"Empat kilometer," kata Coach Darma, berdiri di garis start dengan stopwatch di tangan. "Enam belas putaran. Sendirian. Tidak ada lawan untuk dibaca, tidak ada punggung untuk diikuti, tidak ada celah untuk dicuri. Cuma kamu, jarum jam, dan kemampuanmu menahan tempo yang persis sama dari putaran pertama sampai terakhir. Itu individual pursuit. Dan itu yang akan kamu lakukan setiap pagi sampai aku bilang berhenti."
Arka membencinya sebelum bahkan memulai. Seluruh hidupnya di sepeda dibangun di atas membaca—membaca macet sebagai kurir, membaca lawan sebagai pembalap, membaca punggung dan bahu dan celah seperti yang Hasan ajarkan. Individual pursuit mengambil semua itu dan membuangnya. Tidak ada yang bisa dibaca. Tidak ada yang bisa diakali. Hanya tubuh melawan waktu, kejujuran yang brutal tanpa tempat sembunyi.
Percobaan pertamanya jadi bencana. Bel start berbunyi, dan setiap insting di tubuh Arka berteriak untuk meledak—ia melesat keluar seperti di sprint, kaki membakar, putaran pertama jauh lebih cepat daripada yang seharusnya. Layar di pinggir lintasan menampilkan waktu per putarannya, dan Darma berdiri di sana memegang papan dengan target tertulis besar-besar, menggelengkan kepala. Di putaran keempat Arka sudah merasakannya: tangki kosong. Ia membakar terlalu banyak terlalu cepat, dan tidak ada lawan untuk membantunya, tidak ada angin untuk dicuri, tidak ada strategi untuk menutupi kesalahan. Dari putaran kelima sampai keenam belas ia hanya bertahan, melambat di setiap putaran, kakinya berubah jadi timah, dan ketika ia menyeberangi garis akhir waktunya memalukan—jauh, jauh di bawah target.
Ia terkulai di setang, marah pada dirinya sendiri, marah pada nomor yang bodoh ini.
"Itu," kata Darma, datang menghampiri dengan papan jepit, "adalah egomu. Bukan kakimu. Kakimu sanggup target ini dengan mudah. Tapi egomu tidak tahan melihat angka di putaran pertama yang lebih lambat dari yang kamu bisa. Jadi kamu meledak, dan menghukum dirimu sendiri sebelas putaran berikutnya." Ia jongkok di samping Arka. "Kamu tahu apa lawanmu di nomor ini? Bukan jam. Dirimu sendiri. Bagian dirimu yang ingin meledak di awal untuk merasa cepat. Bagian itu harus mati di sini, atau kamu tidak akan pernah jadi pembalap lengkap."
Arka tidak menjawab, karena ia tahu Darma benar dan ia membenci itu.
Selama berhari-hari mereka mengulang. Darma memasang power meter dan memberi Arka target watt yang persis—angka yang harus ia jaga rata, putaran demi putaran, tidak boleh naik, tidak boleh turun. Putaran pertama Arka harus secara sadar menahan dirinya, mengayuh lebih lambat dari yang ia bisa, melihat angka di layar dan mempercayainya alih-alih perasaannya. Itu menyiksa. Setiap serat di tubuhnya menjerit untuk mendorong lebih keras di awal. Tapi ia menahan, dan menjaga angka, dan di putaran-putaran akhir—untuk pertama kalinya—ia masih punya kaki. Ia bisa mempertahankan tempo. Bahkan, di putaran terakhir, ia bisa sedikit mempercepat.
Waktunya membaik. Bukan dramatis, tapi setiap hari sedikit lebih baik, dan yang lebih penting, lebih merata. Dan di suatu pagi, di tengah putaran kesepuluh dengan kaki yang membakar tapi terkendali, dengan napas yang masuk dan keluar dalam ritme yang ia jaga seperti Mei pernah mengajarinya menjaga ritme, Arka merasakan sesuatu yang tidak pernah ia duga: ketenangan. Tidak ada lawan, tidak ada celah, tidak ada kekacauan. Hanya dia dan kayuhan dan jarak yang terbentang merata di depannya. Untuk pertama kalinya sejak ia naik papan kayu, balapan terasa hening.
Ia menyelesaikan empat kilometer itu dengan waktu terbaiknya, dan ketika ia memperlambat sepedanya ia menyadari ia tidak lelah dengan cara yang sama. Ia lelah dengan cara yang bersih, lelah orang yang memberikan persis sebanyak yang ia punya dan tidak setetes lebih.
Darma menatap stopwatch, lalu menatap Arka, dan untuk pertama kalinya sejak Arka tiba, ada sesuatu yang nyaris seperti persetujuan di wajahnya. "Sekarang kamu mengerti," katanya. "Musuh terbesarmu bukan Senna. Bukan Bagas. Bukan jam. Musuh terbesarmu adalah anak jalanan di dalam kepalamu yang ingin meledak di awal untuk membuktikan ia cepat. Hari ini kamu mengalahkannya. Besok dia akan kembali, dan kamu harus mengalahkannya lagi. Setiap hari."
Arka mengangguk, basah keringat, dan untuk pertama kalinya tidak membenci nomor itu. Ia menyadari, dengan ironi yang pahit, bahwa pelajaran yang baru saja ia pelajari dari nomor yang tidak punya lawan adalah pelajaran yang Hasan dan Mei sudah coba ajarkan padanya sejak hari pertama, dengan kata lain, dengan cara lain. Sabar bukan menunggu kosong. Sabar adalah mengisi. Hanya saja kali ini tidak ada siapa pun untuk menunggu—hanya dirinya sendiri, dan jarak, dan tempo merata yang akhirnya ia kuasai. Malam itu ia menelepon Mei dan menceritakannya, dan Mei tertawa di seberang, dan berkata: "Sudah kubilang dari dulu."