Arka tak bertanya pada Hasan. Sesuatu menahannya—mungkin rasa hormat, mungkin takut menyinggung satu-satunya orang yang percaya padanya tepat ketika ia paling butuh kepercayaan itu. Tapi pertanyaan Senna tidak mau pergi, dan pada hari berikutnya, ketika Hasan keluar membeli lem ban dan velodrom kosong, Arka mendapati dirinya berdiri di depan pintu kantor kecil itu.
Ia tidak berniat menggeledah. Ia hanya masuk untuk mencari kunci pas yang biasa disimpan Hasan di laci. Tapi di dinding kantor, di antara jadwal latihan yang menguning dan kalender lama, tergantung sebuah bingkai kayu sederhana yang selama ini tak pernah ia perhatikan. Di dalamnya, sebuah kliping koran yang sudah cokelat oleh usia.
Arka mendekat. Foto hitam-putih: dua pembalap muda berdiri berdampingan di podium, sama-sama mengangkat tangan, sama-sama tersenyum dengan senyum lebar orang muda yang merasa dunia milik mereka. Salah satunya, ia kenali dari rahang dan tatapannya meski wajahnya jauh lebih muda dan utuh, adalah Hasan. Yang lain, pria muda dengan tubuh tegap dan mata yang sama cerahnya. Judul di atasnya menyebut sebuah kejuaraan, sebuah nomor beregu, sebuah tahun yang sudah tiga puluh tahun berlalu.
Di laci di bawah bingkai itu, ketika Arka membukanya mencari kunci pas, ada map plastik tipis. Ia tahu seharusnya tidak. Tapi tangannya bergerak lebih dulu dari kehati-hatiannya, dan ia membukanya.
Kliping lain. Lebih banyak. Dan satu di antaranya membuat dadanya dingin. Judulnya bukan tentang kemenangan. Judulnya tentang sebuah jatuhan. Sebuah insiden di tikungan, di sebuah balapan beregu, di mana dua pembalap dari satu regu jatuh bersama. Salah satunya cedera kaki permanen dan tak pernah balapan lagi—Hasan. Yang lain, pria muda di foto podium tadi, cederanya lebih berat. Karier keduanya berakhir di hari yang sama, di tikungan yang sama, dalam satu jatuhan yang sama.
Arka membaca berkali-kali, mencoba memahami, tapi kliping itu hanya menceritakan fakta-fakta dingin: kapan, di mana, siapa. Tidak bagaimana. Tidak kenapa. Ia memandang foto podium yang utuh, lalu kliping jatuhan yang menghancurkan keduanya, dan untuk pertama kalinya ia melihat Hasan bukan sebagai pelatih tua yang pincang, tapi sebagai seorang anak muda yang pernah berdiri di podium dengan tangan terangkat di samping seorang teman—dan kehilangan keduanya, kaki dan teman, dalam satu detik di banking.
"Itu Pak Hasan dan Pak Surya."
Arka berputar. Mei berdiri di pintu, tas latihannya tergantung di bahu. Ia tidak marah melihat Arka memegang kliping itu; ia hanya memandangnya dengan ekspresi seseorang yang sudah lama menyimpan sesuatu dan setengah lega akhirnya bisa meletakkannya.
"Kamu tahu cerita ini," kata Arka.
Mei masuk, menutup laci yang lain dengan lembut, dan duduk di kursi tua Hasan. "Sedikit. Tidak semua. Hasan tidak pernah menceritakannya utuh, bahkan padaku, dan aku sudah di sini bertahun-tahun. Tapi orang-orang tua yang dulu mengenalnya kadang bicara." Ia memandang kliping di tangan Arka. "Pak Surya rekan setimnya. Pasangan beregunya. Mereka tumbuh bersama di olahraga ini, menang bersama, dianggap masa depan balap lintasan negeri ini. Lalu ada balapan itu, jatuhan itu. Keduanya selesai di hari yang sama."
"Bagaimana jatuhnya?"
Mei diam sebentar, memilih kata. "Itu bagian yang Hasan tak pernah ceritakan. Tapi dari yang aku dengar—dan ini cuma cerita orang tua, jadi jangan kamu telan bulat-bulat—jatuhan itu bukan kecelakaan murni. Ada keputusan di dalamnya. Sesuatu yang Hasan lakukan, atau tidak lakukan, di tikungan itu. Dan Pak Surya yang menanggung paling berat." Mei menatap Arka. "Aku tidak tahu detailnya. Yang aku tahu cuma akibatnya. Hasan membawa rasa bersalah itu selama tiga puluh tahun. Itu sebabnya dia begitu keras soal tim. Soal kepercayaan. Soal menyerahkan rodamu pada rekan dengan benar."
Arka memandang kliping itu lagi, dan tiba-tiba seluruh kekerasan Hasan yang dulu tak ia mengerti menjadi masuk akal dengan cara yang menyakitkan. Cara pria itu nyaris meledak setiap kali Arka membawa kemarahan ke banking. Caranya bersikeras tentang handsling, tentang percaya, tentang menang dengan bukan melawan rekan. Caranya menjaga velodrom kosong ini selama bertahun-tahun seperti menjaga makam—karena bagi Hasan, mungkin memang makam. Makam masa mudanya, kakinya, dan temannya.
"Senna menanam pertanyaan ini di kepalaku," kata Arka pelan. "Dia bilang Hasan menyimpan rahasia soal jatuhnya. Dia ingin aku ragu pada pelatihku sebelum seleksi."
Mei mengangguk, tak terkejut. "Itu memang Senna. Tapi sekarang kamu sudah tahu, jadi pertanyaannya bukan lagi apa yang Hasan sembunyikan. Pertanyaannya: apa yang kamu lakukan dengan apa yang kamu tahu." Ia berdiri, mengambil kliping itu dari tangan Arka dengan lembut, dan mengembalikannya ke laci. "Hasan tidak menyimpan rahasia ini karena dia jahat. Dia menyimpannya karena itu luka, dan luka tidak diceritakan dengan mudah. Segala yang dia ajarkan padamu tentang tim, tentang percaya—itu bukan teori, Arka. Itu penebusan. Dia mengajarimu menjadi pembalap yang tidak mengulangi kesalahan yang menghancurkannya tiga puluh tahun lalu."
Arka berdiri di kantor kecil itu lama setelah Mei keluar, memandang bingkai foto podium di dinding—dua anak muda dengan tangan terangkat, masa depan di mata mereka—dan untuk pertama kalinya ia merasakan sesuatu yang lebih dalam dari rasa hormat pada Hasan. Ia merasa percaya. Bukan karena ia tahu seluruh cerita; ia tidak. Tapi karena ia kini mengerti bahwa kekerasan pria tua itu bukan kekejaman, melainkan bentuk cinta yang sudah terlalu lama terluka untuk tahu cara lain mengungkapkannya.
Ketika Hasan kembali dengan lem ban di tangannya, ia mendapati Arka sudah di lintasan, melakukan pemanasan tanpa disuruh, lebih tenang dari biasanya. Ia tidak tahu apa yang berubah. Tapi pagi itu, ketika ia memberi instruksi dan Arka mengangguk dan menjalankannya tanpa keraguan sedikit pun, Hasan merasakan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan—seorang murid yang benar-benar mendengarkannya, bukan dengan telinga, tapi dengan kepercayaan. Racun Senna, alih-alih meretakkan, malah merekatkan.