dokter bilang kondisi Ibu... tidak stabil. Bu, beliau belum sadar."
"Saya ke sana sekarang."
Sekar menutup laptop. Menutup. Menutup. Tidak buka lagi. Tidak peduli vendor, tidak peduli MC, tidak peduli klien yang akan marah besok pagi—dia akan urus dari rumah sakit, atau dia akan minta cuti darurat dan biar Lila partner-nya yang ambil alih.
Sekar mengambil tasnya. Ransel kanvas yang sudah robek di sudut. Lari ke parkiran lantai basement. Naik motor—Honda Beat tua-nya yang dia pakai sejak kuliah di Bandung, yang odometer-nya sudah tembus seratus tiga puluh ribu kilometer.
Jalan tol Cawang sepi pukul dua belas malam. Sebagian truk barang. Beberapa mobil pribadi yang seperti dia, telat pulang dari kantor. Sekar memacu motor di lajur kanan, lebih cepat dari yang dia biasanya berani. Helm-nya terlalu longgar—dia lupa kencangkan tali dagu karena terburu-buru—dan angin membuat helm ber-getar di kepalanya.
Dia memikirkan ibunya yang sekarang sekarat di Jakarta Timur. Ibu yang sudah janda sejak Sekar SMP, yang membesarkan Sekar dan Ito sendirian dengan jualan kue kering di rumah. Ibu yang setiap kali Sekar pulang Lebaran, pertanyaannya selalu sama: "Sekar, kapan menikah, Mama udah tua." Sekar selalu jawab "tahun depan, Ma" sejak lima tahun lalu.
Sekar memikirkan kenapa dia tidak pulang lebih sering. Magelang—rumah ibu—cuma enam jam dari Jakarta. Dia bisa pulang setiap dua bulan. Tapi dia tidak. Karena kerja. Karena alasan-alasan yang sekarang, di tol Cawang pukul tengah malam, terasa sangat tipis.
Dia tidak melihat truk itu. Truk container yang berhenti tiba-tiba di tengah jalan tol karena ban pecah—tidak menyalakan lampu hazard, tidak ada segitiga pengaman, sopirnya turun ke bahu jalan untuk panggil bantuan tapi belum sempat.
Yang Sekar ingat terakhir: cahaya merah lampu rem truk yang muncul tiba-tiba, suara klakson sendiri yang dia tekan refleks, dan rasa tubuhnya melayang setelah motor menabrak.
Lalu gelap.
Lalu—sangat aneh—dia merasa dingin. Seperti baju basah. Seperti dia jatuh ke air dingin yang dalam.
Tapi dia tidak basah. Dia tahu—dia bisa rasakan—dia tidak basah.
Sekar membuka mata.
Dia tidak di rumah sakit. Dia tidak di tol Cawang. Dia tidak di mana pun yang dia kenal.
Dia di ranjang berkelambu sutera merah tua, di kamar dengan dinding kayu jati ukir yang Sekar bahkan belum pernah lihat di film sejarah, dengan lampu minyak—bukan listrik—yang menyala redup di sudut, di atas meja kecil yang juga dari kayu ukir.
Dan tubuhnya—yang dia rasakan saat dia bergerak—bukan tubuhnya.
Lebih kecil. Lebih ringan. Tangan yang dia angkat ke wajahnya lebih kurus dari tangan dia, kuku lebih panjang, kulit lebih halus. Rambut yang dia raba di samping wajahnya panjang sekali—hampir sepanjang punggungnya, hitam tebal, halus seperti sutera.
Sekar bangun perlahan. Dia merasa lemah—seperti baru sembuh dari sakit panjang. Berjalan ke cermin tembaga yang dipasang di sudut kamar—dia tidak ingat kapan terakhir kali dia lihat cermin tembaga, mungkin di museum.
Wajah yang menatap balik bukan wajahnya.
Perempuan muda. Mungkin enam belas tahun. Kulit pucat dari sakit. Mata hitam besar. Wajah yang cantik dengan cara yang asing—wajah yang Sekar pernah lihat di lukisan Putri Jawa di museum nasional, wajah yang ada di koin lama, wajah yang bukan wajah orang yang hidup di tahun 2026.
Sekar membuka mulutnya.
Dan dari mulut itu keluar suara yang bukan suaranya—lebih halus, lebih muda, dengan logat yang Sekar tidak kenal.
"...siapa saya?"