Kentongan berbunyi tiga kali dari arah Ngepoh sebelum subuh, dan Wening tahu artinya jauh sebelum Hendra menggedor pintu mes. Tiga kali berturut-turut bukan tanda maling atau kebakaran. Itu tanda kematian.
Ia sampai di rumah itu ketika langit baru abu-abu. Rumah Pak Kirno, kepala dusun Ngepoh, sudah penuh orang berdiri di halaman dengan wajah yang belum sempat disusun jadi ekspresi berkabung—masih kaget, masih tidak percaya. Di dalam, Bagas berlutut di samping dipan, tangannya masih menempel di pergelangan Pak Kirno, meski Wening bisa melihat dari ambang pintu bahwa yang dicarinya sudah tidak ada di sana.
"Dua hari," kata Bagas tanpa menoleh. "Kemarin dia masih ngobrol di balai desa. Demam tinggi tadi malam, muntah darah jam tiga, dan—" Ia berhenti, menutup mata Pak Kirno dengan gerakan yang sudah terlalu sering ia lakukan bulan-bulan ini. "Gagal organ. Cepat sekali. Secepat yang di Karangsari."
Wening berdiri di pintu, mencatat di kepala sebelum mencatat di kertas: onset, progresi, waktu kematian. Kebiasaan lama yang kini terasa seperti pengkhianatan—bagaimana bisa ia mengubah kematian orang yang baru kemarin menyalaminya di pasar jadi titik pada kurva.
Tapi itulah yang harus ia lakukan. Ia keluarkan kuesioner dari tasnya, dan tangannya sedikit gemetar saat menulis nama itu di kolom paling atas.
Pak Kirno bukan orang sembarangan bagi Ngepoh. Ialah yang, dua bulan lalu, berdiri di depan warga dan menertawakan "penyakit tanpa nama" sebagai karangan orang kota yang takut hujan. Ialah yang menyuruh anak buahnya tetap membuka lapak deresan legen meski Wening sudah memasang segel kain di beberapa pot. Ialah yang, dalam rapat kecamatan bulan lalu, berdiri di sebelah Camat Sudrajat dan berkata lantang bahwa Ngepoh tidak butuh dokter kota mengatur hidup mereka.
Sekarang ia terbaring kaku dengan bercak-bercak gelap di bawah kulit lengannya, dan seisi Ngepoh menyaksikannya.
Hendra menyusul Wening ke luar, membawa kabar yang lebih buruk lagi. "Bu, di Karangsari juga. Tiga jam yang lalu. Bu Painah, yang jualan di pasar hewan. Terus tadi pagi ada kabar dari puskesmas pembantu—dua orang lagi masuk dengan demam tinggi, salah satunya anak SD."
"Berapa total minggu ini?"
"Delapan belas. Kalau yang meninggal, empat. Termasuk Pak Kirno."
Wening menutup mata sebentar, menghitung dalam kepala meski angka itu sudah ia hitung semalam di atas kurva yang menanjak tajam di dinding puskesmas. Grafik yang dulu ia takuti karena masih naik kini nyaris tegak lurus.
Di halaman, orang-orang mulai berkumpul lebih banyak. Ia mendengar bisik-bisik yang berbeda dari biasanya—bukan lagi bisikan yang menyalahkan sumur atau kutukan leluhur, melainkan bisikan yang menyebut nama-nama: Pak Kirno, Bu Painah, anak yang di Karangsari. Nama-nama yang mereka kenal, bukan lagi statistik dari kertas kuesioner Wening.
Seorang perempuan tua—bibi Pak Kirno, Wening menduga—menangis sambil berkata pada siapa pun yang mau mendengar, "Wong Kirno wae kena, apa maneh kita?" Kalau Kirno saja kena, apalagi kita.
Camat Sudrajat datang siang harinya, mengenakan safari lengkap seperti biasa, membawa karangan bunga dan pidato belasungkawa yang sudah ia siapkan berkali-kali untuk kematian-kematian sebelumnya. Tapi kali ini, ketika ia berdiri di depan rumah duka dan mulai bicara tentang "musibah yang tak seorang pun bisa duga" dan menegaskan Pekan Raya tetap akan berjalan sesuai rencana sebagai "bentuk semangat kebersamaan warga menghadapi cobaan," seorang lelaki muda di barisan belakang—anak Pak Kirno sendiri—memotong dengan suara yang bergetar menahan amarah.
"Bapak tahu nggak, sudah berapa yang mati? Bapak masih mau bikin pasar rame-rame?"
Sudrajat tergagap. Untuk pertama kalinya sejak Wening mengenalnya, ia tidak punya jawaban siap pakai. Ia melirik ke arah ajudannya, lalu ke arah Wening yang berdiri agak jauh dengan kuesioner masih di tangan, seolah mencari seseorang untuk disalahkan atas keheningannya sendiri.
Wening tidak menjawab. Ini bukan saatnya. Tapi ia melihat sesuatu bergeser di wajah orang-orang di sekitarnya—bukan kemarahan pada dirinya lagi, seperti minggu-minggu sebelumnya ketika ia dianggap pembawa kabar buruk yang mengada-ada. Kali ini kemarahan mengarah ke tempat lain.
Malamnya, Yuni datang ke mes membawa buku catatan yang sudah menebal, matanya merah. "Bu Wening, dari tadi siang orang-orang di Ngepoh yang dulu nolak diwawancara, sekarang malah nyariin saya. Minta dicatat. Minta didata. Katanya, daripada nanti nggak ketauan kalau ada apa-apa kayak Pak Kirno."
Wening menatap kurva epidemik yang tergantung di dinding kamarnya, garis merah yang menanjak curam seperti tebing. Ia pikir tentang Pak Kirno yang tertawa waktu ia memasang segel di pot-pot legen, tentang betapa mudahnya kematian mengubah cemoohan jadi ketakutan, ketakutan jadi kesediaan.
"Catat semua," katanya pelan. "Jangan ada yang dilewatkan lagi."
Di luar jendela, ia bisa mendengar kentongan berbunyi lagi, kali ini dari arah yang lebih jauh—Karangsari, mungkin, atau dusun lain yang belum ia data. Bunyinya seperti detak jantung kecamatan yang sedang belajar, terlambat dan menyakitkan, untuk jujur pada dirinya sendiri.