Bedah Faris bukan sekadar nama di guest list — itu sudah mereka tahu. Hari ini: folder foto, check-in klub, sisa metadata, dan satu video pendek dari story teman yang belum dihapus algoritma. Naufal memutar di ruang meeting kecil kantor; Damar saja dulu. Anisa dapat ringkas sore di rumah — antrean bom.
Di layar: Faris Adinata tersenyum di pesta. Di belakang frame, rambut Dita — Naufal blur wajah untuk present ke orang lain; untuk Damar, tidak di-blur. Damar mengepal sampai kuku putih. 'Dia… dekat.'
'Guest list sama. Foto angle sama. Chat yang saya pulihkan sebagian dari cloud teman Dita yang kooperatif diam-diam: Faris bilang “nanti pulang bareng” malam itu,' kata Naufal. 'Belum pengakuan tabrakan. Sudah bohong besar kalau orang bilang Faris tidak terkait malam itu. Lo selama ini menikahi Anisa. Faris selama ini senyum di acara lo.'
Damar mematikan layar. 'Panggil dia.'
'Tidak hari ini,' kata Naufal. 'Om sedang mencari alasan telepon lo. Faris dipanggil kasar = Om waspada total. Kita kunci Bimo dulu sebagai kurir yang takut. Faris — mata dan jerat. Lo pulang bilang ke Anisa: Faris bukan nama di kertas; Faris orang yang mungkin mengemudi di empat menit kosong.'
Damar pulang dengan muka yang membuat staf menghindar. Di ruang tamu Anisa sudah siap map. 'Ringkas.'
'Faris ada di pesta dengan Dita. Ada chat pulang bareng. Ada foto,' kata Damar serak. 'Aku belum punya film dia menabrak. Aku punya cukup untuk tidak lagi menaruh seluruh neraka di pundakmu. Aku masih belum bilang kau bersih seperti surat suci. Aku bilang Faris masuk pusat. Kau — jangan hadapi dia. Dia berbahaya dengan senyum.'
Anisa menelan. 'Saya kambing. Dia mungkin pengemudi. Om membayar lab. Bimo mengantar dusta ke Anda. Peta itu… membuat saya marah dan lega sekaligus. Lega bukan menang. Lega: altar saya tidak sendirian lagi.'
Damar mengangguk kaku. 'Salsa hanya prinsip. Ibu belum. Board belum. Faris belum tahu kita tahu — semoga.'
Naufal chat: *Bimo goyah. Mau bilang “saya hanya antar”. Besok. Faris posting pantai — terlalu santai. Mata on.* Damar: *Jangan lepas mata.*
Malam Anisa di taman 15 menit, laporkan. Ia bilang ke angin, 'Faris.' Nama itu terasa seperti orang yang mencuri hidupnya lalu tersenyum di majalah. Chat Salsa: `Pusat bergeser ke nama pesta. Aku tidak kejar sendiri.` Salsa: `Jangan. Faris tipe yang hancurkan saksi.`
Damar di depan foto Dita lebih lama. 'Kau tidak bilang soal Faris. Aku marah. Aku juga… mengerti takut.' Ia tidak bilang ke Ibu. Rahasia adik menempel di lidah seperti darah. Besok rahasia itu akan lebih jelas — dan lebih sakit. Sticky: *FARIS PUSAT. ANISA JANGAN HADAP. BIMO DULU.* Anisa di catatan: *lembar 17 — Faris pusat. Damar retak lagi. tinggal. jangan detektif.* Di kota Faris tersenyum di pantai. Di mansion dua orang menyusun perang ke arah senyum itu — tanpa sempat membenci seluruh dunia, hanya satu nama yang makin tajam.
Anisa minta lihat satu foto Faris tanpa Dita — Naufal setuju lewat Damar; zona hormati. Wajah Faris di layar HP: senyum mudah, mata kosong. Anisa: 'Saya pernah lihat muka seperti ini di orang tua murid yang pandai tipu rapor. Saya tidak hadapi. Saya catat.' Damar ambil HP kembali. 'Cukup. Jangan scroll sosmednya — jejak digital.'
Salsa malam: `Nama pusat?` Anisa: `Pria pesta. Jangan sebut di WA guru.` Salsa: `Hafal. Aku naikkan kewaspadaan kos — kalau dia usik orang dekatmu, aku kabari.`
Damar latihan tidak menelepon Faris. Empat kali buka kontak — tutup. Naufal: *Bagus. Jerat dulu.* Di ruang kerja Damar tulis di kertas, bukan sticky: *Faris mungkin pembunuh adikku. Anisa mungkin bukan. Aku mungkin algojo salah.* Lipat, masuk laci. Tidak ke Ibu. Tidak ke board. Malam di koridor: 'Faris masuk pusat. Kau tetap map. Saya jelek ke kau terlalu lama.' Anisa: 'Jelek dicatat. Pusat dicatat. Tidur sebelum Om membaca wajah Anda di berita.' Damar hampir bilang *terima kasih tinggal* — ditahan. Kerja lebih penting dari sopan yang membingungkan altar.
Pagi Naufal taruh print guest list di meja Damar dengan highlighter pada dua nama: Dita, Faris. 'Lo hafal. Jangan hafal dengan pukul. Hafal dengan jerat.' Damar: 'Anisa sudah dapat ringkas. Ibu belum. Board belum.' Naufal: 'Pertahankan urutan. Faris yang sombong di pantai — saya panen lokasi. Jangan lo datang dengan amarah mentah.' Di rumah Anisa menambah sketsa peta perang: Om–lab–Bimo–Faris–Rudi. Guru membuat diagram. Damar pulang lihat diagram, diam lama. 'Rapi. Menyeramkan. Bagus.' Anisa: 'Diagram bukan vonis. Vonis nanti. Sekarang pusat.' Faris sebagai pusat sudah tertulis; mengejarnya tanpa merusak sisa bukti adalah pekerjaan rem — dan Damar, untuk pertama kali, lebih mau mendengar rem daripada dendam mentah.
Sore Anisa ke unit Harto sebentar bersama Naufal — laporkan, tidak sendirian. 'Pusat bergeser,' kata Anisa ke lansia itu tanpa nama Faris. 'Bapak tetap hidup. Jangan telepon gelap.' Pak Harto angguk. 'Yang ngebut — kejar. Saya sudah bilang.' Di mobil balik Damar telepon: 'Kalian di mana?' Naufal: 'Harto. Aman. Lo jangan panik posesif.' Damar: 'Lapor saja.' Panik posesif dicatat Anisa sebagai cuaca lama; pusat Faris lebih penting. Malam diagram di meja ditutup. Perang punya wajah pemuda di pantai — dan wajah itu tidak akan selamanya santai.