'Kamu pernah datang ke toko Abah sebelum bekerja di sana?'
Abi menghentikan sendoknya. Inara masih memandang wajahnya, bukan piring rujak yang sejak tadi menjadi alasan mereka terjaga. Pertanyaan itu muncul setelah perempuan tersebut beberapa kali mengamati caranya merapikan sisi meja.
'Pernah membeli kain,' jawabnya. 'Sudah lama.'
'Untuk siapa?'
'Husna. Waktu dia diterima kuliah di UGM.'
Inara menyandarkan punggung perlahan. Nama kampus itu membuat ingatannya bergerak lebih jelas. Seorang lelaki datang mencari bahan gamis untuk adiknya, tidak langsung memilih yang ditawarkan pertama, lalu bertanya apakah kainnya nyaman dipakai untuk kegiatan sehari-hari.
'Tiga tahun lalu?'
Abi mengangguk. Ia kini memperhatikan Inara dengan keheranan yang sama.
'Kenapa?'
'Aku yang melayanimu.'
Lelaki itu memandangnya lebih lama. Ia mengingat seorang perempuan yang membantu memilih warna dan bertanya tentang ukuran. Ia pernah memikirkan wajah itu ketika kembali bertemu Inara, tetapi berbagai urusan mendesak setelahnya membuat ingatan tersebut terus berada di belakang hal-hal lain.
'Yang menanyakan adikku suka warna apa?'
'Kamu bilang tidak tahu harus memilih yang mana. Lalu kamu bertanya berapa banyak kain yang diperlukan supaya tidak kurang.'
Abi tersenyum, kali ini lebih lepas daripada ketika bercakap di meja keluarga. Ia memang ingat kekhawatiran itu. Uangnya terbatas dan ia tidak ingin pulang membawa hadiah yang justru memerlukan pembelian tambahan sebelum dapat dipakai.
'Aku tidak biasa membeli kain untuk dibuat baju. Biasanya Ibu yang tahu.'
'Tapi waktu itu kamu tetap datang sendiri.'
'Aku ingin memberi kejutan kepada Husna.'
Inara menunduk pada piring. Dulu pernyataan sederhana itu membuat ia melayani pembelian dengan lebih sabar. Kini ia duduk bersama orang yang sama di dapur rumahnya, setelah mengenal jauh lebih banyak bagian hidupnya daripada nama seorang pelanggan.
'Kamu juga bertanya apakah kainnya mudah dirawat,' katanya.
'Kalau terlalu merepotkan, mungkin hadiahnya malah membuat Ibu banyak pekerjaan.'
Jawaban tersebut membuat Inara tertawa pelan. Abi ikut tersenyum, lalu meraih gelas. Percakapan tentang toko terasa lebih mudah dibandingkan percakapan mereka tentang perjanjian. Mereka masih mengingat pertanyaan yang pernah diajukan dan jawaban yang diberikan, bahkan bagian canggung ketika Abi tidak tahu ukuran kain yang perlu dibeli.
'Aku memberi tambahan kancing waktu itu,' ucap Inara. 'Kamu ingat?'
'Ingat. Aku sempat bertanya apakah harus dibayar lagi.'
'Dan aku bilang itu bonus.'
'Aku kira salah dengar. Karena aku sudah menghitung uangnya sejak sebelum berangkat.'
Inara mengangkat wajah. Ia tidak pernah tahu sedetail itu apa yang dipikirkan lelaki tersebut ketika menerima bungkusan. Baginya waktu itu, membantu pelanggan menyelesaikan pilihan merupakan pekerjaan yang dilakukan sebelum giliran orang berikutnya datang. Bagi Abi, rupanya ada hal yang terus diingat.
'Husna suka hadiahnya?'
'Suka. Dia lebih sibuk bertanya bagaimana aku bisa memilih daripada melihatku yang sudah bangga membawa pulang.'
'Dia tahu kamu datang ke toko kami?'
'Tahu aku ke Pasar Raya. Waktu itu aku belum mengenal nama orang yang melayani sebaik sekarang.'
'Kalau kamu datang lagi besoknya, mungkin aku sudah lupa wajahmu,' Inara mengaku.
'Tidak apa-apa. Aku membeli kain, bukan meminta diingat.'
Inara memandang Abi dan tersenyum sebelum menunduk. Ada kelegaan kecil mendengar pengakuan itu diterima tanpa harus ditambal dengan cerita yang lebih manis. Mereka memang bukan dua orang yang sudah mempunyai janji tersembunyi sejak pertemuan pertama. Mereka pernah saling membantu dalam urusan sederhana, lalu pulang membawa kehidupan masing-masing.
Kini ia bertanya-tanya bagaimana jadinya jika beberapa persoalan dapat dibicarakan sesederhana memilih kain: menyebut yang diperlukan, mendengar pilihan, dan mengatakan belum tahu tanpa merasa harus segera memenangkan pendapat sendiri. Ia tidak menyampaikan pikiran itu, hanya mengambil minum dan memberi Abi kesempatan melanjutkan ceritanya.
Inara tertawa lagi, kemudian menutup mulut karena sadar rumah sudah sepi. Abi mengurangi suaranya ketika menceritakan bagaimana ia mengakui bahwa ada orang toko yang membantu. Ia tidak pernah mengklaim mengetahui semua ukuran atau memilih warna tanpa bertanya.
'Jadi kamu sudah biasa meminta bantuan sejak dulu,' ujar Inara.
'Untuk kain, iya. Untuk yang lain kadang masih lupa.'
Inara memandangnya, mendengar pengakuan kecil itu tanpa langsung mengubahnya menjadi nasihat. Ia mengambil satu potong buah dan mengunyah perlahan. Rujak yang diminta sudah berada di hadapannya, tetapi percakapan tentang masa lalu membuat ia melupakan rasa yang tadi dipertimbangkan dengan begitu sungguh-sungguh.
'Waktu kamu pertama datang ke rumah,' katanya, 'aku tidak langsung mengingat semuanya.'
'Aku juga. Rasanya pernah melihat, tapi tidak yakin.'
'Sekarang kamu yakin?'
'Sekarang kita sudah saling menceritakan percakapannya. Sepertinya tidak banyak orang yang mengingat soal bonus kancing untuk adik yang baru diterima kuliah.'
Inara mengangguk dan tersenyum kecil. Ia ingat bunyi kain yang dibentangkan di meja, letak bungkusan ketika diserahkan, serta lelaki yang berkali-kali memastikan hadiahnya sudah cukup. Dahulu ia kembali melayani orang berikutnya sesudah pembelian itu selesai. Sekarang orang yang pernah dilayaninya masih duduk di hadapan, menunggu ia meneruskan cerita.
Abi menyelesaikan bagiannya lebih dahulu. Ia tidak segera bangkit karena Inara masih makan sedikit. Ia bertanya apakah rasanya sekarang sudah sesuai, dan perempuan itu mengatakan ia tidak perlu lagi menambahkan bumbu.
'Kalau tadi aku tidak bertanya soal toko, mungkin sampai selesai makan kita masih saling menebak,' kata Inara.
'Kadang ingatan perlu ditanya juga.'
Inara memutar gelas di tempatnya. Ia hendak menyahut, lalu berhenti karena ucapan itu terasa dapat dipakai untuk lebih banyak hal daripada pertemuan lama mereka. Ia belum siap membawa percakapan ke sana.
Abi tidak mendesak. Ia memindahkan alat yang sudah tidak digunakan ke dekat bak cuci, kemudian kembali memberi ruang di meja. Inara mengambil potong buah terakhir yang diinginkan dan mengatakan cukup. Ia tidak memaksakan seluruh isi piring habis hanya karena telah meminta dibuatkan.
'Sisanya bisa disimpan dengan benar?' tanyanya.
'Bisa kita pisahkan yang belum dicampur. Yang ini kita bereskan dulu.'
Mereka mulai mengumpulkan piring dari satu kali makan itu. Di antara bunyi kecil alat yang dipindahkan, Inara memperhatikan Abi mengangkat gelas tanpa menggesernya terlalu dekat ke tangannya. Wajah yang dahulu hanya milik seorang pelanggan kini tidak lagi terasa sepenuhnya asing, meskipun kehidupan yang mengikat mereka masih jauh dari sederhana.