Coach Darma menempelkan lembar nomor baru di papan jadwal pemusatan dengan cara yang sudah Arka kenal—tanpa pengumuman, tanpa basa-basi, hanya nama dan nomor lomba yang tahu-tahu sudah ada di sana ketika atlet datang pagi. Di sebelah nama Arka Wijana, kali ini, tertulis dua kata yang membuat perutnya mengencang: points race.
"Empat puluh kilometer," jelas Darma saat sesi pengarahan, suaranya datar seperti membaca laporan. "Seratus enam puluh lap di lintasan dua ratus lima puluh meter. Sprint poin setiap sepuluh lap. Lima poin untuk yang pertama menyeberang garis sprint, tiga untuk kedua, dua untuk ketiga, satu untuk keempat. Dan dua puluh poin kalau kamu berhasil menyusul satu lap penuh dari peloton." Ia menatap Arka langsung. "Ini bukan keirin. Ini bukan ledakan sekali lalu selesai. Ini berpikir sambil sekarat selama hampir satu jam."
Arka mengangguk, tapi di dalam ia merasakan keraguan yang sudah lama tak ia rasakan. Keirin ia mengerti—garis lurus menuju kekacauan, satu kesempatan untuk melepas semua yang ia punya. Points race terasa seperti seseorang menyodorkan papan catur dan menyuruhnya bermain sambil berlari maraton. Terlalu banyak hitungan. Terlalu banyak kesempatan untuk salah.
Mereka mendatangkan sparring untuknya, dan ketika Arka melihat siapa yang turun ke lintasan dengan jersi pinjaman pemusatan, ia hampir tertawa lega. Mei. Rambutnya diikat ke belakang, ekspresinya fokus dengan cara yang ia kenal dari ratusan sore di Rajawali. Darma sengaja memanggil pembalap endurance dari luar daftar untuk menguji Arka, dan dari semua orang, ia memanggil Mei.
"Jangan senyum dulu," kata Mei saat mereka berdampingan di garis start, tapi sudut bibirnya sendiri sedikit naik. "Aku akan membuatmu menderita."
Dan ia melakukannya.
Bel pertama berdentang dan insting Arka langsung berkhianat. Sprint poin pertama datang di lap sepuluh, dan ia melesat—membakar tenaga, merebut lima poin, menang. Lalu sprint kedua di lap dua puluh, ia membakar lagi, menang lagi. Lap tiga puluh, ia masih di depan, paru-parunya mulai terasa seperti diisi pasir, tapi egonya bersikeras. Tiap kali bel sprint berbunyi, anak jalanan di dalam dirinya berteriak menyalip, ambil, jangan biarkan ada yang lewat.
Mei tidak melakukan itu. Arka memperhatikan dari sudut matanya bagaimana perempuan itu membiarkan beberapa sprint poin lewat begitu saja, duduk tenang di belakang peloton kecil mereka, menghemat napas seperti orang menabung receh. Ia tidak rakus. Ia menghitung.
Di lap enam puluh, dinding itu datang. Arka merasakannya sebagai sesuatu yang fisik—seolah seseorang menutup keran di kakinya. Sprint poin berikutnya berbunyi dan ia mendorong, tapi kakinya tidak menjawab seperti biasa. Ia menyeberang garis di posisi keempat, lalu ketiga, lalu tidak sama sekali. Dan saat itulah Mei bergerak.
Dengan tenaga yang ia simpan sepanjang setengah balapan, Mei melepaskan dirinya dari peloton dengan akselerasi merata yang tidak spektakuler tapi tak terbendung. Ia tidak meledak. Ia membangun. Lap demi lap ia menjauh, dan Arka—dengan kaki yang sudah kosong—hanya bisa menonton punggungnya mengecil, menyusul satu lap penuh, merebut dua puluh poin sekaligus, jumlah yang tidak bisa Arka kejar dengan semua sprint kecil yang ia menangkan tadi.
Ketika balapan latihan itu berakhir, Arka merosot di tepi lintasan, dadanya naik turun, keringat menetes ke papan kayu. Mei datang mengayuh pelan, masih bernapas teratur, dan berjongkok di sampingnya.
"Kamu menang tujuh sprint pertama," katanya. "Aku menang balapannya."
Arka menyeka wajahnya. "Aku rakus."
"Kamu lapar," Mei mengoreksi. "Itu beda. Lapar bagus di keirin, karena keirin pendek. Di sini, lapar membunuhmu. Kamu harus belajar membiarkan poin lewat—membiarkan orang lain menang sprint kecil—supaya kamu punya kaki saat poin besar datang." Ia menunjuk ke papan. "Dua puluh poin dari satu susulan lebih besar dari semua receh yang kamu kumpulkan. Tapi kamu tidak akan pernah bisa menyusul kalau kamu habis di lap enam puluh."
Arka memikirkan ruang rapat federasi kemarin, bagaimana Hasan menahan diri, membiarkan Pak Wirya bicara lebih dulu, menyimpan satu angka untuk dilepas pada saat yang tepat. Itu hal yang sama. Menahan diri bukan kelemahan; menahan diri adalah strategi. Anak jalanan yang menyalip setiap celah di lampu merah harus belajar bahwa kadang membiarkan satu mobil lewat adalah cara untuk memenangkan seluruh perjalanan.
"Kepala dingin mengalahkan kaki rakus," Mei berkata pelan, mengulang sesuatu yang dulu Hasan katakan padanya bertahun lalu, dan Arka mendengar dalam kalimat itu seluruh velodrom Rajawali—garasi berbau lem ban, Hasan dengan stopwatch tua, sore-sore panjang sebelum semua ini. Ia tersenyum lelah pada Mei, dan untuk sesaat pemusatan yang dingin dan asing itu terasa sedikit lebih seperti rumah.
Darma menonton dari menara juri, dan ketika ia mencatat sesuatu di papan tulisnya, matanya bukan tertuju pada Arka. Matanya tertuju pada perempuan yang baru saja mengajari atlet binaannya cara menghitung.