Wening baru selesai menomori halaman terakhir berkas ketika Bagas mengetuk pintu ruang kerjanya lebih pelan dari biasa, seperti orang yang membawa kabar yang tak ingin ia dengar sendiri terlalu keras.
"Camat datang," kata Bagas. "Di depan, nunggu di ruang tunggu. Bilangnya cuma silaturahmi."
Wening menutup map coklat di mejanya sebelum berdiri. Empat map itu—hasil rekap kurva, hasil lab dr. Larasati, kesaksian pekerja gua, dan peta tiga warna yang sudah disalin ulang tangan oleh Yuni—baru saja mereka sepakati untuk dikirim ke ibu kota provinsi hari Kamis, lewat kurir yang bukan jalur dinas. Rencana itu, sepengetahuannya, baru dibicarakan semalam, di ruangan ini, oleh lima orang: dirinya, Hendra, Bagas, Parmin, dan Yuni.
Camat Sudrajat duduk di kursi tunggu dengan pose orang yang sudah lama menunggu padahal baru lima menit, topi safarinya diletakkan di pangkuan seperti sedang berkunjung ke rumah sakit menjenguk orang sakit, bukan ke Puskesmas untuk urusan lain.
"Dokter Wening," sapanya, ramah seperti biasa, jenis ramah yang Wening sudah belajar untuk waspadai. "Saya cuma mau bilang, hati-hati kalau mau kirim-kirim dokumen ke provinsi hari Kamis. Jalan Ngepoh-Karangsari lagi jelek, kalau naik travel malam bisa kesasar."
Kalimat itu ringan, dilontarkan seperti basa-basi tentang cuaca. Tapi Wening merasa lantai di bawah kakinya sedikit bergeser. Hari Kamis. Tak ada yang menyebut hari Kamis kepada siapa pun di luar lima orang itu—bukan ke Camat, bukan ke siapa pun di kantor kecamatan.
Ia menjawab seadanya, mengucap terima kasih atas perhatiannya, dan mengantar Camat sampai ke pintu depan dengan senyum yang ia pertahankan susah payah. Begitu mobil dinas Camat berbelok di tikungan jalan raya, senyum itu lepas seketika, digantikan sesuatu yang lebih dingin.
Ia kembali ke ruang kerja, memanggil Bagas, Hendra, dan Parmin. Yuni sedang di Karangsari, mendata kasus baru; ia akan dipanggil kemudian.
"Camat tahu soal hari Kamis," kata Wening, tanpa basa-basi. "Kalian bertiga, siapa lagi yang tahu rencana itu selain yang duduk di ruangan ini semalam?"
Hendra menggeleng cepat, seperti orang yang tersinggung sebelum sempat berpikir. "Nggak ada. Aku bahkan belum cerita ke istri kakakku."
Parmin diam sebentar, matanya berpindah dari Wening ke Bagas, lalu kembali ke lantai. "Saya cuma nyetir, Bu. Nggak ikut rapat itu penuh—saya keluar sebentar buat isi bensin di jerigen."
"Kamu keluar berapa lama?"
"Lima belasan menit. Tapi saya nggak ngomong sama siapa-siapa."
Wening tak bermaksud menuduh, tapi pertanyaan itu keluar sebelum ia sempat menahannya, dan begitu keluar, ia melihat wajah Parmin berubah—bukan marah, melainkan terluka, seperti orang yang dituduh mencuri di rumah tempat ia bekerja bertahun-tahun. Ia menyesal secepat kalimat itu terucap, tapi kata-kata sudah jadi udara yang tak bisa ditarik kembali.
Bagas yang akhirnya bicara, suaranya berat. "Bukan salah Parmin. Saya yang mungkin jadi soalnya."
Ia menjelaskan: setiap Senin, sesuai protokol, Puskesmas wajib mengirim laporan mingguan ke Dinas Kesehatan Kabupaten—jadwal kegiatan, termasuk rencana pengiriman sampel dan dokumen ke provinsi, karena itu menyangkut anggaran transportasi dan rantai dingin yang harus disetujui dari atas. Laporan itu ia tulis sendiri, Sabtu malam, sebelum rapat lima orang itu bahkan digelar—tapi ia menambahkan jadwal Kamis begitu keputusan diambil, dan mengirimnya Minggu pagi lewat surel kantor.
"Siapa yang baca surel itu di Dinkes?" tanya Wening.
"Banyak yang bisa baca. Staf tata usaha, kepala bidang, kadang diteruskan ke sekretariat kecamatan kalau menyangkut koordinasi lintas instansi. Itu jalur resmi, Wening. Bukan sesuatu yang bisa saya sembunyikan—kalau saya sembunyikan, saya melanggar prosedur pelaporan, dan itu bisa jadi alasan lain buat mereka menyingkirkan saya dari struktur."
Untuk sesaat tak ada yang bicara. Wening menyadari sesuatu yang lebih menakutkan daripada satu pengkhianat bernama jelas: keretakan itu bukan satu orang dengan wajah dan motif yang bisa ia hadapi langsung, melainkan sebuah sistem yang dari awal dirancang agar setiap informasi penting harus melewati tangan-tangan yang tak sepenuhnya mereka percaya. Mereka bisa menutup mulut Parmin, menutup mulut Hendra, menjaga rapat tetap di ruangan ini—tapi selama laporan harus naik lewat jalur dinas, selalu ada celah yang bisa dibaca orang yang berpihak pada Camat, entah karena diminta, dibayar, atau sekadar ingin dianggap berjasa pada atasan.
"Kalau begitu," kata Wening pelan, "mulai sekarang, laporan resmi tetap jalan seperti biasa—tapi rencana yang sebenarnya, kita pisahkan. Yang tertulis di kertas dinas boleh umum saja, jadwal kabur, tanggal mundur beberapa hari dari yang asli. Yang benar, cuma kita berlima yang tahu, dari mulut ke mulut, tidak lewat surel, tidak lewat radio kantor."
Hendra mengangguk, tapi matanya masih menatap Parmin dengan cara yang menunjukkan ia belum sepenuhnya melepaskan kecurigaan yang sempat singgah di kepalanya sendiri. Wening melihat itu, dan merasa sesuatu yang lebih menyedihkan daripada bocornya satu tanggal: bagaimana tekanan dari luar, pelan-pelan, mulai menanam biji curiga di antara orang-orang yang selama ini saling percaya tanpa syarat.
"Parmin," katanya, mencoba memperbaiki apa yang sudah retak, "aku minta maaf sudah nanya kayak tadi. Bukan kamu yang aku curigai. Aku cuma takut."
Parmin tak menjawab segera. Ia mengambil kunci mobil dari saku, memutar-mutarnya di jari seperti kebiasaan lama. "Nggak apa-apa, Bu," katanya akhirnya. "Wajar takut, di zaman kayak gini." Tapi nada suaranya tetap datar, dan Wening tahu satu pertanyaan yang salah tempat tadi telah meninggalkan bekas yang tak akan hilang secepat permintaan maaf.
Malam itu, sebelum tidur, Wening berdiri di depan peta tiga warna yang tergantung di dinding Puskesmas, menghitung ulang berapa banyak orang yang perlu dipercaya agar peta itu berubah jadi tindakan nyata—Hendra, Parmin, Bagas, Yuni, dr. Larasati di kota provinsi, dan entah berapa orang lagi yang namanya tak pernah ia ketahui, tersembunyi di balik meja-meja di Dinas Kesehatan Kabupaten, menunggu kesempatan untuk melapor ke arah yang salah. Ia menyadari, dengan cara yang tak menyenangkan, bahwa memutus rantai wabah jauh lebih sederhana ketimbang memutus rantai kecurigaan yang kini mulai tumbuh di antara orang-orang yang seharusnya berdiri di sisi yang sama.