Bel pintu berbunyi pukul sepuluh. Faris Adinata di foyer dengan bunga putih dan senyum belasungkawa yang terlalu pas. Jaket rapi. Mata mengitari rumah — mengintip tanpa malu. Naufal di belakang tiang, kamera foyer on. Damar tidak ulurkan tangan. Anisa berdiri dua langkah di belakang Damar, baju biasa, wajah guru mode.
'Silakan duduk. Bicara. Jangan sentuh apa pun yang bukan milikmu,' kata Damar datar.
Faris tertawa kecil. 'Damar, kaku sekali. Aku datang karena Dita. Kita semua kehilangan. Om bilang kau diguncang isu. Aku cuma mau bilang: aku ada. Kalau istri…' Matanya ke Anisa, manis palsu. 'Bu, maaf spekulasi buruk. Kau kuat ya.'
Anisa tidak duduk dekat. 'Saya kuat. Saya juga punya telinga. Nada Anda… seperti orang yang takut rumah ini punya rekaman. Belasungkawa biasanya tidak mengukur jarak ke koridor.'
Faris kaku sepersekian. Senyum kembali. 'Paranoid. Wajar. Media kejam.'
Naufal masuk dengan teh yang tidak diminta Faris — taruh jauh. 'Tuan Faris, plat motor Anda malam usik Salsa sudah kami cocokkan. Mau lanjut belasungkawa atau mau diam?'
Faris berdiri. Bunga jatuh ke meja. 'Fitnah. Om akan telepon. Damar — jangan bipikir oleh perempuan itu. Dia pintar main korban.'
Damar melangkah satu, tidak pukul. 'Keluar. Belasungkawa selesai. Kalau kau dekat Dita — bilang di ruang yang benar, bukan di foyer dengan bunga tipu. Keluar.'
Faris pergi. Di pagar ia menoleh, senyum tipis ke Anisa — ancaman tanpa kata. Anisa tidak melambai. Pintu.
Damar napas. 'Nada bohong. Kau kenali.'
'Saya kenali,' kata Anisa. 'Dia mengintip jalur. Dia takut. Lembar dua puluh empat: Faris belasungkawa palsu. Kamera foyer. Jangan pukul di pintu — skor. Kerja lanjut.'
Naufal: 'Om akan marah dalam sejam. Board akan bisik. Faris panik = foto jebakan mungkin menyusul. Siap.'
Ibu telepon Damar. 'Dia datang? Aku tidak mau lihat mukanya di rumah.' Damar: 'Sudah pergi. Kami tidak saji teh.' Ibu: 'Bagus.' Tutup.
Salsa dapat chat Anisa: `Faris datang tipu. Aku kenali bohong. Dia usik mata ke koridor.` Salsa: `Naikkan waspada. Jangan sendirian.` Malam Damar di sticky: *FARIS FOYER. BOHONG. JANGAN PUKUL — JERAT.* Anisa di map menambah sketsa wajah senyum palsu. Sekutu paksa menang skor kecil tanpa darah di karpet. Faris sudah masuk rumah dengan mengintip; berikutnya ia akan menyerang dari layar — lebih pengecut, lebih luas. Anisa tidur dengan keputusan nama bersih yang tidak goyah oleh bunga putih. Damar tidur dengan tangan yang tidak memukul — otot baru kedua setelah mendengar.
Pagi Chandra sudah marah di inbox: Adinata “kecewa kunjungan tidak ramah”. Damar balas satu baris: *Privasi keluarga. Titik.* Naufal: 'Lo bagus. Faris akan main kotor. Anisa — jangan buka link aneh.' Anisa: 'Hafal. Saya maju. Saya tidak klik jebakan.' Mengintip foyer selesai; perang pindah ke foto yang belum lahir — dan Naufal sudah memasang telinga di tempat Faris biasa membeli editing murah.
Setelah Faris pergi Anisa cuci tangan di dapur — ritual buang senyum palsu. Damar berdiri di ambang. 'Dia mengukur jarak ke brankas tanpa tahu di mana. Mengintip. Aku hampir pukul saat dia sebut “main korban”.' Anisa: 'Hampir = skor. Pukul = Om menang headline. Rem.' Damar angguk. Naufal unggah cuplikan foyer ke drive terenkripsi. 'Bunga putih di meja — jangan dibuang dulu; barang bukti teater. Foto. Lalu buang.' Anisa foto, lalu buang bunga ke sampah luar. 'Belasungkawa ke tempatnya.'
Salsa video-call. 'Mukanya?' Anisa: 'Senyum pantai di foyer. Bohong. Mengusik mata.' Salsa: 'Aku kunci kos. Jangan kau yang kejar.' Malam Damar latihan pertanyaan untuk ruang tertutup nanti — di kertas, bukan ke Faris langsung. Anisa koreksi satu pertanyaan yang terlalu emosional. 'Sekutu mengedit. Bukan istri merayu.' Damar terima edit. Sticky tambahan: *FOYER = MENGINTIP. REKAM. JANGAN PUKUL.* Ibu tidak datang; lebih aman. Rumah setelah tamu tipu terasa kotor di udara — dibersihkan dengan kerja, bukan dengan dupa. Faris sudah melihat terlalu banyak; berikutnya ia akan mencoba membutakan publik dengan gambar. Sekutu paksa sudah siap mata.
Siang Om telepon Damar — ditolak dua kali, diangkat ketiga dengan speaker Naufal. 'Kunjungan Faris tidak sopan,' kata Om. Damar: 'Belasungkawa tipu tidak sopan. Invoice lab lebih tidak sopan. Sampai jumpa di jalur legal.' Tutup. Anisa dengar dari pintu. 'Dingin. Bagus.' Damar: 'Dia menguji. Kita tidak saji teh. Skor foyer.' Naufal mirror chat Bimo: Faris marah, minta “foto cepat”. 'Jebakan incoming. Siap.' Anisa ke map. Damar ke legal standby. Mengintip sudah; peluru gambar antre. Rumah tidak tidur nyenyak — waspada lebih berharga dari nyenyak.
Sore Anisa latihan lagi kenali nada bohong — rekaman foyer diputar Naufal sekali. 'Dia bilang “paranoid” terlalu cepat,' kata Anisa. 'Orang belasungkawa jarang menyerang kata itu.' Damar: 'Catat. Pakai di ruang tertutup nanti.' Pembantu bersihkan foyer; Anisa minta jangan usap meja bunga sebelum foto barang bukti selesai — sudah selesai. Rumah kembali bersih secara fisik. Secara perang, kotoran Faris masih menempel di jadwal. Naufal: 'Jebakan foto 12 jam window. Lo berdua standby. Jangan klik link SMS.' Anisa matikan preview SMS. Damar juga. Mengintip foyer sudah jadi arsip; peluru berikutnya digital. Sekutu yang siap mata lebih sulit digertak bunga putih.