Hujan turun seperti dijatuhkan dari ember raksasa ketika mobil dinas itu merangkak masuk ke Mraggen. Wening Pradipta menatap kaca depan yang berair, mencoba mengingat berapa kali dalam sepuluh tahun terakhir ia tiba di sebuah tempat saat langit sedang sebusuk ini. Banyak. Penyakit punya selera buruk pada cuaca. Ia memangku ranselnya — di dalamnya bukan stetoskop, melainkan map plastik, kuesioner yang difotokopi terburu-buru, sekotak sarung tangan, dan laptop tua yang baterainya tinggal separuh.
"Masih jauh, Bu?" tanyanya pada sopir, lelaki kurus bernama Parmin yang menyetir dengan kedua tangan menggenggam kemudi terlalu erat.
"Puskesmas di balik bukit itu. Lima belas menit kalau jalannya belum longsor." Parmin menunjuk dengan dagunya. "Kalau longsor, ya, dua jam muter."
Wening tidak menjawab. Ia membuka kembali pesan yang membuatnya terbang dari ibu kota provinsi tadi pagi, meninggalkan kopi yang belum diminum di meja kantor surveilans. Empat kematian dalam tujuh hari. Satu kecamatan. Gejala mirip: demam tinggi tiga sampai lima hari, lalu mimisan, gusi berdarah, dan dalam dua hari berikutnya organ-organ menyerah satu per satu seperti lampu yang padam berurutan. Tidak ada diagnosis. Tidak ada nama untuk penyakit ini. Hanya empat nama untuk yang mati.
Itulah yang membuat tengkuknya dingin. Bukan kengeriannya — ia sudah lama kebal pada bau formalin dan kantong jenazah. Yang membuatnya gelisah adalah kekosongan di kolom diagnosis. Penyakit tanpa nama berarti rantai penularan yang belum dipetakan, dan rantai yang belum dipetakan masih hidup, masih bergerak, masih mencari orang berikutnya sementara ia duduk di mobil ini.
Puskesmas Mraggen ternyata bangunan satu lantai bercat hijau yang catnya mengelupas di sudut-sudutnya. Lampu di teras berkedip karena listrik byar-pet. Begitu Wening turun, payung yang dipegangkan padanya langsung kalah oleh angin, dan ia berlari kecil ke beranda dengan rambut basah menempel di pipi.
Seorang lelaki menyongsongnya. Umurnya mungkin akhir empat puluhan, kemeja dinasnya lecek, dan ada kantong gelap menggantung di bawah matanya yang menandakan ia tidak tidur cukup selama beberapa malam.
"Bu Wening? Saya Hendra. Petugas surveilans di sini." Ia menjabat tangan Wening, telapaknya kering dan kapalan. "Terima kasih sudah datang secepat ini. Kami... terus terang, kami kewalahan."
Dari balik pintu, Wening bisa melihat ruang tunggu yang penuh. Ibu-ibu menggendong anak. Seorang kakek terbatuk ke dalam sarungnya. Bau keringat, minyak kayu putih, dan ketakutan yang lembap. Ketakutan punya bau, dan Wening sudah mengenalinya bertahun-tahun lalu.
"Ceritakan dari awal," kata Wening, sambil mengeluarkan buku catatan. Bukan basa-basi. Setiap menit yang habis untuk basa-basi adalah menit yang dipakai penyakit untuk berpindah.
Hendra mengajaknya masuk ke ruang kerjanya yang sempit, diterangi satu lampu neon yang separuh mati. Ia membentangkan empat lembar rekam medis di meja. "Yang pertama, Bu Sari Darto. Lima puluh dua tahun. Petani. Demam Sabtu dua pekan lalu, meninggal Kamis. Lalu Mbak Surti, tiga puluh, anaknya dua. Lalu Pak Kasdi. Lalu Ningsih, baru sembilan belas tahun." Suaranya tercekat sedikit di nama terakhir. "Saya kenal Ningsih, Bu. Dia kader posyandu dulu waktu remaja."
Wening membaca cepat, jarinya menyusuri tanggal-tanggal. Otaknya tidak membaca seperti dokter klinis yang mencari obat. Ia membaca seperti pemburu yang mencari jejak: kapan persisnya tiap orang mulai demam, di mana mereka tinggal, apa yang mereka kerjakan, siapa yang mereka temui. Orang. Tempat. Waktu. Tiga pertanyaan tua yang sudah ia ulang ribuan kali sampai jadi semacam doa.
"Mereka kenal satu sama lain?" tanya Wening.
Hendra mengangkat bahu, lelah. "Mraggen kampung kecil, Bu. Semua kenal semua. Tapi rumahnya tersebar. Darto di Ngepoh, Surti di Karangsari, ini dekat sini, Kasdi di..." ia menunjuk peta lusuh yang tertempel di dinding, "...di sini, di lereng. Ningsih malah di kampung sebelah."
Wening berdiri dan mendekati peta itu. Empat titik. Tersebar. Itu bagus dan buruk sekaligus. Buruk karena artinya penyebab belum jelas. Bagus karena penyakit yang tersebar punya pola, dan pola bisa dibaca kalau kau cukup keras kepala untuk tidak menebak terlalu cepat.
"Kepala puskesmas?" tanyanya.
"Dokter Bagas. Beliau... begini, Bu." Hendra menurunkan suaranya, melirik ke pintu. "Beliau khawatir kalau ini dibesar-besarkan. Pasar hari pasaran besok lusa, banyak orang dari luar datang. Kalau tersiar kabar wabah, ekonomi sini bisa lumpuh. Jadi beliau minta kita... pelan-pelan."
Wening tidak menjawab. Ia sudah pernah mendengar kalimat semacam itu. Pelan-pelan. Jangan dibesar-besarkan. Tunggu data lebih pasti. Kalimat-kalimat itu, ia tahu dari pengalaman yang masih terasa perih, adalah kalimat yang menulis nama untuk nisan kelima.
Seolah dipanggil oleh pikirannya, pintu ruang kerja terbuka. Seorang perawat muda, wajahnya pucat, menyodorkan map baru.
"Pak Hendra. Yang dari Ngepoh tadi. Suaminya Bu Darto."
Hendra mengambil map itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Membukanya. Membacanya. Lalu menatap Wening, dan dalam tatapan itu Wening membaca segalanya sebelum lelaki itu mengucapkannya.
"Demam empat hari," kata Hendra pelan. "Mimisan dari kemarin. Dia... dia datang sendiri, jalan kaki dari Ngepoh. Sekarang dia di ruang belakang."
Wening menutup buku catatannya. Empat nisan dalam sepekan, dan di ruang belakang puskesmas yang berkedip-kedip ini, dengan tangannya sendiri masih basah oleh hujan, kasus kelima baru saja berjalan masuk ke dalam ceritanya. Penyakit ini belum punya nama. Tapi sekarang ia punya saksi yang masih bernapas — dan napas itu, Wening tahu, sedang berpacu dengan waktu yang tak pernah berhenti berdetak.