Pak Broto tidak duduk. Ia berdiri di depan meja Dokter Bagas, tangannya terlipat di dada, dan matanya menyapu ruangan kerja sempit itu seperti sedang menaksir harga sewa. Map cokelat tebal ada di bawah lengannya—laporan yang sama yang sudah dua kali direvisi, dua kali ditolak, dan sekarang, Wening menduga, akan jadi alasan untuk sesuatu yang lebih buruk dari sekadar penolakan.
"Saya datang bukan untuk berdebat lagi, Dokter Wening," katanya, tanpa basa-basi pembuka yang biasa ia pakai. "Saya datang untuk memberi kesempatan terakhir."
Wening berdiri di depan peta kasus, kapur masih di tangannya dari saat ia menandai satu titik baru di dusun Karangsari sebelum pintu diketuk. Ia meletakkan kapur itu pelan-pelan ke tepi papan, seolah gerakan kecil itu bisa membeli waktu berpikir.
"Kesempatan untuk apa, Pak?"
"Untuk menarik laporan yang Anda kirim ke pusat." Broto membuka map, tapi tidak menyerahkannya—hanya memperlihatkan sampulnya, seperti menunjukkan senjata tanpa perlu menembakkannya. "Saya sudah bicara dengan atasan Anda di provinsi. Mereka bersedia menganggap ini sebagai—kekhilafan prosedur. Anda melapor lewat jalur yang salah, tanpa koordinasi, tanpa izin kecamatan. Itu bisa dimaafkan, asal Anda menyatakan secara tertulis bahwa data dalam laporan itu masih bersifat sementara dan memerlukan verifikasi lanjutan sebelum ditindaklanjuti."
"Data itu sudah diverifikasi, Pak. Tiga kali."
"Oleh Anda sendiri." Broto tersenyum tipis, tanpa kehangatan. "Dan oleh dokter di lab provinsi yang, maaf saya katakan, juga bawahan Anda dalam hal ini—teman seperjuangan, bukan pemeriksa independen."
Wening menahan diri untuk tidak membalas soal dr. Larasati. Ia tahu ke mana arah kalimat itu diarahkan: melemahkan setiap orang yang berdiri di belakangnya, satu per satu, sampai yang tersisa cuma dia sendiri berdiri telanjang di depan sistem.
"Kalau saya menandatangani itu," kata Wening pelan, "artinya saya bilang ke atas bahwa saya tidak yakin dengan pekerjaan saya sendiri. Saya yakin, Pak. Saya sudah pegang kurva, sudah pegang hasil lab, sudah pegang kesaksian. Menandatangani itu sama saja berbohong."
"Atau menyelamatkan pekerjaan Anda." Untuk pertama kalinya suara Broto naik satu tingkat, tak lagi berbungkus basa-basi pejabat. "Dokter Wening, saya sudah coba cara halus. Saya tawarkan promosi, saya tawarkan pindah tugas yang lebih baik untuk karier Anda. Anda tolak. Sekarang saya kasih tahu apa yang terjadi kalau Anda tetap keras kepala."
Ia melangkah mendekat, dan map cokelat itu akhirnya diletakkan di atas meja, terbuka setengah, memperlihatkan kop surat resmi provinsi.
"Satu. Anda akan dicabut dari penugasan surveilans di Mraggen, efektif minggu ini, dengan alasan pelanggaran prosedur pelaporan. Dua. Saya akan merekomendasikan pemeriksaan disiplin ke Dinas Kesehatan, dengan tuduhan menyebarkan data yang belum final ke pihak luar tanpa izin—yang, kalau Anda mau tahu, bisa dikategorikan sebagai pelanggaran berat. Tiga." Ia berhenti, membiarkan jeda itu berbunyi lebih keras daripada kata-katanya sendiri. "Saya akan pastikan nama Anda susah dipakai lagi di penugasan mana pun, di provinsi mana pun. Anda paham konsekuensinya?"
Ruangan hening. Di luar jendela, suara knalpot motor Parmin yang baru datang dari dusun terdengar samar, lalu lenyap. Wening menatap peta di dinding—empat nama pertama yang ia tulis berbulan-bulan lalu, sekarang tenggelam di antara puluhan titik lain, merah dan biru dan kuning, tiga warna yang belum sepenuhnya rapi tapi sudah cukup jelas membentuk pola. Ia pikir tentang Ningsih yang catatannya jadi tambang data setelah ia mati. Tentang adik Hendra. Tentang Warsito yang selamat dan menyerahkan darahnya untuk diuji. Semua itu berdiri di belakang setiap titik di papan itu, dan tak satu pun dari mereka bisa membaca surat pemecatan yang sedang disodorkan Broto.
"Saya paham, Pak," katanya akhirnya, dan suaranya sendiri terdengar lebih tenang daripada yang ia duga. "Tapi saya tidak akan menandatanganinya."
Broto mengerutkan kening, seolah tak percaya penolakan bisa datang secepat itu, tanpa jeda untuk berpikir, tanpa permintaan waktu semalam untuk mempertimbangkan.
"Anda tidak perlu jawab sekarang. Pikirkan dulu—"
"Saya sudah memikirkannya, Pak. Sejak bulan lalu, sejak laporan pertama saya dipangkas tanpa sepengetahuan saya. Saya sudah tahu ini akan sampai ke titik ini." Wening menatap langsung ke mata pejabat itu, tidak menunduk, tidak juga menantang berlebihan—hanya lurus, seperti cara ia membaca angka di kurva epidemik. "Kalau saya menarik laporan itu supaya Pekan Raya tetap jalan, dan ternyata perkiraan penularan yang dihitung dr. Larasati benar, saya akan menghitung mayat, Pak. Bukan kasus. Mayat. Dan saya tidak akan bisa hidup dengan itu, apalagi dengan gelar dan penugasan saya yang masih utuh."
"Anda terlalu yakin dengan angka-angka itu."
"Saya cuma yakin satu hal: kalau saya diam, dan ternyata saya benar, tidak ada yang bisa memaafkan saya—termasuk saya sendiri." Ia menutup spidol di tangannya, meletakkannya di meja dengan bunyi kecil. "Silakan cabut penugasan saya. Silakan laporkan saya ke Dinas Kesehatan. Tapi laporan itu tidak akan saya tarik, dan tanda tangan yang Bapak minta tidak akan pernah ada."
Untuk sesaat Broto tampak seperti mencari kata lain, semacam tawaran ketiga yang belum dikeluarkan, tapi tidak ada yang datang. Ia menutup map itu, keras, lalu menyampirkannya kembali di bawah lengan.
"Anda akan menyesal, Dokter."
"Mungkin," kata Wening. "Tapi bukan karena ini."
Broto keluar tanpa menjawab, langkahnya berat di lantai semen Puskesmas, dan pintu ditutup tanpa dibanting—yang entah kenapa terasa lebih dingin daripada kalau dibanting sekalipun. Wening berdiri sendirian sejenak, mendengar detak jam dinding, sebelum ia kembali menghadap papan, mengambil kapur yang tadi ia letakkan, dan melanjutkan menandai titik di Karangsari seolah tak ada yang terjadi—meski tangannya, ia sadari begitu goresan pertama selesai, sedikit gemetar.