Kertas print-out itu masih hangat dari mesin ketika dr. Larasati menggelarnya di atas meja panjang ruang tunggu Puskesmas Mraggen, menindih ujung-ujungnya dengan gelas kopi kosong dan sebuah timbangan bayi yang biasa dipakai menimbang balita gizi buruk. Grafiknya dua garis: satu melengkung tajam ke atas seperti tebing, satu lagi melandai pelan-pelan lalu menekuk turun.
"Yang atas," kata dr. Larasati, "itu proyeksi kalau Pekan Raya jadi digelar sesuai jadwal. Yang bawah, yang benar-benar terjadi."
Wening berdiri agak lama sebelum duduk. Ia sudah menatap kurva sejak Bab sebelum ini menekuk turun di papan tulisnya sendiri, digambar tangan, dengan spidol yang mulai kering. Tapi kurva di kertas ini beda. Ini bukan sekadar catatan harian yang ia susun malam demi malam. Ini hitungan mundur dari dunia yang tidak jadi ada.
"Modelnya pakai apa?" tanya Bagas, menyandarkan tubuh ke pintu ruang periksa, stetoskop masih tergantung di leher meski jam praktik belum mulai.
"SEIR sederhana," jawab dr. Larasati, "disesuaikan dengan data kontak yang Wening dan Hendra kumpulkan dari kenduri kemarin—berapa orang bertemu berapa orang, berapa lama, di ruang seperti apa. Kami masukkan angka itu ke perkiraan kalau Pekan Raya jalan: pasar penuh, panggung dangdut, tiga ribu orang berkumpul dua hari penuh, ditambah pedagang dari luar kecamatan yang biasa datang." Ia menunjuk garis yang melonjak. "R efektifnya naik jadi hampir empat. Artinya satu orang sakit bisa menulari empat orang lain, bukan satu setengah seperti sekarang."
Hendra, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu sambil memegangi map berisi data kontak terbaru, maju mendekat. Ia menatap angka di bawah kurva yang melonjak itu—angka kasus kumulatif proyeksi—lama sekali, seolah mencoba membayangkan wajah-wajah di baliknya.
"Berapa?" tanyanya pelan.
Dr. Larasati menggeser jarinya ke kolom kecil di bawah grafik. "Perkiraan kasus tambahan kalau Pekan Raya jalan: antara enam ratus sampai sembilan ratus, tergantung seberapa cepat orang-orang dari luar membawanya pulang. Dan dari situ, dengan tingkat kematian yang sudah kita catat dari kasus nyata—sekitar dua belas persen pada yang tidak tertangani cepat—perkiraan kematian tambahan: tujuh puluh sampai seratus sepuluh orang."
Ruangan itu diam. Bukan diam yang kosong, tapi diam yang penuh, seperti udara sebelum hujan besar.
"Dan yang sekarang?" Wening akhirnya bertanya, suaranya datar, cara ia bertahan supaya tidak gemetar.
"Setelah penundaan, penutupan gua, dan penataan pasar—" dr. Larasati menunjuk kurva bawah yang menekuk, "—total tambahan kasus sejak keputusan itu: dua puluh enam. Kematian tambahan: tiga."
Parmin, yang duduk di kursi paling ujung sambil memutar-mutar kunci mobil di tangannya, menghitung dalam hati, bibirnya bergerak tanpa suara. Ia bukan orang yang biasa membaca kurva atau angka R efektif, tapi ia tahu cara mengurangi.
"Jadi," katanya akhirnya, suara serak, "kalau Pekan Raya jalan terus... yang selamat itu bisa seratus lebih orang."
"Kira-kira begitu," jawab dr. Larasati. "Selisihnya di kisaran itu. Saya tidak mau kasih angka pasti karena model selalu punya rentang, bukan kepastian. Tapi arahnya jelas."
Yuni berdiri paling dekat ke pintu, memeluk buku catatan Ningsih yang sudah lecek sampulnya, dan matanya berkaca-kaca tanpa air mata jatuh. "Seratus orang," ulangnya, seperti mencoba menimbang berat kata itu di lidahnya. "Itu... itu satu RT lebih."
"Lebih dari itu," kata Hendra. Ia menghitung dalam kepala rumah-rumah di Karangsari, wajah-wajah yang sudah ia kenal dari kunjungan rumah ke rumah, dari kuesioner yang ia isi sendiri dengan tulisan tangan yang makin rapi seiring bulan berjalan. Ia memikirkan adiknya, yang sudah tidak ada, dan untuk sesaat wajahnya mengeras—bukan marah, tapi sesuatu yang lebih berat dari marah.
Wening menatap kurva itu lama. Ia ingat malam-malam ia berdebat dengan Camat Sudrajat dan Pak Broto di meja rapat, ditolak, dipinggirkan, diancam mutasi. Ia ingat kertas rekomendasi yang ditulis ulang tiga kali supaya angka di dalamnya tidak bisa dibantah siapa pun. Semua itu, di kertas ini, akhirnya punya wujud: bukan kemenangan retorika, bukan kepuasan sudah benar. Wujudnya adalah orang-orang yang besok pagi masih akan bangun, masih akan menderes legen dengan pot tertutup, masih akan ke pasar yang sudah ditata, masih hidup.
"Ini bukan angka kemenangan," kata Wening pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada yang lain. "Ini daftar orang yang tidak jadi mati. Kita cuma nggak tahu nama-namanya."
Bagas melepas stetoskop dari lehernya, melipatnya, memasukkannya ke saku jas. "Waktu saya masih mikir kerjaan kita cuma soal pasien di depan mata," katanya, "saya nggak pernah kebayang bisa menyelamatkan orang yang bahkan belum sakit."
"Itu justru intinya," jawab Wening. "Yang paling berhasil dalam pekerjaan ini adalah yang tidak pernah kelihatan. Tidak ada yang menangis syukur di depan kita karena tidak pernah dirawat."
Dr. Larasati melipat kembali kertas print-out itu, tapi tidak menyimpannya. Ia menyerahkannya ke Wening. "Simpan ini. Bukan buat dipamerkan. Buat kamu ingat, kalau nanti ada yang bilang keputusan menunda itu berlebihan, bahwa kamu punya angka, bukan cuma keyakinan."
Wening menerima kertas itu dengan dua tangan, seperti menerima sesuatu yang lebih berat daripada beratnya sendiri. Di luar jendela Puskesmas, pasar yang sudah ditata mulai ramai lagi dengan cara yang lebih tertib—jarak antar lapak, papan pengumuman cuci tangan, seorang petugas berjaga di pintu masuk gua yang kini tertutup pagar kayu baru.
Ia menatap peta tiga warna di dinding, garis merah legen, biru air-guano, kuning pasar, semuanya masih di sana, tapi sekarang di sampingnya tergantung satu lembar baru: kurva yang menekuk turun, dan di bawahnya, dengan tulisan tangan Wening sendiri, angka yang tidak akan ia tunjukkan ke pers, tidak akan ia bacakan di depan kamera, tapi akan ia bawa ke mana pun ia pergi setelah ini.
Seratus nyawa, kira-kira. Tidak bernama. Tidak pernah tahu bahwa mereka pernah nyaris tidak ada.