Mereka membawa Arka ke ruangan yang tidak ada di Rajawali, tidak akan pernah ada di Rajawali, dan mungkin tidak ada di sebagian besar tempat di seluruh kota. Ruangan itu sejuk, putih, penuh mesin dengan layar dan kabel, dan di tengahnya berdiri sepeda statis yang dibebani roda magnetik besar. Seorang teknisi olahraga dengan jas putih memintanya mengenakan masker yang menutupi hidung dan mulut, dihubungkan ke selang yang merayap ke salah satu mesin.
"Ini mengukur oksigen yang kamu hirup dan karbon dioksida yang kamu buang," jelas teknisi itu sambil menempelkan sensor ke dada Arka. "Dari situ kami tahu seberapa efisien tubuhmu mengubah napas jadi tenaga. Namanya tes VO2. Lalu kami akan ambil sedikit darah dari ujung jarimu di beberapa titik untuk mengukur laktat—zat yang menumpuk saat ototmu bekerja keras. Itu memberitahu kami di mana ambangmu, titik di mana tubuhmu mulai kewalahan."
Arka mengangguk, meski separuh kata-kata itu lewat begitu saja. Ia tidak suka masker itu. Membuatnya merasa terkurung. Tapi Coach Darma berdiri di sudut ruangan dengan tangan terlipat, mengawasi, dan Arka tidak ingin terlihat seperti anak jalanan yang takut alat.
Tesnya dimulai pelan. Teknisi menambah beban roda magnetik setiap beberapa menit, memaksa Arka mengayuh lebih keras, dan layar di depannya menampilkan garis-garis yang naik—detak jantung, konsumsi oksigen, tenaga dalam watt. Setiap beberapa menit teknisi menusuk ujung jarinya dengan jarum kecil, mengambil setetes darah, memasukkannya ke mesin. Beban naik lagi. Dan lagi. Kaki Arka mulai membakar, napasnya memburu di balik masker, dan mereka terus menambah beban.
"Sampai kamu tidak sanggup lagi," kata teknisi. "Jangan tahan. Sampai habis."
Dan Arka mengayuh sampai habis—sampai pandangannya menyempit, sampai kakinya berputar otomatis tanpa perintah, sampai paru-parunya seperti dipenuhi serbuk kaca. Lalu teknisi menurunkan beban, dan Arka terkulai di setang, masker melolong dengan napasnya yang kacau, keringat menetes ke lantai membentuk genangan kecil.
Ketika ia sudah bisa bicara lagi, Darma dan teknisi sudah berkumpul di depan layar besar, menunjuk grafik, berbicara pelan. Arka mendekat, masih ngos-ngosan, dan menatap layar yang penuh angka dan kurva yang tidak ia pahami.
"Lihat ini," kata Darma, dan untuk pertama kalinya sejak Arka tiba, ada sesuatu di suaranya yang melampaui efisiensi—sesuatu yang nyaris seperti takjub yang ia coba sembunyikan. Ia menunjuk satu angka. "VO2 max-mu. Kapasitas aerobik mentahmu. Ini—" ia menggeleng, "—ini di antara yang tertinggi yang pernah aku catat dari atlet seusiamu. Lebih tinggi dari Senna. Lebih tinggi dari hampir semua orang di pemusatan ini."
Arka tidak tahu harus merasa apa. "Itu bagus?"
"Itu bahan baku," kata Darma. "Itu mesin yang kamu dapat dari lahir, dari hidup di sepeda bertahun-tahun sebagai kurir tanpa kamu sadari kamu sedang melatih dirimu sendiri. Tubuhmu adalah mesin yang langka." Ia menggeser layar, dan kurva berubah. "Tapi sekarang lihat yang ini. Efisiensimu. Ekonomi kayuhanmu. Teknikmu." Angka-angka di sini berbeda—rendah, jauh di bawah rata-rata, merah di beberapa tempat. "Kamu punya mesin balap di tubuh yang dikemudikan seperti gerobak. Kamu membakar bahan bakar tiga kali lebih banyak dari yang seharusnya untuk kecepatan yang sama. Ambang laktatmu datang terlalu cepat karena tubuhmu tidak tahu cara menggunakan kapasitas besar itu dengan hemat."
Arka menatap kedua kurva itu berdampingan—satu luar biasa tinggi, satu menyedihkan rendah—dan untuk pertama kalinya ia melihat dirinya sendiri dalam angka. Seluruh hidupnya orang memberitahunya bahwa kakinya cepat, dan ia percaya itu, dan ia mengandalkan itu. Tapi di sini, di layar dingin ini, kebenaran yang lebih rumit terungkap: ia cepat bukan karena ia baik, tapi karena ia membakar mesin yang luar biasa dengan cara yang luar biasa boros, dan masih lebih cepat dari kebanyakan orang meski begitu.
Dan kemudian, dengan rasa yang janggal di tenggorokannya, ia menyadari sesuatu. Angka-angka ini—efisiensi rendah, teknik kasar, tenaga terbuang—adalah persis apa yang Hasan katakan padanya berkali-kali dengan kata-kata. Kamu boros. Kamu mengayuh dengan kemarahan. Kamu meledak sebelum waktunya. Hasan tidak punya mesin ini, tidak punya masker dan selang dan kurva laktat. Tapi dengan matanya yang tua dan tiga puluh tahun di papan kayu, ia membaca persis hal yang sama yang baru saja dicetak mesin ini dalam angka.
Arka berdiri di ruangan putih yang sejuk itu, menatap dua kebenaran yang sama—satu diucapkan oleh pria tua di velodrom sekarat, satu lagi dicetak oleh mesin termahal yang pernah ia lihat—dan untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa keduanya tidak bertentangan. Darma melihat dengan data apa yang Hasan lihat dengan mata. Pertanyaannya bukan siapa yang benar. Pertanyaannya adalah apakah ia cukup pintar untuk belajar dari keduanya tanpa mengkhianati salah satunya.
"Jadi apa yang kita lakukan," tanya Arka, melepas masker dari wajahnya.
Darma mematikan layar. "Kita ajari mesinmu cara mengemudi. Dan kita mulai dengan nomor yang paling kamu benci."