Hari kedua, Hasan tidak menyuruh Arka naik sepeda sama sekali sampai siang. Pagi itu ia membawanya ke kantor kecil di sudut velodrom, ruangan sempit berbau kertas tua dan minyak rantai, dan menyalakan sebuah laptop berusia bertahun-tahun yang layarnya bergetar di sudut. Di meja, ia menumpuk map-map plastik berisi lembaran cetak: catatan waktu, hasil lomba lampau, foto-foto buram dari pertandingan tahun-tahun lalu.
"Sebelum kamu melawan tembok," kata Hasan, "kamu harus tahu setinggi apa tembok itu. Anak yang menyerang tembok tanpa mengukurnya cuma menghancurkan kepalanya sendiri."
Ia memutar rekaman pertama. Layar menampilkan velodrom indoor yang jauh lebih megah dari Rajawali—papan kayunya pucat baru, lampu sorotnya terang merata, tribunnya penuh. Enam pembalap berbaris di belakang derny, menderu pelan, lalu kecepatan naik, naik, dan ketika motor itu minggir, balapan meledak jadi kekacauan yang terkendali. Hasan memberi jeda di satu sosok, memperbesar gambarnya. "Ini Bagas Pratama. Dua puluh empat tahun. Sudah enam kali ikut seleksi nasional, dua kali masuk pelatnas. Lihat bahunya saat derny minggir—dia tidak melepas dulu. Dia menunggu setengah detik lebih lama dari semua orang, membiarkan yang lain membakar tenaga, lalu baru menyusul di tikungan terakhir. Dia menang bukan dengan kaki tercepat. Dengan kepala paling dingin di lintasan."
Arka mencondongkan tubuh ke layar. Ia melihatnya—jeda kecil yang nyaris tak terlihat itu, momen ketika Bagas menahan diri sementara lima pembalap lain melonjak terlalu dini. Setengah detik yang membedakan menang dan kalah. Setengah detik yang dulu tak bisa Arka tahan barang sekejap.
Rekaman berganti. Sosok lain, lalu lain lagi. Hasan menyebut nama mereka satu per satu seperti membaca daftar penjaga gerbang. Rendi Mahesa, sprinter dari klub ibu kota, kakinya hampir sekuat Arka tapi tekniknya sepuluh tahun lebih matang. Yusuf, veteran tiga puluh dua tahun yang tak lagi tercepat tapi punya seribu cara kotor untuk menutup garismu di banking. Tio, anak muda dari klub Senna, dingin dan terlatih, cetakan dari pabrik yang sama. Dan tentu saja, di akhir, wajah yang sudah Arka kenal: Senna Rais sendiri, melepas helmnya di garis, tak terlihat lelah, mata yang menatap kamera seolah kamera pun tak cukup berharga untuk diingat.
"Ada belasan nama lagi," kata Hasan, menutup map. "Yang kuputar untukmu cuma yang paling mungkin satu lintasan denganmu. Tapi kamu sudah dapat gambarannya."
Arka diam. Ia memandang tumpukan map itu—belasan, mungkin dua puluh tubuh yang sudah membayar harga bertahun-tahun untuk apa yang ingin ia rebut dalam tiga pekan. Untuk pertama kalinya sejak ia menerima tawaran ini, kepalanya tidak panas. Justru sebaliknya. Sesuatu di dadanya menjadi dingin dan jernih, dan dalam kejernihan dingin itu, ia mulai berhitung dengan cara yang tak pernah ia lakukan sepanjang hidupnya.
"Berapa yang akan diloloskan?" tanyanya.
Hasan menatapnya, sedikit terkejut anak itu langsung bertanya angka. "Seleksi keirin punya beberapa babak. Penyisihan, repechage—kesempatan kedua—lalu babak berikut, lalu final. Yang lolos pembinaan nasional dari nomor ini cuma beberapa nama teratas. Dan dari Rajawali, kamu cukup masuk ambang kualifikasi pembinaan. Kamu tidak harus menang. Kamu harus cukup tinggi dalam daftar untuk dihitung lolos."
"Berapa yang di atasku sekarang?" Arka menunjuk tumpukan map. "Kalau seleksi digelar besok, dari semua nama itu, berapa yang lebih cepat dariku?"
Hasan tidak menjawab dengan ramah. Itu bukan kebiasaannya. "Hampir semua," katanya jujur. "Kalau diukur dari catatan waktu murni dan jam terbang, kamu di dasar. Hampir semua nama di meja ini lebih cepat darimu hari ini."
Angka itu menampar Arka lebih keras dari banking mana pun. Hampir semua. Ia membayangkan dirinya berdiri di garis start di antara dua puluh tubuh yang lebih cepat, lebih matang, lebih pantas, dan untuk satu saat yang mengerikan seluruh keberanian yang ia bawa dari gerbang tadi pagi mengempis. Ini bukan lampu merah Jalan Riau. Ini bukan tiga anak klub yang lengah. Ini tembok yang nyata, diukur dengan detik dan tahun, dan angkanya menakutkan.
Mei, yang sejak tadi bersandar di pintu mendengarkan, akhirnya bicara. "Kamu bertanya hal yang salah," katanya.
Arka menoleh. "Apa?"
"Kamu bertanya berapa yang lebih cepat darimu. Itu pertanyaan yang membuatmu kalah sebelum mulai." Mei melangkah masuk, mengambil salah satu lembaran catatan waktu, dan meletakkannya di depan Arka. "Keirin tidak diputuskan oleh catatan waktu murni. Kalau iya, mereka tinggal mengukur dengan jam dan tak perlu balapan. Keirin diputuskan oleh siapa di posisi yang benar ketika derny minggir, siapa yang melepas di tempat yang benar, siapa yang tidak panik di kerumunan. Bagas bukan yang tercepat di rekaman itu—dia yang paling pintar. Pertanyaan yang benar bukan berapa yang lebih cepat darimu. Tapi: di antara mereka, berapa yang bisa kamu kelabui dengan kepala, bukan kaki?"
Hasan mengangguk pelan, membiarkan Mei melanjutkan.
"Kakimu sudah lebih meledak dari sebagian besar nama di meja ini," kata Mei. "Itu modal yang tak bisa dilatih dalam tiga pekan, dan kamu sudah punya. Yang harus kita tambal cuma kepalamu, dan kepala bisa ditambal lebih cepat dari kaki. Jadi jangan tatap dua puluh nama itu sekaligus seperti satu tembok raksasa. Tatap satu per satu. Cari celahnya. Yusuf tua dan lambat berakselerasi—kalau kamu di depannya saat derny minggir, kakinya tak akan mengejarmu. Tio terlatih tapi pemberani palsu, dia melepas terlalu cepat kalau dipancing. Bukan dua puluh tembok. Dua puluh orang, masing-masing dengan retakan."
Arka memandang lembaran-lembaran itu lagi, dan pelan-pelan tembok raksasa di kepalanya mulai pecah jadi sesuatu yang lain—bukan satu dinding mustahil, tapi kerumunan manusia, masing-masing dengan kelemahan, masing-masing bisa dibaca. Ia masih di dasar. Angkanya masih menakutkan. Tapi untuk pertama kalinya angka itu punya celah-celah, dan celah adalah hal yang sepanjang hidupnya Arka paling pandai menemukan.
"Putar lagi yang Bagas," katanya, menarik kursi lebih dekat ke layar. "Bagian dia menahan setengah detik itu. Aku mau lihat lagi."