Ruang belakang Puskesmas Mraggen yang biasanya dipakai menyimpan vaksin kini disulap jadi markas kecil. Meja panjang berjajar tiga, penuh map plastik bening berisi lembar hasil laboratorium, tabung sampel yang sudah kosong tergeletak di rak kawat, dan satu unit pendingin portabel yang dengungnya tak henti sejak pagi. Wening berdiri di ujung meja, tangan bersedekap, menatap dr. Larasati yang sedang menyusun empat map itu berjajar seperti kartu yang akan dibuka satu per satu.
"Aku mau kita lihat ini bersama," kata dr. Larasati, "supaya tidak ada yang bisa bilang nanti aku menyimpulkan sendirian di provinsi."
Kepala tim investigasi dari kementerian, seorang perempuan berjaket lapangan yang sejak dua hari lalu ikut menelusuri gua bersama Hendra dan Parmin, menarik kursi dan duduk menghadap map-map itu. Di sampingnya, Bagas melipat tangan di atas meja, matanya merah kurang tidur tapi tajam mengikuti tiap kata.
Map pertama dibuka: hasil sekuensing genom dari swab kelelawar gua. Larasati menunjuk deretan huruf yang tersusun rapat di kertas cetakan. "Ini genom virus dari kelelawar yang diambil Wening dan Hendra bulan lalu. Susunannya"—ia menarik map kedua, hasil dari sampel darah pasien yang dirawat Bagas—"cocok sembilan puluh delapan persen dengan virus yang kita temukan di darah pasien. Bukan mirip. Cocok."
Tak ada yang bicara sesaat. Dengungan lemari pendingin mengisi jeda itu.
"Artinya kelelawar itu memang sumbernya," kata Hendra pelan, seperti mengulang untuk meyakinkan diri sendiri.
"Artinya kelelawar itu reservoir-nya," Larasati mengoreksi, hati-hati memilih kata. "Sumber penularan ke manusia belum tentu langsung dari gigitan atau kontak dengan kelelawarnya. Kita masih perlu perantara."
Ia membuka map ketiga: hasil uji sampel legen yang diambil dari pot-pot deres di dusun Ngepoh, yang dulu diam-diam disimpan Parmin dalam kotak berpendingin selama perjalanan malam yang membuat mobilnya mogok dua kali. Di kertas itu tertulis hasil PCR positif dengan nilai ambang siklus rendah—tanda jumlah virus yang cukup banyak.
"Legen yang diambil dari pot terbuka, yang dibiarkan semalaman di bawah pohon dekat mulut gua, positif," kata Larasati. "Legen dari pot yang ditutup rapat, negatif. Kita punya perbandingan yang bersih."
Wening maju selangkah, menatap angka-angka itu lebih dekat, seperti tak percaya pada matanya sendiri meski ia sudah menduga arah ini sejak malam mengintai pos deres bersama Parmin. "Jadi kelelawar mendatangi pot yang terbuka, kencing atau menjilat getahnya, dan legen jadi media penularan ke manusia."
"Itu salah satu jalur," kata Larasati. "Bukan satu-satunya, tapi jalur yang paling kuat buktinya sejauh ini."
Map keempat: sampel air dari mata air yang dulu jadi hipotesis pertama Wening, hipotesis yang pernah ia coret sendiri di depan tim ketika hasilnya negatif. Kini, dengan metode uji yang lebih sensitif dan sampel yang diambil dari titik lebih dekat ke aliran guano, hasilnya berbeda.
"Air itu sendiri bukan sumber utama," Larasati menjelaskan, "tapi ketika hujan deras, guano dari mulut gua terbawa turun dan mencemari aliran yang menuju sawah serta beberapa sumur dangkal di bawahnya. Itu menjelaskan kenapa dulu sampel air negatif—kau mengambilnya di musim kering, sebelum ada hujan besar yang menghanyutkan guano. Bukan kau yang salah, Wening. Datanya yang belum lengkap waktu itu."
Wening menghela napas panjang. Ada rasa lega yang aneh, bercampur pahit—lega karena ilmu akhirnya menemukan bentuknya yang utuh, pahit karena berarti berbulan-bulan ia dan tim harus meraba dalam gelap, mengoreksi diri sendiri berkali-kali sebelum sampai di titik ini.
Kepala tim pusat mengetuk-ngetukkan pena ke map di depannya. "Jadi kesimpulannya: reservoir di kelelawar gua, jalur penularan utama lewat legen yang tercemar, diperkuat paparan air-guano musiman, dan disebarkan lebih luas lewat kontak di pasar hewan serta kerumunan seperti kenduri kemarin."
"Empat jalur, bukan satu," Larasati menegaskan. "Itu yang harus ditulis di kesimpulan resmi. Kalau kita sederhanakan jadi satu sebab saja, orang akan salah sasaran menutup yang salah dan wabah tetap jalan lewat pintu yang lain."
Bagas akhirnya bersuara, suaranya berat. "Aku sudah merawat delapan pasien minggu ini. Semua gejalanya sama—demam tinggi, lalu perdarahan, lalu organ yang menyerah satu-satu. Kalau ini memang dari gua dan legen, aku ingin tahu apa yang bisa kita hentikan sekarang, bukan besok."
"Itu bukan wewenangku untuk memutuskan," kata kepala tim pusat, menatap Wening lurus-lurus. "Tapi dengan bukti selengkap ini, tak ada lagi ruang untuk membantahnya. Bukan dugaan. Bukan kecurigaan. Ini kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan di depan siapa pun—gubernur, menteri, atau Haji Suparlan sekalipun."
Larasati mengumpulkan empat map itu jadi satu tumpukan, merapikannya dengan gerakan hati-hati seolah menjaga sesuatu yang mudah pecah. "Aku akan susun jadi satu dokumen. Genom, epidemiologi, jalur lingkungan, semua disatukan. Tidak ada celah untuk bilang ini cuma teori orang lapangan yang kepanasan."
Wening menatap peta tiga warna yang masih tertempel di dinding Puskesmas—merah untuk legen, biru untuk air-guano, kuning untuk pasar dan kontak manusia—dan untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, warna-warna itu tak lagi terasa seperti tebakan. Setiap garis di sana kini punya angka di baliknya, punya kertas hasil lab yang bisa ditunjukkan siapa saja yang meragukannya.
Ia membayangkan Camat Sudrajat dan Pak Broto membaca dokumen ini, dan tahu betul mereka tak akan diam. Tapi untuk malam ini, di ruangan sempit berbau disinfektan dan kertas lembap itu, ada satu hal yang tak bisa lagi digoyahkan: wabah ini nyata, punya nama sumbernya, dan tak ada lagi yang bisa menyangkalnya dengan kata "belum pasti".
"Kapan ini bisa selesai ditulis?" tanya Hendra, matanya beralih dari peta ke tumpukan map di tangan Larasati.
"Malam ini," jawab Larasati. "Karena besok, kita harus sudah tahu apa yang akan kita lakukan dengan kebenaran ini."