Rumah Pak Lurah Mraggen adalah satu-satunya rumah berlantai keramik di kampung itu, dengan tenda hajatan yang sisanya masih berdiri di halaman — terpal biru yang basah, kursi-kursi plastik yang ditumpuk, dan bekas panggung kecil yang belum dibongkar. Pak Lurah menerima Wening dengan kehangatan yang sedikit terlalu cepat, yang membuat Wening waspada. Orang yang terlalu cepat ramah biasanya punya sesuatu yang ingin dijaga.
"Pernikahan anak saya, ya, Bu," kata Pak Lurah, menuangkan teh. "Alhamdulillah ramai. Berkah. Banyak yang datang."
"Berapa banyak, kira-kira?"
Ia mengangkat bahu. "Lima ratus? Enam ratus? Kalau hajatan begini, siapa yang menghitung, Bu. Datang, makan, salam, pulang."
Di sanalah masalah Wening dimulai. Enam ratus orang adalah enam ratus jejak yang harus ia urai, dan tak satu pun dari mereka tahu mereka sedang dilacak, apalagi mengingat dengan presisi siapa duduk di mana dan makan apa. Tapi sebuah acara dengan ratusan tamu, tujuh hari sebelum gelombang sakit, di mana orang berkumpul rapat dan berbagi makanan dari sumber yang sama — itu adalah kandidat sempurna untuk sumber bersama yang ia lihat di gundukan pertama kurva. Acara semacam ini, di mana satu sumber bisa menulari banyak orang sekaligus, punya nama dalam dunianya: titik penyebaran luas. Kalau benar di sinilah penularan terjadi, maka memahami acara ini bisa menutup separuh teka-teki.
Wening mulai dengan metodis. Ia tidak bertanya "siapa yang sakit" — itu akan membuat orang menutup diri. Ia bertanya tentang acara itu sendiri. Siapa yang masak. Apa menunya. Dari mana daging dan airnya. Siapa yang menyembelih. Bersama Hendra dan Bu Tariah, ia menyusun daftar tamu dari beberapa sumber: buku tamu yang setengahnya tak terbaca karena kehujanan, ingatan Bu Lurah, dan — ini yang paling berharga — daftar undangan yang masih disimpan di ponsel anak Pak Lurah.
Selama dua hari ia mewawancarai puluhan tamu yang bisa ditemui. Ia menanyakan hal yang tampak remeh: kamu makan apa, duduk di tenda sebelah mana, minum dari galon yang dekat panggung atau yang dekat dapur, ke kamar mandi yang mana. Pertanyaan-pertanyaan kecil yang, ketika dijejer, bisa menunjukkan apakah orang yang sakit punya satu hal yang sama yang tidak dimiliki orang yang sehat.
Ingatan orang, ia tahu, adalah bahan bangunan yang rapuh. Seseorang bersumpah makan gulai; istrinya bersumpah ia makan soto; keduanya yakin. Seseorang lupa sama sekali pernah ke hajatan sampai Wening menyebut nama temannya yang juga datang. Data yang ia kumpulkan penuh lubang, dan ia mencatat tiap lubang itu dengan jujur, menahan godaan untuk menambalnya dengan tebakan. Kurva yang berbohong sudah cukup; ia tidak akan menambahkan kebohongan dari dirinya sendiri.
Menjelang hari kedua, sebuah pola mulai timbul, dan itu menggoda. Dari sembilan kasus yang berhasil ia tanyai atau yang keluarganya bisa ia tanyai, tujuh datang ke hajatan. Tujuh dari sembilan. Itu angka yang membuat jantung berdetak lebih cepat. Hajatan sebagai sumber bersama mulai terasa kokoh; ia bahkan mulai membayangkan jalurnya — daging yang kurang matang, air galon yang tercemar, seseorang yang menyembelih hewan sakit. Ia merasakan tarikan untuk menutup hipotesis ini, menulisnya di laporan, dan bergerak maju.
Dan justru di titik itulah ia memaksa dirinya berhenti. Karena ada dua kasus yang tidak datang ke hajatan.
Ia kembali ke catatannya, menelusuri keduanya lagi. Yang pertama adalah nenek tua di lereng, Mbah Karsiyem, yang dari pengakuan keluarganya tidak pernah turun dari kampungnya berbulan-bulan, apalagi ke hajatan di kampung lain. Yang kedua adalah Mbak Surti, ibu dua anak di Karangsari, yang menurut suaminya sedang menjaga adiknya yang melahirkan pada hari hajatan itu — ia tidak hadir, banyak yang menyaksikan ia di rumah sakit kecamatan hari itu.
Dua kasus. Tidak hadir. Sakit dengan gejala yang persis sama.
Wening duduk lama menatap dua nama itu. Inilah jenis temuan yang paling tidak disukai orang yang tergesa, dan paling dicintai oleh penyelidik yang baik: sebuah anomali. Satu fakta keras kepala yang menolak masuk ke dalam cerita yang nyaman. Kalau hajatan adalah satu-satunya sumber, dua orang ini tidak mungkin sakit. Tapi mereka sakit. Yang berarti hajatan, sekuat apa pun pola tujuh-dari-sembilan itu, tidak bisa menjadi seluruh jawabannya. Entah ada sumber kedua. Entah hajatan sama sekali bukan sumbernya, hanya tempat di mana banyak orang yang sudah tertular dari sumber lain kebetulan berkumpul — sebuah pertemuan, bukan penyebab.
Ia teringat penugasan pertamanya, bertahun lalu, ketika ia menemukan pola serapi ini dan, lelah serta tertekan, ia mempercayainya. Ia menutup hipotesis terlalu cepat. Dan satu sumber yang sesungguhnya tetap terbuka selama sembilan hari lagi, menelan orang-orang yang masih ia ingat namanya. Anomali seperti ini ada waktu itu juga, dan ia mengabaikannya karena terlalu mengganggu cerita yang sudah ia sukai.
Kali ini ia tidak akan mengulanginya. Ia menggarisbawahi dua nama itu — Mbah Karsiyem dan Surti — dan di sampingnya ia menulis satu pertanyaan yang akan menentukan ke mana penyelidikan ini bergerak selanjutnya: apa yang dimiliki dua orang ini, dan tujuh yang lain, yang sama-sama mereka miliki, di luar hajatan?
Hendra menemukannya masih menatap kertas itu menjelang tengah malam. "Bu, hajatannya kan sudah jelas. Tujuh dari sembilan."
"Tujuh dari sembilan bukan sembilan dari sembilan," jawab Wening pelan. "Dan dua yang tersisa itulah yang akan memberi tahu kita kebenarannya. Bukan yang tujuh." Ia menatap Hendra. "Besok kita ke Karangsari. Ke rumah Surti. Saya mau tahu, dari mana keluarga itu mengambil air."